Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Perasaan Dicky


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siangnya, Dicky segera berjalan menuju teras rumahnya yang luas itu.


Sementara Fitri kembali ke kamar untuk menyusui Alex, Pak Karta dan Bu Eni menonton TV bersama dengan Dina dan Dara.


Dicky duduk di samping Mbok Jum di teras depan rumahnya, semilir angin yang sejuk menyapu wajah mereka, suasana begitu teduh dengan pepohonan yang ada di depan rumah Dicky, sehingga membuat nyaman siapa saja yang duduk di teras itu.


"Selamat siang Dokter Dicky!" sapa Mbok Yum saat melihat Dicky yang sudah duduk di sebelahnya.


"Selamat siang, siapa saya harus memanggil Ibu?" tanya Dicky sopan.


"Panggil saja Mbok Jum, saya ini adalah asisten Nyonya Anjani, sejak bertahun-tahun yang lalu, bahkan sejak Nyonya Anjani itu baru menikah!" jawab Mbok Jum.


"Oh ..." singkat Dicky.


"Dokter Dicky pasti sudah mengenal Ibu Anjani kan?" tanya Mbok Jum.


"Yah, dia adalah pemilik rumah sakit tempat saya bekerja!" sahut Dicky.


"Sebenarnya ... saya bingung mau mulai dari mana, kisah ini begitu panjang dan rumit, tapi demi majikan saya, saya harus mengungkapkan ini!" ucap Mbok Jum lirih.


"Sebenarnya, apa maksud dan tujuan Mbok Jum datang ke sini? Lalu apa hubungannya dengan Bu Anjani?" tanya Dicky.


"Sebenarnya, Bu Anjani itu adalah ibu kandung Dokter!" jawab Mbok Jum to the point.


Dicky membulatkan matanya mendengar ucapan Mbok Jum yang di rasa terlalu terburu-buru, bahkan Dicky juga belum siap untuk mendengarnya.


"Apa?? Anda jangan bohong Mbok! Jangan mempermainkan perasaan saya!" ujar Dicky dengan dada yang bergemuruh kencang.


"Saya tidak bohong, anda adalah putra majikan saya Dokter, Nyonya Anjani selama ini selalu melihat anda dari kejauhan, tanpa bisa menyentuh, memeluk, apalagi mengucapkan kata sayang, padahal saya tau dia begitu sayang pada anda!" ungkap Mbok Jum.


"Tidak! Bu Anjani itu adalah orang terhormat, mana mungkin dia Ibu kandung saya? Seorang Ibu kandung dengan alasan apapun tidak akan membiarkan anaknya terlantar, apalagi di berikan pada orang lain!" tukas Dicky.


"Tapi Nyonya punya alasan yang kuat, kenapa dia bisa melakukan itu semua? Waktu itu, Nyonya Anjani selalu di perlakukan buruk oleh Nyonya Arini, istri pertama suaminya, bahkan Nyonya Arini merencanakan akan membunuh putra Nyonya Anjani kalau sudah lahir, demi menyelamatkan Anda, dia dengan terpaksa menyuruh saya untuk menitipkan anda di panti itu, bahkan Tuan Rahmat yang begitu sayang pada anda meninggal karena sakit terlalu banyak memikirkan anda, waktu itu saya yang ...."


"Cukup! Jangan di teruskan lagi! Maafkan saya Mbok Jum, saya benar-benar tidak siap, saya butuh waktu untuk berpikir jernih, maafkan saya!" Potong Dicky cepat sambil tangannya menarik rambutnya frustasi.


"Tapi, saya belum selesai bercerita, saya mohon dengarkan dulu penjelasan saya, saya adalah saksi hidup kelahiran anda Dokter, dan ini adalah sebuah kenyataan, sebuah kebenaran!" ujar Mbok Jum.

__ADS_1


"Baik, kalau begitu kenapa bukan Bu Anjani saja yang langsung datang dan menceritakan semua pada saya? Kenapa harus anda Mbok Jum, setelah saya melewati masa sulit dan kini telah berhasil, mengapa dia baru mau mengakui kalau saya anaknya? Selama ini kenapa dia tidak mencari saya sejak dulu, di mana saya sangat membutuhkan kasih sayang? Kenapa baru sekarang? Bagaimana perasaan Mbok Jum jika berada di posisi saya? Hidup dalam ketidak tahuan tentang orang tua kandung, yang selama ini sangat di rindukan!"


