Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Obat Tetes Mata


__ADS_3

Fitri terbaring di tempat tidurnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


Setelah pandangannya sempat kabur tadi, kini berangsur-angsur membaik.


Fitri mulai bangkit dan memgambil handuknya, lalu bergegas ke kamar mandi.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Fitri kemudian mulai keluar dari kamarnya dan menuju dapur.


"Bu Sumi, sedang sibuk apa?" tanya Fitri.


"Mbak Fitri sudah sehat? Bibi sedang siapkan bahan untuk makan siang nanti!" jawab Bu Sumi.


"Iya Bi, tadi tiba-tiba pandanganku kabur dan burem, aku mungkin butuh obat tetes mata, bisa Bibi membelikannya untukku di apotik?" tanya Fitri.


"Tentu saja Mbak, sini biar Bibi belikan di apotik depan, Mbak Fitri tunggu sebentar ya!" jawab Bi Sumi yang langsung bergegas keluar dari rumahnya.


Dengan cepat Bi Sumi pergi ke apotik yang letaknya tidak jauh dari rumah Dicky itu.


Sementara menunggu, Fitri duduk di ruang tengah sambil menyalakan TV, dia menonton berita di TV nya itu, namun matanya juga tidak jelas melihat layar TV, gambarnya buram dan berbayang, membuat kepala Fitri bertambah pusing.


Kring ... Kring ... Kring ...


Terdengar suara dering telepon dari meja telepon, Fitri kemudian beranjak ke meja telepon untuk mengangkat teleponnya itu.


"Halo selamat pagi!" sapa Fitri.


"Selamat Pagi, bisakah saya bicara dengan Dokter Dicky? Apakah Dokter Dicky masih di rumah?" tanya suara seorang laki-laki.


"Maaf Pak, Dokter Dicky nya sudah berangkat ke rumah sakit, Apakah ada pesan? Saya Fitri istri Dokter Dicky!" jawab Fitri.


"Oh, maafkan saya, daya Dio, suami dari Ranti, hanya ingin menginformasikan bahwa kini Ranti sedang di rujuk ke rumah sakit kanker di jakarta, jadi Pak Dokter tidak perlu datang ke sini!" jelas Dio yang ternyata si penelepon itu.


"Iya Pak, memang kami tidak jadi datang ke Papua, baiklah nanti akan saya sampaikan!" kata Fitri.


"Terimakasih Bu Fitri!" ucap Dio.


"Jadi Ranti akan kembali ke Jakarta? Ke rumah sakit kanker?" tanya Fitri.


"Iya Bu Fitri, mohon doakan Ranti, supaya dia bisa sembuh dan ada mujizat, karena sampai hari ini, kondisinya masih sama!" pinta Dio.

__ADS_1


"Iya Pak, saya selalu mendoakan yang terbaik buat Ranti!" sahut Fitri.


"Terimakasih Bu Fitri, jikalau ada dosa dan kesalahan Ranti di masa lampau, mohon di maafkan, terus terang saya cukup dilema ini, saya yang selalu ada di sampingnya, tapi dalam racauannya Ranti selalu menyebut nama Dicky! Mungkin cintanya hanya untuk Dicky seorang, sayapun sudah pasrah!" ungkap Dio sedih.


"Yang sabar ya Pak, semoga saja keadaannya akan semakin membaik, supaya keluarga kalian bisa bersama lagi!" ucap Fitri.


"Terimakasih Lho Bu Fitri, sudah mendengarkan keluh kesah saya, selamat pagi!" ucap Dio sebelum mematikan sambungan teleponnya.


Fitri duduk terpekur setelah menerima telepon dari Dio, dalam keadaan sakit dan kritis Ranti hanya mengingat Dicky, ada yang perih di sudut hatinya.


Ternyata Ranti memiliki cinta yang sedalam itu pada Dicky, tapi kenapa mereka tidak bersama sejak awal? Kenapa Ranti malah menikah dengan Dio? Dan kenapa juga Dicky harus menikah dengan Fitri?


Banyak pertanyaan yang berkecamuk di kepala Fitri, hingga kepalanya kembali pusing.


Fitri lalu menyandarkan tubuhnya di sofa.


Tak lama kemudian Bi Sumi sudah kembali dengan membawa obat tetes mata di tangannya.


