Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pertemuan Mengharukan


__ADS_3

Di depan sebuah ruang UGD di rumah sakit, seorang wanita tengah menangis di depan ruangan itu.


Wajahnya telihat sedih dan muram, seolah hilang harapan.


Bu Eni dan Pak Karta yang telah sampai di ruang UGD itu menghentikan langkahnya sejenak, menatap ke arah wanita itu, wanita yang sangat mirip dengan Fitri.


Kembali air mata Bu Eni tumpah tatkala melihat wanita itu, dia nampak mungil dan sedikit lebih kurus di bandingkan Fitri, rambutnya juga terlihat sedikit lebih panjang dan agak kusut.


Berbeda dengan Fitri yang badannya padat berisi dan rambutnya halus terawat.


"Pak, dia Putri Pak! Putri anak kita yang hilang!" pekik Bu Eni yang nampak sulit mengontrol perasaannya.


"Iya Bu, dia Putri anak kita!" tambah Pak Karta yang terus menggenggam tangan istrinya itu.


"Putri!! Putri Anakku!" Bu Eni tiba-tiba berlari ke arah wanita itu, dan langsung memeluknya.


Wanita yang adalah Putri alias Tata itu nampak bingung dan sedikit terkejut.


"Ibu, jangan panggil dia Putri, bahkan dia tidak tau kalau namanya itu Putri!" sergah Fitri.


"Fitri benar Bu, panggilah dia sesuai dengan namanya yang sekarang!" timpal Dicky.


Tata nampak bingung, dia lalu mengambil kertas di saku bajunya dan menulis sesuatu di kertas itu.


Kalian siapa? tulis Tata.


Fitri lalu mendekat ke arah Tata, lalu dia duduk di sebelahnya.


"Tata, aku Fitri, mereka adalah Bapak dan Ibuku, saat bayi Mak Acih telah mengambilmu dari mereka, kau adalah saudaraku Tata, saudara kandungku!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan Tata.


Tata melepaskan tangannya lalu mulai menulis lagi di kertas itu.


Kalian bohong! Mak Acih itu ibuku!


"Tata, kami tidak bohong, makanya aku mencarimu untuk mencari tau siapa sebenarnya dirimu, kalau kau tidak percaya, kita bisa melakukan tes DNA!" lanjut Fitri.


Dengan cepat Tata kembali menulis di kertas yang dia bawa kemanapun itu.


Pergi kalian! Ibu ku sedang sakit, aku mohon pergi lah!


Bu Eni lalu menangkupkan kedua tangannya di wajah Tata. Lalu menatap dalam wajahnya.

__ADS_1


"Nak, di dunia ini ada yang tidak pernah salah, itu adalah insting seorang Ibu, kau benar-benar anakku yang hilang Nak!" ucap Bu Eni.


"Untuk membuktikannya, kita dengar saja pengakuan dari mulut Bidan Acih!" ujar Pak Karta tiba-tiba.


"Bapak benar, satu-satunya bukti akurat adalah pengakuan dari Bidan Acih, karena hanya dialah satu-satunya saksi kunci!" timpal Dicky.


Seorang Dokter dan perawat keluar dari ruang UGD, Dicky langsung menghampiri dokter itu di ikuti oleh yang lainnya.


"Selamat siang Dokter,bagaimana kondisi dari Bidan Acih, wanita yang ada di dalam itu?" tanya Dicky.


"Eh, ada Dokter Dicky di sini, wanita yang bernama Ibu Acih mengalami infeksi paru-paru yang sudah akut dan parah, makanya beberapa kali dia batuk darah, dan infeksinya sudah menjalar hingga ke jantung dan yang lainnya, kami sudah angkat tangan Dokter!" jelas Dokter UGD itu.


"Apa begitu parahnya?" tanya Dicky.


"Penyakit ini sudah lama di derita oleh pasien, cuma penanganannya kurang maksimal, dengan obat seadanya, makanya semakin lama semakin parah dan membahayakan!" jawab Dokter itu.


Tata nampak menangis mendengar penjelasan dari Dokter, Fitri merengkuh bahunya untuk mencoba menenangkannya.


"Apakah pasien bisa di ajak bicara saat ini? Ada hal penting yang ingin kami tanyakan padanya!" tanya Dicky.


"Tentu saja, dia bisa berbicara, tapi tetap jaga ketenangan dan jangan membuatnya semakin frustasi!" sahut dokter UGD itu.


Dicky menganggukan kepalanya, kemudian dia memberi kode untuk masuk ke dalam ruangan itu.


