
Fitri berjalan tertatih di tuntun oleh Bi Sumi. Sebenarnya Fitri bisa melakukannya sendiri dengan perlahan, namun dia berusaha untuk mematuhi titah Dicky.
"Nanti untuk makan siang biar Bi Sumi yang antar saja Mbak, Mbak Fitri istirahat saja di kamar!" kata Bi Sumi.
"Aku mau mandi sekalian mencuci baju Dokter, tapi nanti aku minta tolong jemurkan ya Bi!" ujar Fitri.
"Lho, biar Bibi saja yang cuci, Mbak Fitri masih belum pulih, nanti pak Dokter marah!" sergah Bi Sumi.
"Tidak Bi, Dokter sudah menginjinkanku, tapi aku hanya minta Bi Sumi menjemurkannya!" kata Fitri.
"Baiklah Mbak Fitri, kalau perlu Bibi bel saja ke bawah, nanti Bibi segera naik ke atas!" ucap Bi Sumi.
Setelah sampai di kamarnya, Bi Sumi segera kembali turun ke bawah, sementara Fitri langsung bergegas masuk ke kamar mandi.
Sebelum mandi dia mencuci pakaian Dicky di wastafel depan kamar mandi, semua pakaian kotor Dicky di cucinya dengan senang hati.
Setelah selesai, pakaian yang sudah bersih di rendam lagi pakai pewangi dan pelembut. Setelah itu Fitri beranjak mandi.
Selesai mandi, Fitri dengan memakai handuk keluar dari kamar mandi, bermaksud untuk memakai pakaiannya.
"Aduh!" seru Fitri saat dia menyentuh dadanya.
Saat dia melihat ke arah dadanya, matanya sedikit melotot karena kini dadanya sudah terlihat bengkak.
Kemarin-kemarin dia juga merasa sedikit nyeri, namun tidak sesakit hari ini. Kini rasanya semakin nyeri dan sensitif.
Setelah memakai dasternya, Fitri lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya, supaya nyerinya sedikit mereda.
Dia lalu menelepon ke bawah, memanggil Bi Sumi.
Tak lama kemudian, Bi Sumi sudah datang ke kamarnya.
"Bi, Pakaian yang di jemur ada di kamar mandi!" ujar Fitri setengah merintih menahan nyeri.
"Mbak Fitri kenapa?" tanya Bi Sumi cemas.
"Ini Bi, dadaku terasa nyeri dan kini sangat bengkak!" sahut Fitri sambil memegangi dadanya.
"Maaf Mbak, boleh Bibi lihat?" tanya Bi Sumi.
__ADS_1
Fitri langsung membuka kancing dasternya dan menunjukan dadanya pada Bi Sumi.
"Ya ampun Mbak Fitri, itu dadanya bengkak sekali, dan berwarna kemerahan, seperti kena radang, itu ASi nya penuh Mbak, harus di keluarkan!" kata Bi Sumi sedikit panik.
"ASI? Saat di rumah sakit memang aku sempat mengeluarkan ASI, tapi ku abaikan karena sudah tidak ada lagi bayiku!" Fitri menunduk sedih teringat akan kematian bayinya.
"Itu harus segera di keluarkan Mbak, kalau tidak akan semakin parah!" ujar Bu Sumi.
"Bagaimana cara mengeluarkannya Bi?" tanya Fitri.
"Pakai pompa ASI Mbak, apa perlu Bibi telepon Pak Dokter untuk membawakan pompa ASI?" tanya Bi Sumi balik.
"Jangan Bi, aku malu!" cegah Fitri.
"Tapi mau bagaimana lagi, itu memang harus di keluarkan supaya dadanya tidak sakit lagi!" kata Bi Sumi.
"Aku tidak tau Bi!" ucap Fitri bingung.
"Sementara Bibi kasih kompres air hangat saja ya, sebentar Bibi ambilkan!" Bi Sumi segera meraih ember pakaian yang akan di jemur, lalu segera keluar dari kamar itu.
Fitri menggigil menahan rasa Nyeri yang kian menusuk di dadanya, setetes demi setetes ASI nya mulai merembes di pakaiannya, Fitri langsung menyumpalnya dengan sapu tangan. Kemudian dia kembali berbaring.
"Halo!"
"Halo Pak Dokter, anu, nanti pas pulang minta tolong di belikan pompa ASI, kasihan Mbak Fitri, dadanya bengkak dan sakit, karena berhari-hari ASI nya tidak di keluarkan!" jelas Bi Sumi.
"Apa? Pompa ASI? Sekarang bagaimana kondisi Fitri?" tanya Dicky cemas.
"Dia masih di atas menahan nyeri di dadanya, ini Bibi mau buat kompresan untuk mengompres dadanya dengan air hangat!" jawab Bu Sumi.
"Bagus Bi, sementara di kompres dulu sambil menunggu aku pulang, nanti aku akan mampir ke apotik untuk membeli pompa ASI!" jawab Dicky yang langsung menutup teleponnya.
Bi Sumi langsung beranjak ke dapur membuatkan air hangat.
****
Di rumah sakit, sementara menunggu pasien, Dicky termenung mendengar penuturan Bi Sumi barusan.
Selama ini dia tidak terpikir bahwa ASI Fitri terus berproduksi, walaupun bayinya sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Ada rasa bersalah yang menggelayutinya, dia sedikit lalai untuk memperhatikan Fitri.
Ceklek!
Pintu ruangannya terbuka, Dokter Dimas datang dan langsung duduk di hadapan Dicky.
"Belum ada pasien Bro?" tanya Dimas.
"Sudah tadi, cuma karena masih pagi jadi masih sepi, ada apa Dim?" tanya Dicky balik.
"Tidak, aku hanya mampir ke ruanganmu, Oya, aku dengar Ranti sudah resmi bercerai dengan suaminya, kau tak ada niat balik padanya?" tanya Dimas.
"Tidak, sekarang aku mulai nyaman dengan Fitri, dengan segala kelebihan dan kekurangannya!" sahut Dicky.
"Wah, sepertinya kau mulai jatuh hati pada istrimu sendiri!" cetus Dimas.
"Terbiasa bersama menumbuhkan rasa nyaman dan damai, mungkin itu yang aku rasakan saat ini, semakin Fitri tergantung padaku, semakin aku ingin selalu melindunginya!" ungkap Dicky.
"Hei, kalian kan suami istri, apa kalian pernah ... melakukan hubungan layaknya suami istri?" tanya Dimas setengah berbisik.
"Belum, selama ini aku selalu menjaga perasaannya, Fitri mungkin masih trauma dengan kejadian yang pernah menimpanya, aku juga merasa bersalah belum menunaikan kewajibanku sebagai seorang suami!" gumam Dicky.
"Aku salut padamu Dicky! Kau bisa menahan diri dengan wanita yang bahkan sah menjadi istrimu!" ucap Dimas sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Tiba-tiba seorang perawat datang ke ruangan Dicky.
"Dokter, ada pasien di luar!" kata sang perawat.
"Baiklah sus, suruh mereka segera masuk ke ruangan!" titah Dicky.
"Baik Dokter!" sahut sang perawat.
"Oke Dicky, aku akan kembali ke ruanganku, lain nanti siang kita makan kantin ya, aku yang akan mentraktirku!" ujar Dimas.
"Siap Dim, nanti siang makan bareng!" sahut Dicky.
Dimas segera keluar dari ruangan Dicky.
****
__ADS_1