
Sore itu sepulang dari rumah sakit, Dicky menghempaskan tubuh lelahnya di sofa ruang keluarga yang terasa sangat nyaman dan empuk itu.
Seharian ini dia cukup lelah bergelut di rumah sakit dan bertemu dengan banyak pasien dan berbagai macam orang.
Dina nampak membawakan air minum untuk Dicky, sementara Dara membawakan sepiring kue, Fitri berjalan di belakangnya kemudian duduk di samping Dicky.
Dicky langsung meneguk minumannya dan memakan kue yang ada di piring itu.
"Hmm, kuenya enak banget, beli di mana nih? Atau siapa yang buat?" tanya Dicky.
"lni kue kiriman dari orang tak di kenal itu, bahkan sekarang tidak ada inisial namanya!" jawab Fitri jujur.
Seketika itu juga Dicky menghentikan makannya, lalu dia meletakan sisa kue yang di makannya tadi ke atas piring.
"Kenapa kau terima begitu saja kiriman si kampret itu Fit??" tanya Dicky.
"Mas, tadi Mbak Tania datang mengunjungi aku, tau-tau Bi Sumi sudah mengantarkan kiriman itu, lain kali juga akan aku tolak!" sahut Fitri.
"Padahal aku sudah memberi dia peringatan! Ternyata tidak mempan juga!" sungut Dicky.
"Memberi peringatan ke mana Mas?" tanya Fitri.
"Ya ke si kampret itu! Kemana lagi memangnya!" sahut Dicky.
"Memangnya Mas Dicky yakin kalau Pak Donny itu yang mengirimkan bingkisan untukku?" tanya Fitri.
"Siapa lagi kalau bukan dia! Sudah jelas-jelas modusnya, besok aku datang lagi untuk memberi dia peringatan yang ke dua! Atau kalau perlu aku hajar dia!" geram Dicky.
Fitri tertawa kecil melihat wajah Dicky yang merah padam, padahal sebelumnya dia memuji-muji kue itu sangat enak.
"Sudahlah Mas, jangan buang energimu untuk memikirkan hal itu, yang penting kan aku di rumah terus, tidak kemana-mana, kau jangan khawatir!" ucap Fitri sambil membelai wajah dan rambut Dicky dengan tangannya.
Ketika merasakan sentuhan Fitri, hati Dicky luluh seketika.
"Sudah ya kesalnya, sekarang ayo mandi dulu, dari tadi aku sudah menyiapkan air hangat untukmu!" kata Fitri.
Sementara Dina dan Dara terlihat sedang asyik menonton film kartun di televisi.
Dicky menganggukan kepalanya, kemudian dia mengangkat Fitri dalam gendongannya dan membawanya ke kamar.
"Mandikan aku dong Fit!" bisik Dicky.
__ADS_1
"Tidak mau ah Mas, nanti malah modus lagi!" tukas Fitri.
" Ayolah Fit, aku sudah lama tidak di mandikan olehmu!" sahut Dicky.
"Mas mandi saja sendiri, bukan bayi kan?!" cetus Fitri.
"Ayolah Fit, ya ya?? Iya lah! Bukankah kau suka kalau lihat anu ku Fit?" bujuk Dicky.
"Anu apa sih Mas! Sudah ah, aku mau bantu Bi Sumi siapkan makan malam!" Fitri segera turun dari gendongan Dicky saat mereka sudah di kamar.
Wajah Dicky nampak cemberut katena keinginannya di tolak oleh Fitri, biasanya Fitri tidak pernah menolak Dicky jika sedang ingin.
Akhirnya Dicky menyambar handuknya dan mulai masuk ke dalam kamar mandi, Dicky mulai merendamkan tubuhnya di bathtub air hangat itu.
Ceklek! Pintu kamar mandi di buka dari luar, Fitri masuk dan langsung mendekati Dicky. Dicky terkejut.
"Katanya mau bantuin Bi Sumi di dapur!" cetus Dicky.
"Ehm, tidak jadi Mas, ada Dina dan Dara yang membantu Bi Sumi, sekarang katakan padaku, bagian mana yang mau di belai dan di sayang?" tanya Fitri menggoda.
