
Dicky memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah mewah milik Ibunya.
Pagi ini sesuai kesepakatannya dengan Fitri, Dicky pergi menemui Ibu ya di tempat kediamannya.
Semetara Fitri, Dina dan Dara di antar oleh Mang Salim ke sekolah.
Dua orang security menunduk hormat padanya.
"Selamat pagi Tuan Muda, silahkan masuk! Nyonya besar sudah menunggu!" sapa security itu.
"Terima kasih!" ucap Dicky sambil berjalan masuk ke dalam rumah itu.
Hati Dicky bergetar ketika dia datang kembali ke rumah ini, rumah yang pernah dia tempati walau hanya sebentar, rumah yang sudah menorehkan luka di hati Fitri istrinya, juga dirinya, rumah yang dulu penuh dengan skandal dan sejuta misteri.
Dicky menghentikan langkahnya ketika Mbok Jum datang berjalan mendekatinya.
"Syukurlah akhirnya Tuan muda datang juga, ayo Tuan, kita ke kamar Nyonya!" kata Mbok Jum senang.
Dicky menganggukan kepalanya dan berjalan mengikuti Mbok Jum menuju ke kamar Bu Anjani.
Di kamar yang luas itu, Bu Anjani nampak berbaring di atas tempat tidur besarnya, dua orang perawat sedang berjaga dan siap siaga menemaninya.
"Nyonya, coba lihat siapa yang datang!' seru Mbok Jum.
Bu Anjani yang terlihat pucat mulai mengerjapkan matanya. Dia tersenyum ketika melihat buah hatinya kini berdiri di hadapannya.
"Dicky anakku, kemarilah Nak, mendekat lah pada Ibu!" ucap Bu Anjani dengan mata yang berkaca-kaca.
Perlahan Dicky melangkah mendekati Ibunya itu, kemudian dia duduk di sisi Ibunya.
Bu Anjani berusaha menggapai wajah Dicky dengan kedua tangannya, namun tangan kirinya terjatuh karena tidak kuat akibat terkena gejala struk ringan.
Dicky kemudian langsung menangkap tangan Ibunya dan menaruhnya di pipinya.
"Ibu rindu padamu Nak!" lirih Bu Anjani, air matanya kini sudah tumpah keluar. Dicky menghapusnya dengan tangannya.
"Aku sudah datang Bu, aku sudah di hadapanmu sekarang!" ucap Dicky.
"Dicky ... maafkan Ibu Nak, Ibu salah, maafkan Ibu!" tangis Bu Anjani sudah tak tertahan lagi.
"Ibu, sebelum Ibu minta maaf padaku, aku sudah memaafkan Ibu, jangan menangis Ibu, aku tidak tahan!" ucap Dicky yang terus menyeka air mata Ibunya.
__ADS_1
"Dicky, tinggalah di sini bersama Ibu Nak, Ibu sangat membutuhkanmu! Kau lah anak Ibu satu-satunya!" mohon Bu Anjani.
"Maafkan aku Ibu, aku tidak bisa meninggalkan anak dan istriku untuk tinggal bersama Ibu!" ucap Dicky.
"Bawalah mereka ke sini Nak, kita tinggal sama-sama seperti waktu itu!" lanjut Bu Anjani.
"Sekarang di depan rumahku, sudah berdiri sebuah klinik, walaupun kecil, tapi aku membangunnya dari hasil keringatku sendiri, sekarang aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja, dari klinik itulah aku bisa menafkahi anak dan istriku Bu!" jelas Dicky.
Wajah Bu Anjani nampak murung, tersirat kesedihan dan kekecewaan di wajah itu, harapannya untuk kembali tinggal bersama Dicky memudar.
"Sebenarnya ... Ibu tidak benar-benar mencabut hak waris itu Nak, walau bagaimana, rumah sakit itu adalah amanat Ayahmu, ibu sendiripun tidak berhak untuk memilikinya, waktu itu ibu emosi, sebenarnya Ibu tidak benar-benar untuk mencabut semuanya itu Dicky! Maafkan Ibu!" kembali Bu Anjani menangis.
Dicky menggenggam hangat tangan Ibunya itu.
"Ibu, ada ataupun tidak ada rumah sakit itu aku masih bisa tetap hidup, biarkan aku berdiri di atas kakiku sendiri, Ibu jangan memikirkan itu, aku tidak masalah!" ucap Dicky.
