
Malam ini Fitri gelisah, dia harus tidur tanpa suami di sisinya, rasanya hatinya begitu hampa dan gundah gulana.
Sejak dia melihat Keyla, entah mengapa perasaannya jadi tak menentu, entah firasat apa, tapi dia merasa Keyla adalah sosok wanita yang mengagumi Dicky secara diam-diam, terbukti dengan dia selalu mengikuti Dicky di media sosial.
Padahal Fitri sendiri pun jarang membuka akun media sosial milik suaminya itu, bukan apa-apa, banyak sekali di luar sana wanita yang memuja suaminya itu, seorang Dokter tampan yang di kenal murah hati. Fitri takut cemburu.
Fitri keluar dari kamarnya, perlahan dia berjalan menuruni tangga menuju ke lantai bawah, sekilas dia menoleh ke bekas kamar Pak Bram, kamar itu sudah di pugar menjadi ruang perpustakaan dan ruang permainan anak-anak.
Bu Anjani banyak sekali membeli mainan anak-anak untuk Alex, ada ayunan, seluncuran, kolam bola, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sekarang Alex yang menjadi raja di rumah ini, apapun di belikan Bu Anjani, semua pakaian dan barang-barang Alex bagus-bagus dan bermerek.
Di bawah, di ruang keluarga, Bu Anjani nampak sedang bermain dengan Alex, dan Alex kelihatannya juga sangat nyaman dengan Bu Anjani.
Dina dan Dara juga sedang mengerjakan tugas dari sekolah, Fitri lalu mendekati Dina dan Dara.
"Kalian sedang mengerjakan apa?" tanya Fitri.
"PR Ma!" sahut Dina.
"Ooh, kalau ada kesulitan jangan sungkan bertanya pada Mama ya, nanti Mama bantu!" tawar Fitri.
"Iya Ma, tapi ini sudah mau selesai!" ujar Dara sambil menunjukkan bukunya pada Fitri.
"Wah, kalian anak-anak yang pintar, setelah ini kalian siap-siap tidur ya, tuh sudah jam sembilan!" kata Fitri sambil menunjuk jam di dinding.
Setelah terbongkarnya kejahatan Bu Arini dan Pak Bram, kini mereka tidak lagi tidur cepat, mereka kembali ke siklus yang normal. Ternyata selama ini, Bu Arini sengaja menaruh obat tidur di makan malam, supaya bisa leluasa mengambil harta Karun yang ada di rumah ini tanpa diketahui siapapun.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Dina dan Dara nampak membereskan bukunya dan kembali masuk ke kamar mereka.
Kemudian Fitri mendekati Bu Anjani yang masih menggendong Alex, Alex nampak tertidur dalam pangkuan Bu Anjani.
"Bu, sini biar Alex aku pindahkan di kamar!' kata Bu Anjani.
"Fit, apakah kamu masih punya persediaan ASI di botol?" tanya Bu Anjani.
"Masih Bu, ada di freezer, memangnya kenapa ya Bu?" tanya Fitri.
"Malam ini biar Alex tidur bersama Ibu, Ibu masih kangen sama Alex, tidak apa-apa kan Fit?" tanya Bu Anjani balik.
__ADS_1
"Oh, Ti-tidak apa-apa Bu!" jawab Fitri.
"Kalau begitu kau kembalilah ke kamarmu, biarkan Alex bersama Ibu, nanti Ibu akan suruh Mbok Jum untuk menyiapkan susu Alex!" ujar Bu Anjani.
"Baik Bu!" sahut Fitri.
Dengan berat hati Fitri melangkah kembali menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Dalam hati sebenarnya Fitri berat melepaskan Alex, apalagi belakangan dia sering bolak-balik ke rumah sakit dan menitipkan Alex pada Bi Sumi.
Kini setelah Fitri ingin bersama Alex, Bu Anjani juga ingin tidur dengan Alex, namun Fitri tetap harus patuh pada mertuanya itu, dia berpikir bukan hal yang buruk memberikan kesempatan seorang Oma dekat dengan cucunya.
Setelah sampai di kamarnya, Fitri kembali gelisah, kamar ini kelihatan begitu sunyi dan sepi, biasanya ada Dicky dan Alex yang bisa di ajaknya bicara dan bercanda.
