
Sejak kejadian Fitri jatuh dari tangga yang mengakibatkan bengkak dan memar di kakinya, Fitri ijin beberapa hari tidak mengajar, karena dia masih kesulitan berjalan.
"Ingat ya Fit, kau jangan kemana-mana, tunggu aku saja di rumah, jangan memasak atau melakukan hal apapun!" ucap Dicky sebelum dia berangkat ke rumah sakit.
"Kalau aku diam saja, aku akan bosan Mas Dicky!" sahut Fitri.
"Kau bisa menonton TV, atau menjelajah internet, mencari tahu seputar kehamilan, pokoknya aku tidak mau mendengar kau melakukan kegiatan fisik!" ujar Dicky.
"Baiklah Mas!" sahut Fitri.
Kemudian dengan agak pincang Fitri mengantar suaminya itu sampai di garasi mobil.
"Kau juga jangan terlalu banyak jalan, kakimu masih sakit!" cetus Dicky.
"Tapi hanya berjalan ke depan mengantar suamiku masa tidak boleh?" tanya Fitri.
"Kecuali hal itu!" jawab Dicky sambil mengelus rambut Fitri, kemudian mengecup bibirnya.
"Mas Dicky pulang jam berapa?" tanya Fitri.
"Hari ini aku akan pulang siang, aku akan bawa makanan dari luar, jadi kau tak usah memikirkan makan siang oke!?" jawab Dicky.
"Oke deh Mas Dokter!" sahut Fitri.
"Istri pintar!" kembali Dicky mencubit pipi Fitri sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Tak lama kemudian, Dicky sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya.
Setelah mobil suaminya itu hilang di tikungan, Fitri kembali masuk ke dalam rumahnya.
Bi Sumi nampak sedang menyapu lantai rumah itu.
"Bi, nanti kita tidak usah masak untuk makan siang, Mas Dicky akan membawakan makan siang untuk kita!" kata Fitri sambil kembali duduk di sofa.
"Iya Mbak!" sahut Bi Sumi singkat.
"Kalau Bibi sudah selesai, temani aku nonton TV ya Bi, sekalian ngobrol-ngobrol!" kata Fitri.
"Iya Mbak, duluan saja nontonnya, Bibi masih mau menjemur baju dulu di belakang!" ujar Bi Sumi. Fitri lalu menganggukan kepalanya.
****
__ADS_1
Sementara itu, Dicky yang baru sampai di rumah sakit langsung bergegas menuju ke ruangannya.
Saat dia membuka pintu ruangannya, dia sangat terkejut melihat Ranti yang sudah duduk menunggunya.
"Selamat Pagi Dokter Dicky!" sapa Ranti dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Ranti? Mengapa kau masuk ke ruanganku tanpa seijinku?" tanya Dicky dengan tatapan tak suka.
"Aku hanya mengantarkan sarapan untukmu, barangkali istrimu lupa menyiapkannya untukmu!" jawab Ranti.
"Aku sudah sarapan, dan istriku tidak pernah lupa menyiapkan sarapan untuk suaminya!" cetus Dicky.
"Oya? Baguslah, kalau begitu makanan ini kau makan saja kapanpun yang kau mau, supaya kau makin sehat Dicky!" ujar Ranti.
"Ranti, sekali lagi aku peringatkan padamu, jangan pernah lagi bicara atau menghubungiku, please!" mohon Dicky.
"Hmm, sorry Dicky, aku tidak bisa berjanji untuk hal itu, kau tau kini aku wanita bebas, tujuanku cuma satu, aku mau kau kembali padaku seperti dulu, hanya itu!" ujar Ranti yang kemudian segera berjalan keluar dari ruangan Dicky.
Dicky memandang pada kotak yang di berikan Ranti, kalau dulu Ranti memberikan itu, tentunya Dicky akan senang sekali, tapi kini semua sudah berubah.
Dicky lalu mengangkat telepon yang ada di atas mejanya, kemudian dia mulai menelepon Dimas.
"Halo Bro! Ada apa lagi?" tanya Dimas.
"Belum sempat Bro, ini aku batu mau cari sarapan!" sahut Dimas.