"Ibu percaya Nak, kau sangat berjiwa besar, apa yang ibu lakukan padamu, tapi kau tidak pernah berkata kasar, apalagi menyalahkan Ibu, Ibu baru sadar kalau anak Ibu ini begitu hebat, pantas saja banyak pasien yang mencarimu, bahkan kemanapun kau pergi mereka terus mengikuti mu!" kata Bu Anjani.
Dicky melirik sekilas jam dinding yang ada di dinding kamar itu, waktu sudah menunjukan jam 8 pagi.
"Ibu, maafkan aku, sepertinya aku harus pamit, Sebentar lagi klinik akan di buka, semoga Ibu cepat sembuh, aku selalu mendoakan Ibu!" ucap Dicky sambil mencium tangan Ibunya itu.
"Kau mau kemana Nak, Ibu masih kangen padamu!" kata Bu Anjani.
"Dicky!! Jangan tinggalkan Ibu Nak!" panggil Bu Anjani saat Dicky telah berdiri dan membalikan tubuhnya.
Sejenak Dicky menghentikan langkahnya, namun dia kembali melangkah keluar kamar itu tanpa menoleh lagi.
"Dicky!!"
Masih terdengar suara Ibunya yang memanggilnya.
Hati Dicky perih bagai teriris sembilu, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Ibunya, tapi ada tugas mulia yang menanti di depan matanya.
Dicky terus berjalan menuruni tangga, ketika sampai di bawah dia terkesiap melihat Keyla yang berdiri di depannya.
Mau tidak mau Dicky harus menghentikan langkahnya.
"Dokter Dicky, kau di sini rupanya, kenapa kau nampak terburu-buru?" tanya Keyla.
"Maaf, aku harus kembali!" sahut Dicky.
__ADS_1
"Dicky, tidakkah kau ingin mengobrol sebentar saja denganku? Aku datang ke sini untuk menjenguk Ibumu!" kata Keyla yang perlahan mendekati Dicky dan hendak menyentuh tangannya, namun Dicky menepiskannya.
"Maaf, aku harus pulang!" Dicky kemudian berjalan cepat meninggalkan Keyla, wajah Keyla terlihat kesal.
"Dasar Dokter sombong!!" sungut Keyla.
Sementara Dicky terus berjalan hingga dia kembali masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa menunggu lama dia langsung menyalakan mesinnya dan melaju meninggalkan rumah besar itu.
Dicky terus mengendarai mobil nya menuju ke rumahnya.
Ketika dia sudah tiba di rumahnya, di depan kliniknya nampak pasien yang sudah begitu banyak mengantri.
Dicky melirik ke jam tangannya, belum juga jam 9, tapi pasien sudah mengantri.
Suster Wina nampak kerepotan mencatat dan mengecek suhu dan tensi pasien.
Setelah memarkirkan mobilnya, Dicky kemudian langsung masuk ke dalam ruangannya.
"Sudah bisa di mulai sekarang Dokter?" tanya Wina sambil mendongakkan kepalanya dari pintu ruangan praktek.
"Sudah, kau bisa langsung memanggil satu persatu masuk ke sini!" sahut Dicky.
"Siap Dokter!"
"Pasien anak Kianandra, silahkan masuk ke ruangan!" terdengar suara Suster Wina yang berteriak memanggil nama pasien.
Sepasang suami istri dengan menggendong seorang bayi masuk ke ruangan Dicky.
"Silahkan duduk, ada keluhan apa anak cantiknya?" sapa Dicky ramah.
"Pagi Dokter, ini Dok, anak saya kok demam belum turun dari semalam, terus rewel dan susah makan, bagaimana ya?" keluh Papa dati anak itu.
Dicky tertegun menatap satu keluarga kecil di hadapannya.
"Hmm, sepertinya aku pernah mengenal kalian, tapi di mana ya?" gumam Dicky.
"Iya Dokter, dulu kan waktu anak ini masih kecil pernah konsultasi ke dokter, saya Nando Papanya Kia anak saya, kita ke rumah sakit tapi Dokter Dicky tidak ada, ya sudah saya tanya-tanya ternyata Dokter buka praktek di rumah, ya kami jadi ke rumah Dokter Deh!" jelas Nando.
Dicky hanya manggut-manggut sambil mulai memeriksa anak itu.
__ADS_1
Bersambung ...
****