Tata atau Anita langsung menghambur memeluk Bidan Acih sambil menangis, tanpa suara dalam kebisuannya, hanya terdengar suara nafas dan isakan nya saja.


Perlahan Bu Eni dan Pak Karta datang mendekatinya.


"Apa kabar Bu Bidan, lama sekali kita tidak bertemu, dan tidak di sangka kita bertemu dalam keadaan seperti ini!" ujar Pak Karta.


Bidan Acih nampak terkejut dan kaget, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, untuk berlari pun juga sudah tak sanggup lagi, kondisinya benar-benar lemah.


"Dulu aku dan suamiku sangat marah padamu, hanya karena hutang yang tidak seberapa kau mengambil anakku! Sekarang kau katakan pada Putri anakku, kalau dia bukan anakmu tapi anak kami!" seru Bu Eni yang berusaha menahan gejolak perasaannya.


Bidan Acih tidak menjawab, hanya air matanya saja yang mewakili perasaannya.


Anita menatap ibunya dengan tatapan sendu penuh tanda tanya, selama ini dia selalu menganggap Ibu Acih adalah ibunya yang merawat dan membesarkannya.


"Maafkan aku Bu Eni, Pak Karta, aku salah, saat ini mungkin usiaku tak akan lama lagi, mungkin bukan kebetulan kalian bisa menemukan kami, mungkin ini sudah menjadi takdir Ilahi! Aku kembalikan Putri kalian ini, maafkan aku!" ucap Bidan Acih.


"Saat ini, Putri atau Anita atau Tata butuh pembuktian kalau dia memang adalah anak kami yang hilang, katakan padanya kalau kami adalah orang tua kandungnya!" ujar Pak Karta.

__ADS_1


Dicky dan Fitri hanya bisa diam mematung menyaksikan momen mendebarkan di hadapan mereka.


Bidan Acih lalu menoleh ke arah Putri alias Anita dengan tatapan sendunya.


"Ta, maafkan Mak ya, sejak kau bayi Mak telah mengambil mu dari mereka, Pak Karta dan Bu Eni itu adalah orang tua kandungmu yang sebenarnya, dan wanita itu adalah saudara kembar mu!" ucap Bidan Acih dengan suara bergetar.


Anita menggelengkan kepalanya tak percaya, dia hanya bisa menangis dalam kebisuannya.


"Maafin Mak Ta, Mak sudah tidak bisa lagi mengurus mu, selama ini kau menderita karena kesalahan Mak, sekali lagi maafin Mak ya Nak, kalau kau maafkan Mak, Mak bisa pergi dengan tenang!" lanjut Bidan Acih.


Tiiiit ... Tiiiit ....


Terdengar suara monitor detak jantung, Dicky yang melihat itu langsung terkesiap dan dengan cepat mengambil tindakan mengambil alat pacu jantung.


"Fitri, tolong panggilkan Dokter! Aku akan memberikan pertolongan pertama, cepat Fit!" seru Dicky.


Fitri kemudian menyerahkan Alex dalam gendongan Bu Eni, dia setengah berlari keluar untuk memanghilkan Dokter yang lain, sementara Dicky berusaha memberikan pertolongan pertama karena jantung Bidan Acih sepertinya berhenti berdetak.


Tak lama kemudian seorang Dokter dan perawat datang ke ruangan itu.


"Bagaimana Dokter Dicky? Apa yang terjadi?" tanya Dokter UGD itu.


"Aku sudah berusaha untuk menyelamatkan melalui alat pacu jantung, namun sepertinya jantungnya tidak merespon lagi!" jawab Dicky.


Beberapa kali melakukan upaya penyelamatan melalui pacu jantung, Bidan Acih tidak dapat bertahan, akhirnya dia menarik nafas panjang dan menghembuskan nafas terakhirnya.


"Dia sudah meninggal ..." ucap Dicky.


Anita nampak terpukul dan dia terus menangis sambil memeluk wanita yang kini telah tiada itu.


Perlahan Bu Eni memeluk Anita dari belakang.


Dengan sigap Dicky langsung mengambil Alex dari gendongan Bu Eni.


"Dia sudah pergi Nak, tapi kau harus ingat, kau tidak sendirian tinggal di dunia ini!" ucap Bu Eni.


"Kau masih punya orang tua dan saudara!" lanjut Pak Karta.


Pak Karta dan Fitri langsung maju dan memeluk Anita dengan erat sambil berlinang air mata.


Dicky memeluk erat Alex, menyaksikan bersatu nya sebuah keluarga dengan hati yang penuh haru.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2