Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Bertanya-Tanya


__ADS_3

Satu mangkuk sup jagung habis di makan Dicky saat Bu Anjani menyuapinya.


Wajah Dicky mulai kemerahan, tidak se pucat sebelumnya, dan kini tubuhnya juga sudah mulai berkeringat.


"Terimakasih Bu!" ucap Dicky.


Bu Anjani hanya tersenyum, kemudian meletakan mangkuk kosong di atas meja samping tempat tidur Dicky.


Kemudian Bu Anjani mengusap wajah Dicky yang mulai berkeringat itu dengan tangannya.


"Kau sudah baikan, aku pamit pulang!" ucap Bu Anjani sambil beranjak berdiri dari tempatnya.


Kemudian perlahan Bu Anjani membalikan tubuhnya dan melangkah ke arah pintu.


"Tunggu!" panggil Dicky.


Bu Anjani menghentikan langkahnya, namun dia tidak menoleh lagi.


"Mengapa Ibu selalu memperhatikan aku dan perduli padaku??" tanya Dicky.


Bu Anjani tidak menjawab pertanyaan Dicky, dia hanya diam beberapa menit.


Kemudian Bu Anjani kembali melangkah keluar kamar itu dan turun ke bawah.


Fitri jadi bingung, dia kemudian menyusul Bu Anjani turun ke bawah.


"Terimakasih kau sudah menjaga suamimu dengan baik!" ucap Bu Anjani.


"Lho, kenapa saya yang menjaga Mas Dicky Ibu yang terimakasih?" tanya Fitri.


"Karena keberhasilan seorang laki-laki itu ada dua, doa seorang ibu dan istri yang selalu mendukung di belakangnya!" jawab Bu Anjani.


Dia kemudian melangkah ke luar rumah itu dan langsung menaiki mobil mewahnya yang terparkir di halaman rumah Dicky.


Tak lama kemudian mobil itu sudah bergerak meninggalkan rumah itu.


Untuk beberapa saat lamanya Fitri mulai tertegun. Sementara matahari sudah nampak mulai turun dari tempat peraduannya.


Fitri langsung kembali masuk ke dalam rumahnya dan berjalan menuju ke kamarnya kembali.


Dicky nampak duduk termenung di sisi tempat tidurnya.


"Lho, Mas Dicky sudah sehat?" tanya Fitri.


"Iya Fit, kepala sudah agak entengan sekarang!" jawab Dicky.


"Apa karena Bu Anjani yang datang mengunjungimu dan menyuapimu Mas?" tanya Fitri lagi.


"Mungkin salah satunya iya, aku mulai heran dengan sikap Bu Anjani, akhir-akhir ini dia sangat misterius!" ujar Dicky.

__ADS_1


"Maksud Mas Dicky apa? Sepertinya Bu Anjani sangat dekat denganmu Mas, dia pakai menyuapimu segala, aku saja sampai heran!" tambah Fitri.


"Fitri, sebenarnya aku tidak berani menduga sesuatu, tapi entahlah, hati nurani ku mengatakan aku harus lebih mengenal Bu Anjani, serta latar belakangnya, siapa tau aku punya hubungan dengannya!" ucap Dicky.


"Hubungan? Maksud Mas Dicky kalau Bu Anjani itu adalah ibu kandungmu?!" tebak Fitri.


"Aku tidak berani menebaknya, tapi ... kalau memang benar, sepertinya aku harus pindah dari rumah sakit itu!" ujar Dicky. Fitri membulatkan matanya.


"Apa Mas? Pindah??" tanya Fitri kaget.


"Iya Fit, tapi aku belum menemukan titik terang, bisa jadi aku salah, aku harus segera menguak tabir ini, akan ku tanyakan pada Bu Nuri!" jawab Dicky.


"Bu Nuri?"


"Iya, hanya Bu Nuri yang mengenal aku luar dalam, aku ingin bicara pribadi dengan beliau!" ucap Dicky.


"Bicara apa?" tanya Fitri.


"Kejadian masa lampau, kalau aku bisa mendapatkan barang bukti, aku akan buka semua rahasia ini!" sahut Dicky.


Fitri terdiam tidak lagi merespon ucapan suaminya itu.


"Mas ..."


"Iya sayang?"


"Maafkan aku sayang, aku terlalu larut dalam suasana, baiklah, aku tidak lagi ingin membahas masa lalu, tapi kalau aku mengundang Bu Nuri datang ke rumah, tidak masalah kan, lagi pula dia ingin sekali menjenguk mu!" ungkap Dicky.


