
Malam itu Fitri gelisah di tempat tidurnya, Alex sudah tertidur setelah Fitri menyusuinya.
Dicky juga memeluk gulingnya membelakangi Fitri, sejak siang tadi Dicky masih ngambek karena Fitri menolak ajakannya untuk bercinta, alhasil malam ini Dicky jadi uring-uringan, dan bawaannya sensitif kalau Fitri mulai bercerita.
Fitri kemudian meraih ponselnya, dia berniat untuk menelepon Bu Eni ibunya, ada hal yang mau Fitri tanyakan padanya.
Baru sekali Fitri menekan nomor Ibunya ,langsung terdengar nada sambung dan tak lama kemudian teleponnya di angkat.
"Halo, Fitri?"
"Ibu, Ibu belum tidur kan?" tanya Fitri.
"Belum Fit, ini baru ngerokin Bapak kamu, masuk angin dia, tapi sekarang sih sudah tidur!" jawab Bu Eni.
"Bu, sebenarnya, apakah aku punya saudara Bu? Maksudku, apa aku punya saudara kandung?" tanya Fitri to the point.
"Kenapa kau bertanya seperti itu Fit?" tanya Bu Eni.
"Entahlah Bu, aku juga bingung, di Jakarta sini, aku baru bertemu dengan orang yang wajahnya mirip sekali denganku, saat aku melihatnya, aku seperti bercermin, sangat serupa, walaupun gaya dan sifat berbeda!" jelas Fitri.
"Benarkah? Di mana kau bertemu dengan dia Fit?" tanya Bu Eni.
"Di sini Bu, di Jakarta, aku sudah dua kali bertemu dengannya, dan anehnya, saat aku mencari tau informasi tentangnya dan mulai mendapat titik terang, Ibunya kelihatan takut melihat aku!" ungkap Fitri.
Bu Eni terdiam beberapa saat lamanya.
"Bu? Ibu kenapa?" tanya Fitri cemas.
"Fit, besok siang Ibu akan ke Jakarta!" jawab Bu Eni.
"Ke sini Bu?? Ibu besok mau datang ke sini? Ke rumahku Bu?" tanya Fitri tak percaya.
"Iya Fit, Bapak juga ikut, tunggu Ibu besok ya Fit!" kata Bu Eni yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Fitri tertegun, sikap Bu Eni mendadak aneh, apa yang selama ini dia sembunyikan? Fitri tidak berani menduga apapun.
Fitri kemudian kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya itu.
Pikirannya menerawang jauh ke masa lalu, dulu Fitri selalu beranggapan kalau dia adalah anak tunggal Bapak dan Ibunya, Fitri yang selalu di manja, kenyang akan kasih sayang sejak kecil.
Fitri berpikir apakah mungkin kalau ternyata dia punya saudara lain yang terpisah sejak kecil, lalu apa yang menyebabkan dia terpisah dengan saudaranya itu?
"Kenapa kau belum tidur sudah semalam ini??" tanya Dicky yang tiba-tiba membalikan tubuhnya ke arah Fitri.
"Eh, Mas Dicky juga belum tidur to!" sahut Fitri kaget.
__ADS_1
"Mana bisa aku tidur sementara sejak tadi kau terus gelisah? Apa yang kau pikirkan Fit?" tanya Dicky.
"Mas, besok Ibu dan Bapak mau datang ke sini!" kata Fitri.
"Ya, aku sudah tau, tadi kau menelepon Ibu kan!" sahut Dicky.
"Sepertinya ada yang mau Bapak dan Ibu ceritakan padaku!" ujar Fitri.
"Fit, kau dengar ya sayang, walaupun kau punya seribu kembaran sekalipun, tapi hanya kaulah istriku satu-satunya, kalau kau memang ingin menyelidiki, aku tidak akan melarangmu, tapi aku harus ikut mendampingimu!" ucap Dicky.
"Maafkan aku ya Mas, tadi aku tidak angkat teleponmu, habis kau cerewet sekali!" ungkap Fitri.
"Aku cerewet kan karena aku sayang padamu!" cetus Dicky.
"Iya iya, sudah dong ngambeknya, aku kan sudah minta maaf!" kata Fitri sambil mencubit gemas pipi Dicky.
"Tapi belum tuntas!" ujar Dicky.
"Apanya yang belum tuntas??"
