Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

Pada jam istirahat sekolah, Fitri nampak masih duduk di meja kerja nya yang ada di tuang guru, sedang memeriksa tugas para muridnya.


Kini kondisi kaki Fitri sudah pulih, dia tidak lagi merasa nyeri saat berjalan.


"Bu Fitri tidak istirahat makan di kantin?" tanya Pak Donny yang tiba-tiba mendekati Fitri di mejanya.


"Oh, tidak Pak, masih belum selesai ini, nanti saja pas jam pulang sekolah!" kilah Fitri.


"Baiklah, apa Bu Fitri mau titip sesuatu makanan di kantin? Biar sekalian saya belikan!" tawar Pak Donny.


"Terimakasih Pak, biar nanti saya titip Bu Erna saja!" tukas Fitri sambil tetap memeriksa buku muridnya.


"Okelah, kalau begitu saya duluan ya Bu!" Pamit Pak Donny dengan wajah sedikit kecewa.


Fitri hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Tumben Bu Fitri menolak tawaran Pak Donny? Biasanya selalu makan sama-sama di kantin!" celetuk Bu Sita tiba-tiba. Dia sedang menikmati makanan yang dia bawa dari rumah, Bu Sita jarang berbaur dengan para guru, bahkan makanan pun dia selalu membawanya dari rumah.


"Tugas anak-anak belum selesai di periksa Bu Sita!" jawab Fitri singkat.


"Bu Fitri lulusan dari mana sih? Kok periksa tugas murid kelas satu saja lama sekali?" tanya Bu Sita.


"Hanya lulusan di universitas kecil di Sukabumi!" sahut Fitri.


"Pantesan!" gumam Bu Sita.


Beberapa orang guru yang baru selesai istirahat di kantin nampak sudah kembali ke ruangan itu, termasuk Bu Erna dan Bu Ria.


"Lho, Bu Fitri kenapa tidak ke kantin? Tidak lapar Bu?" tanya Bu Erna.


"Tidak, aku sekalian makan siang saja nanti dengan suamiku!" jawab Fitri.


"Pak Dokter nanti jemput ya Bu?" tanya Bu Ria.


"Iya Bu, siang ini dia menjemput!" sahut Fitri.


Bu Sita yang mendengarkan percakapan mereka terlihat menyunggingkan senyumnya.


"Pak Dokter kelihatan sayang sekali dengan Bu Fitri, aku saja yang melihatnya jadi iri!" ujar Bu Erna.


"Bu Erna bisa saja!" sahut Fitri.


Teeeeet!


Terdengar suara bel masuk kelas. Para guru mulai sibuk masuk ke kelasnya masing-masing.


Fitri juga beranjak untuk kekelas nya dengan membawa buku tugas murid.

__ADS_1


Saat Fitri masuk ke dalam kelasnya, Fitri agak terkejut melihat Dara yang sudah tidak ada lagi di tempatnya.


"Lho, anak-anak tau tidak Dara kemana? Tadi kan dia ada dan ikut pelajaran, kenapa sekarang dia menghilang?" tanya Fitri.


Semua murid menggelengkan kepalanya tanda tidak tau, karena waktu jam istirahat anak-anak asyik bermain dan tidak memperhatikan keberadaan temannya.


"Meira, bukankah biasanya kau selalu bermain dengan Dara? Kau juga tidak tau Dara kemana?" tanya Fitri lagi pada Meira.


"Tidak tau Bu, tadi dia ada di kelas, aku ajak main di luar kelas dia tidak mau, ya sudah aku main dengan teman lain saja!" Jawab Meira.


Fitri menghempaskan tubuhnya di bangkunya, biasanya tidak pernah ada kejadian murid menghilang begini.


"Ya sudah, kita lanjutkan pelajaran kita dulu, buka halaman 35 di buku atau fotokopian pelajaran Bahasa Indonesia!" ujar Fitri.


Semua murid mengeluarkan buku atau fotokopian pelajaran lalu mereka mulai mencari halaman 35.


****


Siang itu seperti biasa, Dicky sudah sampai duluan di sekolah Fitri, dia lalu duduk di bangku lobby untuk menunggu istrinya itu.


Bu Sita yang turun terlebih dahulu langsung datang menghampiri Dicky.