Dicky mulai menangis untuk meluapkan perasaan hatinya, tercurah sudah segala beban yang selama ini dia alami.


Dia tidak tau apakah dia harus senang atau sedih, semua seolah berbaur menjadi satu.


Bu Eni yang kebetulan sedang jalan ke depan terkejut dan kaget melihat Dicky menangis.


"Menantu Kasep?? Kenapa nangis? Pasti nih si Ibu minta sumbangan terus makanya mantu saya kasi nangis! Sudah Bu, pulang sana, mantu saya ini terlalu baik, jangan di manfaatkan lagi!!" sengit Bu Eni.


Mbok Jum mengerutkan dahi melihat Bu Eni. Kemudian dia berpaling pada Dicky yang masih menahan Isak tangisnya yang hampir mau meledak.


"Sebaiknya saya pamit pulang, untuk lebih jelasnya anda bisa datang langsung ke rumah Bu Anjani, dia sangat menanti anda!" ucap Mbok Jum sebelum beranjak dari tempatnya.


Dicky tidak menjawab ucapan Mbok Jum, pikirannya kacau dan shock mendengar penuturan Mbok Jum barusan, walaupun dalam versi yang tidak lengkap, tapi Dicky sudah bisa menangkap maksud dari pembicaraan Mbok Jum itu.


Mbok Jum lalu melangkah meninggalkan teras, dan keluar melewati pintu gerbang rumah Dicky.


"Heii!! Awas kamu balik lagi ya!! Mantu saya bukan dinas sosial!" teriak Bu Eni.


Kemudian Bu Eni segera memeluk Dicky dan membelai rambutnya.


Dicky lalu segera beranjak dari tempatnya dan langsung masuk ke dalam rumahnya, lalu naik ke atas menuju ke kamarnya.


Bu Eni hanya geleng-geleng kepala menatapnya.


Dicky langsung masuk ke dalam kamarnya itu, Fitri terlihat sedang menyelimuti Alex yang batu tertidur setelah minum ASI.


"Eh Mas Dicky, tadi siapa tamunya Mas?" tanya Fitri.


Dicky tidak menjawab, dia hanya menghempaskan tubuhnya di tempat tidur di samping Alex.


"Mas Dicky? kau kenapa Mas?" tanya Fitri mulai cemas.


Fitri lalu duduk di samping Dicky sambil menatap dalam wajah suaminya itu.


"Fit, ternyata benar Fit, selama ini feeling ku tidak salah, walaupun aku berusaha untuk mengabaikannya!" ucap Dicky dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Apa maksudmu Mas? Aku tidak mengerti!" tanya Fitri.


"Tadi itu yang datang, adalah asistennya Bu Anjani, dia yang mengatakan kalau Bu Anjani adalah Ibu kandungku!" jawab Dicky lirih.


"Apa? Jadi ... jadi benar ya kalau Bu Anjani itu adalah Ibu kandung Mas Dicky??" tanya Fitri seolah tak percaya.


"Iya Fit, tapi aku belum percaya begitu saja kalau tidak ada bukti otentik, bisa jadi kan dia hanya mengaku-ngaku saja!" sahut Dicky.


"Bukti otentik bagaimana? Tes DNA maksudnya?" tanya Fitri lagi.


"Fit, saat ini hatiku sedang galau, tidak tau harus bagaimana, mungkin aku mau mengajukan cuti untuk beberapa hari ke depan!" kaa Dicky.


"Baiklah Mas, kau istirahat saja dulu, sama Alex ya!" ucap Fitri sambil mengelus sayang rambut suaminya itu.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt


Ponsel Dicky bergetar di atas meja, Fitri mengambil ponsel Dicky, ada gambar Dimas di ponsel itu.


"Mas, Dimas telepon!" ujar Fitri.


"Biarkan saja Fit, lagi malas ngobrol sama Dimas!" sahut Dicky.


"Boleh aku yang angkat Mas? Mana tau penting!" tanya Fitri. Dicky menganggukan kepalanya.


Fitri lalu mulai mengusap layar ponsel Dicky.


"Halo, Dimas, ini Fitri, Mas Dicky sedang istirahat, ada apa ya?" tanya Fitri.


"Fit, tolong berikan ponselnya ke Dicky, aku mau ngomong penting!" sahut Dimas.


"Tapi Dim ..."


"Please Fit, ini penting banget!' mohon Dimas.


Fitri kemudian menyodorkan ponselnya itu ke telinga Dicky.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2