"Yang tadi lah! Pakai pura-pura amnesia!" sungut Dicky.
"Oalaaa, masalah juniormu itu?? Mas Dicky masih ingat saja Ih, kirain sudah lupa!" tukas Fitri.
"Iya deh, maaf ya tadi di cuekin, aku sebel sih Mas Dicky suka cemburuan gitu orangnya, sama si Agus saja bisa cemburu, padahal aku tak ada apa-apa dengan dia!" ungkap Fitri.
"Pokoknya siapapun laki-laki yang berhubungan denganmu aku pasti cemburu, makanya kau harus jujur padaku Fit, jangan ada dusta diantara kita!"' sahut Dicky.
"Siap deh Mas!" ujar Fitri.
"Sekarang tunggu apa lagi?? Ayo mainkan!" seru Dicky sambil menunjuk ke arah bawah tubuhnya.
Fitri tertawa dan langsung naik ke atas tubuh Dicky yang kini terlentang itu.
"Arrgh! Santai Fit!" seru Dicky yang meringis saat si junior di duduki oleh Fitri.
****
Pagi harinya, sambil bersiul dan bersenandung Dicky menyisir rambutnya, sehabis mandi, wajahnya kelihatan segar dan cerah. Setelah semalam di beri servis oleh Fitri sebanyak lima ronde.
Setelah itu dia turun dan terus bersiul sampai di meja makan.
"Duh Pak Dokter kelihatannya lagi senang hati nih!" kata Bi Sumi yang sedang menata buah di atas meja.
"Iya dong Bi, siapa yang tidak senang semalam aku dapat durian runtuh!" sahut Dicky.
__ADS_1
"Hah? Durian runtuh? Durian dari mana??" tanya Bu Sumi.
"Ah, Bi Sumi seperti tidak pernah muda saja, pasti tau lah yang di maksud durian itu apa!?" sahut Dicky.
"Lho, bibi memang tidak ngerti Pak, durian yang mana yang runtuh!" ujar Bi Sumi bingung.
"Ah, sudahlah, lupakan soal durian, Fitri di mana Bi?" tanya Dicky.
"Lagi menyuapi Alex di taman, sekarang Alex belajar makan buah dan sayur yang di saring Pak, biar makin berisi badannya!" jawab Bi Sumi.
Tak lama kemudian Fitri sudah muncul dari arah samping sambil menggendong Alex.
"Papa Dicky, lihat nih Alex pintar lho makannya habis!" kata Fitri.
"Oya? Wah, anaknya Papa Dicky memang harus pintar ya, biar kalau besar bisa kayak Papa! Jadi Dokter!" ucap Dicky sambil mengambil Alex dari gendongan Fitri lalu menciuminya dengan gemas.
Gantian sekarang Fitri yang sarapan di maja makan.
Tiba-tiba dari arah depan Suster Wina datang dengan tergopoh-gopoh.
"Dokter! Itu di depan ada kemacetan parah, Pak RT menegur kita Dok, katanya gara-gara kita jalanan jadi macet!" seru Suster Wina panik.
"Lho, kok gara-gara kita!" sahut Dicky yang langsung bergegas menuju ke depan, ke kliniknya yang masih tutup itu
Fitri dan Bi Sumi menyusul di belakangnya.
Pada saat Dicky membuka pintu klinik, ada banyak orang yang mengantri di depan klinik, padahal klinik baru akan di buka jam sembilan pagi, namun belum juga jam tujuh sudah banyak orang yang mengantri.
Alhasil parkiran di depan rumah Dicky menjadi penuh dan mengganggu lalu lintas.
"Bapak-bapak Ibu-ibu! Maaf sebelumnya, tapi klinik ini akan di buka jam sembilan pagi, sekarang masih tutup!" seru Dicky.
"Tidak apa-apa Dok, kalau nanti saya datang jam sembilan saya pasti dapat nomor antrian panjang, mending sekarang saja!" sahut seorang Bapak.
"Benar Dok, sekarang kalau ke sini, kita harus datang lebih pagi, bisa panjang antrian kalau datangnya siang!" timpal seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya.
"Seperti nya kita buka praktek sekarang saja Dok!" usul Suster Wina.
"Oke, kita buka sekarang!" ucap Dicky.
"Horeee!!" terdengar suara tepuk tangan dan sorak Sorai pasien yang telah mengantri itu.
Bersambung ....
****
__ADS_1