"Selamat siang Pak Dokter, sedang menunggu Fitri ya?" tanya Bu Sita yang langsung duduk di samping Dicky, membuat Dicky agak risih.


"Iya Bu, apakah istriku sudah pulang? Kalau sudah bisa minta tolong panggilkan?" tanya Dicky balik.


Dicky lalu diam tidak bicara lagi, dia mulai mengambil ponselnya untuk menelepon Fitri.


"Halo Mas!" kata Fitri.


"Sayang, kau sudah selsai? Aku sudah menunggumu di bawah.


"Sebentar lagi ya Mas, aku sedang menanyakan murid ku Dara pada Pak Jamal dan satpam sekolah, nanti aku langsung ke lobby kok!" jawab Fitri.


"Oke sayang, jangan lama-lama ya, kangen!" ucap Dicky sebelum ponselnya di matikan.


Bu Sita masih nampak duduk di samping Dicky.


"Ibu tidak pulang?" tanya Dicky yang merasa kurang nyaman dengan kehadiran Bu Sita.


"Ehm, Pak Dokter, saya boleh tidak nebeng sama Pak Dokter, rumah saya juga se arah kok dengan Pak Dokter!" pinta Bu Sita.


"Tergantung istriku, kau minta saja padanya, bukankah dia temanmu Bu?" sahut Dicky.


"Yah tapi kan Pak Dokter yang punya mobilnya!" kata Bu Sita.


"Kepunyaan ku juga kepunyaan istriku Bu, kalau istriku mengijinkan kau boleh ikut kami!" ujar Dicky.

__ADS_1


Wajah Bu Sita berubah masam.


Tak lama kemudian, Fitri sudah muncul dari arah tangga, dia langsung menghampiri Dicky yang sudah menunggunya.


"Maaf Mas, lama ya menunggu?" tanya Fitri.


"Hmm, lumayan Fit, kita pulang yuk!" ajak Dicky sambil berdiri dan merangkul Fitri berjalan ke arah pintu lobby.


"Bu Fitri!" panggil Bu Sita. Fitri menoleh kebelakang dan menghentikan langkahnya.


"Ada apa Bu sita?" tanya Fitri.


"Aku boleh numpang tidak? Rumah ku tidak jauh dan searah juga sama kalian!" sahut Bu Sita.


"Boleh saja Bu, ayo!" ajak Fitri.


Dengan senyum cerah Bu Sita mengikuti mereka dari belakang.


Ketika dalam perjalanan, di perempatan lampu merah, mobil Dicky berhenti karena lampu sedang merah.


Tiba-tiba mata Fitri menangkap dua orang anak yang sedang mengamen dari mobil ke mobil.


Dan lebih terkejut lagi Fitri saat dia tau siapa anak itu.


"Dara!!" Pekik Fitri.


"Mas, itu Dara, tadi dia menghilang dari kelas, aku mau mengejarnya Mas, aku mau turun!" seru Fitri.


"Tunggu Fit!" cegah Dicky. Namun Fitri telah lebih dulu membuka pintu mobil dan mendekat ke arah Dara yang kini mulai menepi.


"Sudah Pak! Biarkan saja Bu Fitri! Kita tunggu dia saja sambil ngobrol ya Pak!" kata Bu Sita.


Tidak ada tanggapan dari Dicky, matanya fokus pada Fitri yang kini terlihat sedang berbicara pada kedua pengamen itu.


"Dara, tadi kenapa kau menghilang dari kelas? Kenapa tidak pamit pada ibu?" tanya Fitri.


Dara diam saja tidak menjawab, wajahnya menunduk.


"Kamu Dina kan kakaknya Dara? Apa kamu juga menghilang dari kelas mu dan pergi meninggalkan sekolah bersama Dara? Kenapa kalian lebih suka mengamen dari pada sekolah??" tanya Fitri pada Dina sang kakak.


Dina juga diam saja, tiba-tiba Dina menggandeng tangan Dara, lalu mereka berdua segera berlari meninggalkan Fitri.


"Dara! Dina! Tunggu!" teriak Fitri, namun mereka melesat dengan cepat dan masuk ke dalam sebuah gang kecil.


Dengan langkah gontai, Fitri berjalan menuju mobil Dicky yang baru menepi di pinggir jalan itu setelah melewati lampu merah.


****

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys ...


__ADS_2