'Tentu saja dengan senang hati Mas, undanglah Bu Nuri untuk datang ke sini, aku sangat senang!" jawab Fitri.


"Sekalian aku mau ngobrol banyak dengan beliau, aku juga sudah kangen!" ujar Dicky.


Dicky kemudian mulai memencet tombol nomor Bu Nuri, dia langsung menelepon saat itu juga.


"Halo!"


"Halo Bu Nuri, bisakah ibu datang ke rumahku besok? Aku kangen Bu!" tanya Dicky.


"Besok? Ada apa nih tiba-tiba mengundang ibu datang?"


"Fitri sudah mau melahirkan Bu, aku ingin mengobrol dengan Ibu sebelum Fitri melahirkan!" jawab Dicky.


"Baiklah kalau begitu, Besok pagi ibu akan datang dengan naik travel!" jawab Bu Nuri.


"Terimakasih Bu, besok aku tunggu kedatangan Ibu, segala ongkos dan segala sesuatu di bayar di sini ya bu!" ujar Dicky senang.


"Kau tenang saja Nak, itu hal yang mudah, besok pagi ibu akan datang!" ujar Bu Nuri.


"Bu, besok tolong bawakan semua barang-barangku sewaktu aku bayi, saat pertama kali Ibu menemukan aku di depan panti!" pinta Dicky.

__ADS_1


"Untuk apa Nak?" tanya Bu Nuri.


"Aku ingin mencari jejak Bu, jejak di mana keberadaan orang tuaku, apakah mereka masih hidup atau sudah mati!" jawab Dicky.


"Baiklah Nak, besok ibu akan membawakannya!" ucap Bu Nuri sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


Wajah Dicky nampak lega dan senang.


"Semoga saja semua rahasia tentang hidupku bisa terungkap Fit! Supaya aku bisa menanyakan langsung pada mereka, mengapa dulu mereka menaruh aku di depan panti asuhan Bu Nuri!" ungkap Dicky.


"Iya Mas, semoga saja semua cepat terungkap!" sahut Fitri.


"Aku lapar Fit, makan malam sudah siap belum ya?" tanya Dicky sambil memegangi perutnya.


"Sudah Mas, tadi Bi Sumi sudah selsai memasaknya, kita turun ke bawah yuk makan bersama!" ajak Fitri.


Dicky menganggukan kepalanya, kemudian dengan sigap dia mulai mengangkat Fitri dalam gendongannya dan turun ke bawah.


"Mas Dicky kan lagi sakit?? Kok gendong segala?" tanya Fitri.


"Kalau untuk urusan gendong tidak ada hubungannya dengan sakit, aku akan selalu sehat untuk mengendongmu sayang!" jawab Dicky sambil mengecup kening Fitri yang masih berada dalam gendongannya.


Di bawah di ruang makan, Dina dan Dara sudah nampak duduk manis menghadap meja makan itu.


Dicky dan Fitri langsung duduk bergabung dengan mereka.


"Papa sudah sembuh?" tanya Dina.


"Sudah dong sayang, badan Papa sudah enakan sekarang!" jawab Dicky.


"Pa, hari Sabtu ini di sekolah ada peringatan hari ayah, apakah Papa bisa datang untuk menghadirinya? Ada undangan dari sekolah!" tanya Dara.


"Hari Sabtu ya, berati dua hari lagi kan? Papa usahakan bisa datang ya, semoga saja di hari itu si Dedek belum lahir!" jawab Dicky.


"Belum lah Mas, lahirnya kan masih di Minggu depannya lagi, itu menurut hpl kemarin!" tukas Fitri.


"Kan bisa lebih cepat atau lambat Fit, bisa jadi lebih cepat dari perkiraan!" ujar Dicky.


"Iya juga sih Mas, belakangan ini perutku sudah mulai ada kontraksi walaupun ringan!" kata Fitri.


"Nah, itu dia, kita harus tetap berjaga-jaga Fit, kau Dara, kau tenang saja, Papa akan usahakan untuk datang ke sekolah hari sabtu besok ya!" ucap Dicky sambil mengelus kepala Dara.


Wajah Dara nampak cerah dan dia tersenyum senang.


"Terimakasih Papa!" ucap Dara sambil memeluk Dicky.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2