Dengan penuh semangat Dicky langsung menjulurkan juniornya yang menyembul dari dalam air bathtub.
****
Sekitar 15 menit menunggu, Donny muncul dengan motor besarnya, Dicky langsung berdiri menghalanginya.
Donny langsung berhenti mendadak karena terkejut.
"Hei Kampret!! Turun sini kalau berani!! Jangan berani nya cuma main kirim-kirim barang saja! Dasar pengecut!" maki Dicky.
"Minggir kau! Aku tidak ada urusan denganmu!!" seru Donny yang masih duduk di atas motornya.
"Hei! Jangan mengalihkan pembicaraan!! Ku peringatkan untuk yang terakhir ya! Jangan lagi mengirimi istriku barang atau makanan apapun! Karena sudah di pastikan kalau kirimanku itu akan aku buang!!" sengit Dicky.
Donny tertawa mendengar hardikan Dicky.
"Kau ini bicara apa Dok?? Siapa yang mengirimi istrimu barang?? Jangan asal menuduh! Mana buktinya??" tanya Donny.
"Kau masih tidak mengaku juga! Baik, sepertinya aku harus bertindak tegas!" ancam Dicky.
"Silahkan Dok!! Kalau aku mau, aku bisaemberi langsung pada istrimu itu tanpa harus pakai jasa pengiriman! Aku bukan tipe orang yang menghamburkan uang!! Minggir!" Donny langsung menarik gas motornya dan melaju dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Mau tidak mau Dicky melompat ke samping.
Dengan kesal Dicky Kembali naik ke dalam mobilnya dan melajukannya kembali ke rumah sakit.
"Masih tidak mau mengaku juga! Kalau bukan dia yang mengirim barang dan makanan untuk Fitri, lalu siapa lagi?!" gumam Dicky.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel dari dalam tas kerja Dicky.
Buru-buru Dicky menepikan mobilnya dan mengangkat teleponnya setelah dia tau siapa yang meneleponnya.
"Halo!"
"Halo Dicky, ini Bu Nuri!" sapa Bu Nuri yang ternyata menelepon.
"Halo Bu, apa kabar, lama tidak berjumpa dengan Ibu, aku kangen Bu!" kata Dicky langsung.
"Dicky, Trimakasih ya atas kiriman uang untuk adik-adikmu, jumlahnya kok semakin bertambah Nak?" tanya Bu Nuri.
"Karena rejeki ku juga bertambah Bu, jadi rejeki adik-adik di panti juga harus bertambah!" jawab Dicky.
"Bagaimana kabar istrimu Nak, kapan dia akan melahirkan?" tanya Bu Nuri.
"Sebentar lagi Bu, nanti aku langsung kabari Ibu kalau anakku sudah lahir, doakan semua lancar ya Bu, deg degan nih anak pertama!" jawab Dicky.
"Pasti Nak, Ibu selalu mengingatmu dalam doa Ibu, Ibu sangat ingin memberikan hadiah pada calon cucu Ibu, nanti Ibu akan berkunjung ke rumahmu Dicky, boleh kan?!" kata Bu Nuri.
"Dengan senang hati Bu, pintu rumah ku selalu terbuka lebar untuk Ibu, karena Ibu adalah malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan buat aku, aku sayang Ibu!" ucap Dicky.
"Terimakasih Dicky, kau membuat Ibu terharu saja!" kata Bu Nuri.
"Bu, aku mau tanya, kenapa Ibu memberi aku nama Dicky Pradita? Apa ada arti yang khusus?" tanya Dicky.
"Namamu memang Dicky Pradita Nak, sejak Ibu menemukan mu, ada namamu yang tertulis di gelang kaki mu, emas murni yang kelihatan sangat mahal, makanya Ibu mencopotnya, takut hilang atau di jambret orang, semua barangmu ketika bayi pun masih Ibu simpan!" jelas Bu Nuri.
Dicky terdiam mendengar penjelasan dari Bu Nuri, wanita yang sangat di hormati dan di sayangi Dicky.
"Jadi, bukan Bu Nuri yang memberikan aku nama!" gumam Dicky.
"Iya Nak, orang tuamu lah yang memberikanmu nama Dicky Pradita!" ucap Bu Nuri.
Bersambung ...
__ADS_1
****