
Malam itu Dicky melajukan mobilnya bersama dengan Fitri menuju ke rumah sakit, mereka berencana akan menjaga Bu Anjani di sana.
Jalanan terlihat agak macet, sudah jadi pemandangan sehari-hari kemacetan di kota ini.
Mereka melewati sebuah hotel bintang lima di jalan protokol itu.
Saat Fitri melayangkan pandang di tengah kemacetan itu, matanya menangkap sosok yang di kenalnya sedang keluar dari dalam mobil yang terparkir di parkiran depan hotel.
"Mas, itu bukannya Ken ya? Kelihatannya dia baru masuk hotel, sama perempuan lagi!" kata Fitri sambil menunjuk ke sebuah hotel besar yang ada di sisi sebelah kiri jalan.
"Iya Fit, itu beneran Ken, kurang ajar dia! Katanya dia sedang ada urusan sehingga tidak bisa menjaga Ibu, tidak taunya malah kencan di hotel!" dengus Dicky kesal.
"Tapi Mas, sepertinya perempuan yang bersamanya itu bukan Dinda deh, itu permpuan lain Mas, jangan-jangan Ken ada main di belakang Dinda, kasihan Dinda!" ucap Fitri.
Saat Fitri melihat Ken turun dari mobil dan merangkul wanita masuk ke dalam hotel, namun wanita itu bukan Dinda pacarnya.
"Dasar laki-laki buaya!" maki Dicky.
"Bisa-bisanya Ken berbuat itu pada Dinda ya Mas, padahal mereka dulu terlihat sangat serius!" ujar Ken.
Mereka kemudian kembali berjalan menuju ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Dicky dan Fitri berjalan menyusuri lorong menuju ke kamar perawatan Bu Anjani.
Di depan kamar itu, Dua orang telihat berdiri menjaganya. Melihat kedatangan Dicky dan Fitri mereka menganggukan kepalanya.
"Selamat siang Dokter Dicky!" sapa mereka.
Dicky juga menganggukan kepala nya kemudian masuk ke dalam kamar itu sambil menuntun tangan Fitri.
Sebuah kamar VIP yang luas, namun menyimpan segudang kesunyian karena tidak ada seorangpun di dalam kamar itu selain Bu Anjani yang nampak terbaring lemah sendirian.
Dicky kemudian menghampiri ibu kandungnya itu.
"Bu, aku datang, aku akan menjaga Ibu di sini, aku datang bersama Fitri Bu, jadi Ibu tidak sendirian lagi!" ucap Dicky sambil menggenggam tangan Bu Anjani yang dingin itu.
Bu Anjani nampak mengerjapkan matanya kemudian menatap Dicky dalam.
"Kau datang lagi Nak, Ibu senang kau bisa datang ke sini!" kata Bu Anjani.
"Iya Bu, Ibu istirahat saja, jangan banyak bicara atau berpikir, aku dan istriku akan menjaga dan menemani ibu!" ucap Dicky.
Hening
__ADS_1
Hanya terdengar suara monitor jantung, suasana semakin sunyi dan mencekam.
Dicky kemudian mulai menyalakan lagu klasik melalui ponselnya. Musik itu adalah untuk merelaksasi pikiran.
"Seharusnya di setiap sudut ruang rawat inap di stel musik, karena musik bisa membuat orang terhibur dan tenang, tidak sunyi dan sepi, malah membuat orang merasa takut dan sendiri!" gumam Dicky.
"Kau bisa usulkan itu Mas, kalau itu demi kebaikan pasien yang sakit!" sahut Fitri.
"Yah, sekarang rumah sakit ini bukan lagi wewenang ku, nanti kita buat di klinik kita saja, musik klasik yang dapat merelaksasi pikiran!" ucap Dicky.
"Dicky!" panggil Bu Anjani dengan suara bergetar dan agak di paksakan.
Dicky kemudian langsung mendekat ke arah ibunya itu.
"Ya Bu, aku pikir Ibu sudah tidur, ada apa?" tanya Dicky.
"Rumah sakit ini milikmu Nak, semuanya sudah di rubah atas namamu, tidak ada yang berubah lagi, maafkan Ibu, saat itu Ibu begitu emosi!" ucap Bu Anjani lirih.
Ada butiran bening yang jatuh dari mata Bu Anjani.
