Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kamar Misterius


__ADS_3

Setelah mengobrol sebentar di kamarnya, Fitri kemudian keluar kamar bersama dengan Bi Sumi hendak mengecek apakah Dina dan Dara sudah pulang sekolah.


Mereka melewati dapur dan ruang makan yang masih seperti sebelumnya, sepi.


Seorang pelayan nampak sedang mengelap piring dan gelas di meja itu, Fitri segera mendekatinya.


"Ehm, maaf, bisa minta tolong siapkan makan siang untuk anak-anakku, Dina dan Dara?" tanya Fitri ragu-ragu.


Pelayan itu menatap tajam ke arah Fitri, dia tidak menjawab pertanyaan Fitri, kemudian tangannya menunjuk ke arah meja makan, ada makanan yang memang sudah tersaji di sana.


"Maksudku, tolong antarkan makan siang ke kamar anakku, karena mereka agak sungkan makan di meja makan ini!" jelas Fitri.


Pelayan itu hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera beranjak pergi dari tempat itu.


Fitri heran menatapnya, apakah pelayan itu bisu, sehingga dia tidak bisa bicara dan menjawab pertanyaan.


Fitri kemudian kembali berjalan ke depan, Dina dan Dara sudah terlihat turun dari mobil yang di bawa Mang Salim.


"Mama!"


Dina dan Dara langsung menghambur ke pelukan Fitri.


"Duh kalian lama sekali pulangnya, kemana saja sih?" tanya Fitri.


"Tadi jalanan macet Ma, dan tadi aku juga ada piket di kelas!" jawab Dara.


"Ya sudah, sekarang ganti baju dan cuci tangan dulu, setelah itu baru makan!" ujar Lika.


"Tapi Ma, jangan makan di meja makan itu ya, aku takut! Makan di kamar saja!" kata Dina.


"Iya, tadi Mama sudah bilang sama pelayan, biar makanannya di antar ke kamar saja, memangnya apa sih yang kalian takuti kalau makan di sana?" tanya Fitri.


"Pelayannya kalau melihat kami matanya serem-serem Ma, walaupun tidak semua sih, dan kalau kami makan di sana, habis makan pasti mengantuk bawaannya!" ungkap Dina.


"Bener Ma, makanya aku paling takut kalau ke dapur, pelayan dapur kalau lagi masak serem, pisaunya kelihatan tajam dan besar, kayak yang di film-film itu lho Ma!" tambah Dara.


"Sudah-sudah! kalian kebanyakan menghayal nih, sekarang masuk ke dalam kamar kalian!" titah Fitri.


Dina dan Dara kemudian masuk ke dalam kamar mereka.


"Mbak Fitri, Bibi juga merasa aneh deh sama pelayan di sini, walaupun tidak semuanya tapi ada satu dua pelayan yang judesnya minta ampun, sampai di tegur saja mereka tidak mau jawab!" ujar Bi Sumi.


"Sudahlah Bi, yang penting kan sekarang tugas Bibi bukan di dapur lagi, tapi menemani aku merawat Alex!" sahut Fitri.

__ADS_1


Kemudian mereka duduk di sofa ruang keluarga dekat kamar Dina dan Dara.


Seorang pelayan membawa sebuah nampan besar yang berisi makanan untuk Dina dan Dara.


"Mereka sedang ganti baju di kamarnya, taruh saja makannya di meja ini!" seru Gitrinoada pelayan itu sambil menunjuk meja yang ada di depannya.


"Baik!" sahut pelayan itu singkat.


Lalu pelayan itu segera membalikan tubuhnya hendak beranjak.


"Tunggu!" panggil Fitri.


Pelayan itu berhenti dari langkahnya, namun kepalanya tidak menoleh ke arah Fitri.


"Siapa namamu?" tanya Fitri.


"Isah!" sahutnya singkat.


"Sudah berapa lama kau bekerja di sini?" tanya Fitri lagi.


"Lima tahun!" sahut Isah.


"Kenapa kau jarang bicara dan selalu berwajah masam? Aku bisa laporkan ke Bu Anjani kalau sikapmu tak ramah begitu!" ujar Fitri.