"Mbak Fitri, ini obat tetes matanya, mau Bibi bantu untuk meneteskannya?" tawar Bi Sumi.


"Boleh Bi!" jawab Fitri.


Fitri lalu mulai berbaring di sofa itu, Bi Sumi mulai membantu Fitri untuk meneteskan obat tetes mata itu. Kemudian Fitri memejamkan matanya.


Namun pandangannya malah semakin kabur, beberapa kali Fitri mengerjapkan matanya, nun hasilnya tetap sama, pandangan Fitri makin kabur.


"Kok makin burem ya Bi? Obat matanya asli kan ya?" tanya Fitri.


"Asli lho Mbak, ini kan yang ada merk-nya, yang biasa di pakai orang-orang!" jawab Bi Sumi.


"Apa jangan-jangan mataku yang mulai mines Bi? Selama ini aku tidak pernah pakai kacamata, mungkin sekarang mataku mulai mines, mungkin aku harus pakai kaca mata Bi!" ujar Fitri.


"Oh mungkin juga Mbak, anak jaman sekarang saja banyak yang pakai kaca mata, nanti minta temani Pak dokter saja konsultasi ke dokter mata!" usul Bi Sumi.


"Iya deh Bi, nanti aku minta antar Mas Dicky periksa mata, aku harus pakai kaca mata mungkin!" sahut Fitri.


"Kalau begitu Mbak Fitri istirahat saja dulu!" ujar Bi Sumi.


"Aku sudah terlalu banyak istirahat Bi, aku mau banyak aktifitas, bisakah Bi Sumi menemaniku menyusun barang di kamar bayi?" tanya Fitri.

__ADS_1


"Boleh Mbak, sebentar ya Bibi cek ke dapur dulu, mana tau ada kompor yang belum di matikan!" ujar Bi Sumi.


"Kalau begitu aku duluan ke atas ya Bi, nanti Bi Sumi susul aku ke kamar bayi ya!" kata Fitri yang langsung beranjak dari tempatnya.


"Hati-hati Mbak, pelan-pelan saja jalannya!" seru Bi Sumi mengingatkan.


"Iya Bi, walau Burem aku masih bisa melihat kok!" sahut Fitri yang langsung berjalan pelan menaiki tangga.


Bu Sumi juga langsung beranjak ke dapur memeriksa kondisi dapur.


Tiba-tiba kembali terdengar telepon berdering, Bi Sumi langsung bergegas mengangkat teleponnya.


"Halo ..."


"Halo Bi, ini Dicky, Fitri ada Bi? Kok aku telepon ke ponselnya tidak di angkat!" tanya Dicky.


"Oh, Mbak Fitri sedang di kamar bayi Pak, katanya mau membereskan barang-barang Dedek minta di bantuin Bibi!" jawab Bi Sumi.


"Oh, Fitri baik-baik saja kan Bi?" tanya Dicky.


"Hmm, tadi pagi matanya burem katanya, minta tolong Bibi belikan obat tetes mata, malah tambah burem, mungkin perlu di periksa ke dokter mata Mbak Fitrinya Pak Dokter!" jelas Bi Sumi.


"Baik Bi, nanti siang aku langsung pulang cepat dari rumah sakit, minta tolong jaga Fitriku ya Bi, aku akan cepat pulang!" kata Dicky.


"Beres Pak Dokter, ini Bibi mau nyusul ke atas, dia kelihatan semangat saat ingin membereskan kamar bayinya, padahal masih tiga bulanan lagi lahirnya!" ungkap Bi Sumi.


"Bi, jangan bilang-bilang Fitri ya kalau aku akan pulang cepat hari ini, aku mau kasih kejutan!" pinta Dicky.


"Beres Pak Dokter, rahasia di jamin aman!" sahut Bi Sumi sebelum menutup teleponnya.


Kemudian Bu Sumi segera menyusul Fitri ke atas menuju ke kamar bayi.


Bersambung ...


****


Hai Readers ...


Walaupun ada cerita sedih dan mengandung bawang di sini, tapi akhir dari cerita ini adalah happy ending.

__ADS_1


So, selamat menikmati karya ala kadarnya Author, jangan lupa dukungannya guys ... 😉😁


Ayo Tetap Semangat ...


__ADS_2