Namun malam ini Fitri harus melewatinya sendirian, tanpa adanya suami dan anak yang menemaninya.
Tanpa sadar, ada yang menetes di sudut mata Fitri, hatinya begitu sedih malam ini, apalagi dia tau, Keyla dan Ken ada bersama dengan Dicky, walaupun ada Bu Eni Ibunya, tetap saja perasaan tidak tenang terus menggelayutinya.
Fitri memandang ponselnya, ingin sekali dia menelepon Dicky suaminya, tapi dia juga tidak ingin mengganggu tidur suaminya itu, apalagi Dicky masih sakit.
"Selamat tidur Mas Dicky, mimpi yang indah ya, aku sayang sama Mas Dicky, cepat pulang ya Mas!" gumam Fitri sambil mengusap air matanya.
****
Di kamar itu, ada bed tambahan yang di berikan oleh suster, ada Keyla dan Ken yang masih asyik mengobrol, sementara Bu Eni masih asyik menonton sinetron kesayangannya.
Sebenarnya Dicky risih dengan kehadiran dua orang yang terasa asing baginya, tapi dia harus menerima kenyataan bahwa mereka adalah saudara-saudaranya, walaupun baru saja di kenalnya.
"Ehm, Dicky, kau belum tidur? Apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Keyla yang tiba-tiba datang mendekati Dicky.
"Tidak Trimakasih!" tolak Dicky.
"Kau jangan sungkan padaku Dicky, selama ini aku cukup akrab dengan Ibumu, keluargaku dan keluargamu bersahabat dekat sejak dulu!" ujar Keyla.
"Aku sudah tau, tapi apa orangtuamu tidak marah kau ada di sini, apalagi kau ini perempuan, tidak baik menunggu seorang laki-laki, apalagi sudah beristri!" sahut Dicky.
"Kau ini naif sekali Dicky, menyebalkan!" sungut Keyla.
Ken kemudian berjalan mendekati mereka.
__ADS_1
"Wah, kalian sedang mengobrol apa? Serius sekali kelihatannya!" tanya Ken.
"Bagaimana kuliahmu di Jepang Ken?" tanya Dicky balik.
"Aku sebentar lagi sudah mau wisuda Bang, semuanya beres!" sahut Ken.
"Baguslah, Ken, katanya kau punya pacar di Indonesia, apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya Dicky.
"Sebenarnya malam ini aku janjian Bang ketemu Dinda, tapi gara-gara kak Keyla nih yang minta aku buat menemani kalian!" sahut Ken.
"Aku tidak butuh teman, lagi pula sudah ada mertuaku yang menungguiku dan menjagaku, jadi buat apa kalian di sini?" tukas Dicky.
"Jadi, kau mengusirku Dicky? Hmm, tega sekali!" keluh Keyla.
"Wanita yang masih sendiri itu lebih baik tinggal dengan keluarganya dari pada dengan orang lain!" cetus Dicky.
"Tapi kita kan bukan orang lain! Iya kan Ken? Aku dan Ken saja bisa kompak kalau bertemu, pasti selalu jalan bareng!" ujar Keyla.
"Bang Dicky benar Kak, kalau kakak mau, aku bisa antar Kak Keyla pulang ke rumah!" kata Ken.
"Tidak, aku masih mau di sini menunggu Dicky, kalau kau mau pulang, kau pulang saja sendiri Ken!" cetus Keyla.
Tiba-tiba Bu Eni datang menghampiri mereka karena sinetron yang dia tonton sedang iklan.
"Hei, di larang menganggu pasien saat jam istirahat!" cetus Bu Eni.
"Siapa yang mengganggu Bu, kita kan cuma ngobrol!" sahut Keyla.
"Ini bukan jamnya ngobrol, ayo, kembali ke tempat kalian! Atau Ibu semprot pakai obat nyamuk!" sengit Bu Eni.
"Ibu apaan sih! Norak!!" sungut Keyla kesal.
"Biarin norak! Yang penting mantuku aman terkendali!" jawab Bu Eni sambil melotot ke arah Keyla dan Ken.
Akhirnya mau tidak mau mereka menyingkir juga dari ranjang Dicky. Dicky tersenyum senang dan mulai memejamkan matanya.
Bersambung ...
****
__ADS_1