"Sudahlah Bu, Ibu istirahat saja ,jangan memikirkan apapun!" balas Dicky.
"Kalau nanti Ibu sudah tidak ada menyusul Ayahmu, kau kelola dengan baik rumah sakit ini ya, ini amanat terakhir ayahmu nak!" lirih Bu Anjani.
"Panggil Fitri Nak, suruh dia mendekat pada Ibu!" ucap Bu Anjani.
Fitri yang mendengar ucapan Ibu mertuanya itu langsung beringsut mendekati Bu Anjani.
"Ya Bu, aku di sini!" kata Fitri yang langsung mengelus tangan Bu Anjani.
"Maafin Ibu ya Fit, dulu Ibu pernah sangat menyakiti hatimu, maafkan Ibu!" ucap Bu Anjani.
"Iya Bu, aku sudah memaafkan Ibu!" sahut Fitri.
"Kalau nanti Ibu pergi, jaga anak Ibu ya, jadikan cucu-cucu Ibu kelak seperti Papanya, bekerja dengan hati, melayani dengan senyum!" bisik Bu Anjani.
"Iya Bu, Ibu jangan khawatir, tanpa Ibu suruh pun, aku pasti akan terus mendamping Mas Dicky, menjaga cucu-cucu Ibu dengan baik!" jawab Fitri.
"Terimakasih Fitri, kalau begitu Ibu jadi tenang!" ucap Bu Anjani.
Tak berapa lama kemudian Bu Anjani nampak tertidur.
****
__ADS_1
Pagi-pagi benar Fitri sudah mandi dan berganti pakaian, rencana pagi ini dia akan pulang ke rumah untuk mengurus anak-anaknya dan bersiap mengajar di sekolah.
Dicky juga terlihat sudah bangun, dia duduk dan memandangi Ibunya yang masih berbaring di tempatnya.
"Mas, aku harus pulang ke rumah, kasihan Alex semalaman di tinggal! Mas Dicky kalau masih mau di sini tidak apa-apa, aku bisa pulang naik taksi!" kata Fitri.
"Aku juga mau pulang Fit, aku juga harus persiapan buka klinik sekarang!" ujar Dicky.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka, Ken masuk ke dalam dengan wajah yang terlihat kusut dan rambut sedikit berantakan.
"Maaf, kalau kalian mau pulang, aku yang akan menjaga Ibu menggantikan kalian!" kata Ken.
"Ken, apa urusanmu sudah selesai?" tanya Dicky.
"Sudah Bang!" sahut Ken.
"Urusan berkencan dengan wanita di hotel!!" cetus Dicky.
"Bang Dicky ta-tau dari mana Bang?" tanya Ken gugup.
"Tidak penting tau dari mana! Aku tak mengira kalau kau bisa-bisanya berbuat mesum terhadap wanita! Memalukan!" sentak Dicky.
Ken nampak menunduk, dia tidak bisa menyangkal lagi apa yang Dicky tudingkan padanya.
"Ken, bagaimana hubunganmu dengan Dinda, si guru TK itu?" tanya Fitri.
"Baik-baik saja Mbak!" jawab Ken.
"Baik-baik saja? Aku kira kau sudah putus dengannya, lalu kenapa kau mengkhianati Dinda??" tanya Fitri.
"Aku ... aku kan hanya ingin mencoba-coba Mbak!" kilah Ken.
"Aku baru tau sekarang, orang kalangan atas memiliki perbuatan tidak terpuji, kau dan Keyla sama saja! Menjual sebuah harga diri dan kehormatan dengan sangat murah!!" sengit Dicky.
"Bang Dicky tau dari mana kalau Keyla juga menjual harga dirinya??" balas Ken.
"Kau mau tau?? Waktu itu dia datang ke klinik, dia merayuku dan membuka pakaiannya di hadapanku, seolah-olah aku begitu mudah di perdaya olehnya, sikapnya tak ubahnya seperti pelacur jalanan yang menjajakan diri demi sebuah keinginan, ternyata kau sama saja! Berkencan dengan wanita di hotel! Aku heran ternyata Ibuku di kelilingi oleh orang-orang seperti kalian!" sengit Dicky.
"Apa?? Jadi Mas Dicky pernah melihat Keyla tanpa pakaian??" tanya Fitri terbelalak.
Bersambung ...
__ADS_1
****