Tak lama kemudian, Dina dan Dara sudah keluar dari kamarnya dan langsung berjalan mendekati Fitri.


"Ini makanan kalian, kalian boleh makan di kamar ya, tapi lain kali Mama harap kalian makan di meja makan, bukan di kamar!" ujar Fitri.


"Baik!" jawab Dina dan Dara bersamaan.


Mereka kemudian mengambil nampan itu dan membawanya ke kamar.


"Bi, Alex sudah tidur, aku mau ke kamar dulu ya, Bi Sumi kalau mau istirahat boleh, tapi aku minta tolong Dina dan Dara di liatin, walaupun ini rumah mertuaku, tetap saja asing bagi mereka!" ucap Fitri.


"Iya Mbak Fitri, saya akan menjaga Dina dan Dara, Mbak Fitri istirahat saja dengan Alex!" jawab Bi Sumi.


Fitri kemudian berjalan ke arah tangga ambil menggendong Alex menuju ke kamarnya.


Saat melewati kamar Pak Bram Fitri tertegun, kamar itu terdengar seperti tv yang sedang menyala dan seperti ada orang yang sedang menontonnya, sedangkan sejak pagi Pak Bram dan istrinya belum pulang.


Fitri lalu mendekati pintu kamar itu dan menajamkan telinganya yang di arahkan ke dalam kamar, seperti ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.


Fitri terperanjat kaget saat ada tangan yang menyentuh bahunya. Dia langsung menoleh kebelakang.

__ADS_1


"Ternyata Nyonya muda bakat jadi pengintai juga!" sindir Isah yang kini ada di depan Fitri.


"Eh, anu, Isah, itu ... seperti ada orang di kamar Pak Bram, apakah di sini ada orang lain yang tinggal selain kami, Pak Bram dan Bu Anjani?" tanya Fitri gugup.


"Saran saya, jangan terlalu kepo dengan urusan orang lain, urusi saja keluarga Nyonya sendiri!" sahut Isah.


"Tapi ..."


"Semakin Nyonya muda banyak tau, semakin Nyonya takut, lebih baik seolah-olah Nyonya tidak tau apa-apa, itu lebih baik!" ujar Isah yang kemudian pergi meninggalkan Fitri yang masih termangu.


Alex mulai gelisah, buru-buru Fitri beranjak dari tempat itu dan kembali ke kamarnya.


Fitri mulai menyusui Alex, ada rentetan pertanyaan dalam benaknya yang belum terpecahkan, membuat Fitri semakin penasaran.


Banyak sekali rahasia yang terpendam di rumah ini, terutama di kamar Pak Bram, entak kebetulan atau apa, Fitri selalu menemui keganjilan dalam kamar itu.


Rasanya ingin sekali dia masuk ke dalam kamar itu dan melihat semuanya, namun itu tidak mungkin dia lakukan, Fitri terus berpikir mencari cara.


Instingnya sebagai guru membuat dia semakin ingin tau apa yang terselubung dalam rumah ini.


Fitri kemudian mulai memencet nomor ponsel Dicky, dia berniat akan menelepon suaminya itu, sekedar menenangkan pikirannya.


"Halo sayang, sebentar lagi aku akan pulang ke rumah!" ujar Dicky saat mengangkat telepon dari istrinya itu.


"Mas, cepatlah pulang, aku menunggumu!' jawab Fitri.


"Ada apa sayang?' tanya Dicky.


"Mas, aku hanya mau kau pulang cepat, itu saja!" sahut Fitri.


"Kau aneh sekali, aku sedang mengurus masalah di rumah sakit Fit, ada orang yang hendak meracuniku!" kata Dicky.


"Apa? Pantas saja tadi Ibumu cepat-cepat datang ke rumah sakit, ternyata ..."


"Iya Fit, kau sabar dulu ya, sebentar lagi aku pulang!" ucap Dicky.


"Iya Mas, hati-hati ya!" balas Fitri sebelum menutup teleponnya.


Tok ... Tok ... Tok


Suara ketukan pintu dari kamar Fitri.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2