"Kau datanglah ke ruanganku, ada sarapan gratis untukmu!" ujar Dicky.
"Oya, dalam rangka apa nih, baiklah, aku segera meluncur!" seru Dimas senang sambil menutup teleponnya.
****
Waktu sudah menunjukan jam 11 siang, Fitri berniat akan merebahkan sebentar tubuhnya, sementara Bi Sumi nampak menyetrika pakaian di ruang laundry.
Baru saja Fitri hendak berbaring di kamar tamu lantai satu, ada suara bel dari gerbang rumah Dicky.
Fitri berjalan keluar dari kamar tamu, namun Bi Siti lebih cepat melangkah.
"Biar Bibi yang bukakan Mbak!" ujar Bi Siti yang dengan cepat berjalan ke arah gerbang.
Tak lama kemudian munculah kepala sekolah juga beberapa guru yang datang untuk menjenguk Fitri.
__ADS_1
BI Siti mempersilahkan mereka duduk lalu dia segera ke dapur hendak membuatkan minuman.
"Selamat siang Bu Fitri, bagaimana kabarnya, kakinya masih bengkak?" tanya Bu Erna.
"Sudah lumayan Bu, bisa jalan pelan-pelan walau sedikit pincang, tidak seperti waktu itu sakit sekali rasanya!" jawab Fitri.
Bu Ria menyodorkan bungkusan yang berisi buah-buahan dan makanan.
"Ini sekedarnya dari kami Bu, semoga lekas pulih!" kata Bu Ria.
"Terimakasih ya, kalian baik sekali, pakai repot-repot menjenguk segala!" ucap Fitri sungkan.
"Tidak repot kok, sekalian tau rumah Bu Fitri, tadi Pak Donny yang menunjukan jalannya!" kata Bu Ria.
"Hmm, hanya sakit kaki saja sudah seperti sakit parah!" gumam Bu Sita yang juga ikut mengunjungi Fitri.
"Oya Bu Fitri, Mulai besok dan seterusnya, sudah ada fasilitas antar jemput untuk para guru yang kesulitan dalam hal transportasi, barangkali Bu Fitri berminat, siapa tau suaminya tidak sempat mengantar jemput!" ujar Pak Jamal.
"Terimakasih Pak, saya merasa terbantu dalam hal ini, dari pada saya naik taksi!" ucap Fitri senang.
"Biasanya juga di antar sama Pak Donny, iya kan Pak Donny?" celetuk Bu Sita.
"Tidak sering juga kok Bu, itu juga kebetulan karena kami searah!" sahut Pak Donny.
BI Sumi muncul sambil membawa satu nampan besar minuman dingin.
"Wah, kebetulan kami sedang haus, terimakasih ya, segar sekali kelihatannya ini!" ujar Pak Jamal sambil mengambil gelasnya dan meneguknya habis.
"Bi, tolong tambahkan minuman Pak Jamal!" titah Fitri. BI Sumi menganggukan kepalanya patuh, lalu dia kembali ke dapur.
"Bu Fitri, rumahnya besar sekali, nyaman dan teduh lagi, kok Bu Fitri mau sih jadi guru yang gajinya standar, kan suaminya Dokter, kaya lagi?!" tanya Bu Ria.
"Iya Bu Fitri, kalau saya jadi Bu Fitri, mendingan saya di rumah saja duduk manis, nonton TV, main ponsel, baca novel!" timpal Bu Erna.
"Aku suka mengajar Bu, sejak sebelum menikah saya sudah mengajar di kawasan pemulung itu, mengajar anak-anak jalanan, kasihan mereka kurang pendidikan!" jawab Fitri.
"Tunggu Bu, waktu itu saya dengar kabar, ada seorang guru relawan yang di perkosa di gudang tua, guru tersebut sering mengajar anak-anak jalanan, apakah itu Bu Fitri?" tanya Bu Ria yang rumahnya memang dekat dengan sekolah.
Tiba-tiba Fitri terdiam, dia kembali teringat dengan kejadian pemerkosaan yang menimpanya.
Bersambung ...
__ADS_1
****