Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Tidak Ada Kabar Dari Raihan


__ADS_3

Suara langkah yang baru saja menapaki kaki keluar dari kamar mandi, berjalan mendekati kekasihnya yang sedang berias di depan cermin. Tubuhnya hanya di balut dengan celana pendek saja dan membiarkan dadanya terekspose. Hingga membuat mata cantik itu bergulir ke arah sumber suara.


"Udah selesai mandinya, By?" tanya Riana mengulas senyum tipis. Untuk sesaat rasa gelisah yang ia rasakan perlahan menyurut. Ia tidak ingin larut dalam pikiran buruknya yang belum tentu benar.


"Udah. Aku tambah tampan 'kan?" Kedua alis Raihan nampak naik turun, menggoda Riana. Sementara satu tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.


"Ck, kamu percaya diri banget sih," seru Riana. Lalu menyambar handuk kecil dari tangan Raihan, berniat membantu kekasihnya itu untuk mengeringkan rambutnya.


Raihan duduk di atas ranjang dan Riana siap membantu Raihan. "Kan aku memang tampan sayang. Buktinya kamu tergila-gila sama aku." Raihan bicara dengan penuh percaya diri. Matanya terpejam menikmati sentuhan tangan Riana yang dengan lembut mengusap-usap rambutnya yang hitam lebat.


Mendengar ucapan Raihan, Riana hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Ia tidak membantah karena yang dikatakan Raihan benar adanya.


"Iya, aku emang tergila-gila sama kamu, puas hm?" Dan Riana melempar handuk itu di sisi paha Raihan. Lalu berkacak pinggang dengan mata yang membelalak penuh.


Raihan tidak dapat menahan gelak tawanya. Ia begitu menyukai wajah kesal Riana saat dirinya sedang menggoda.


"Bibirnya jangan maju gitu dong sayang, nanti aku gigit loh," kata Raihan tersenyum gemas sembari menangkup kedua pipi Riana.


Riana tetap dengan bibir mengerucutnya. Untuk kali ini ia tidak ingin luluh dengan mudah hanya karena senyum kekasihnya itu.


"Jadi nggak mau senyum nih?" Namun Raihan justru semakin menggoda Riana. Tangannya merengkuh tubuh Riana dan memeluknya. "Jangan ngambek dong sayang. Kalau bibirnya kayak gitu 'kan nggak cantik lagi."


Dan Riana tetap dalam mood diam. Bahkan ia melepaskan pelukan Raihan dan memunggungi pria itu. Raihan tentu tidak kehabisan akal, ia langsung menarik pinggul Riana lalu memberikan ciuman bertubi-bertubi di wajah Riana.


"Astaga, geli Rai...." ucapnya ketika bibir Raihan yang basah itu mengecup setiap inci wajahnya.


Raihan terkekeh. "Salah sendiri ngambek kayak gitu." Lalu kembali mengecup wajah dan bibir Riana secara bertubi-tubi.


"Rai... By...." lirihnya menahan rasa geli di wajahnya. "Yaudah, aku udah nggak ngambek lagi, udah dong ciumnya. Nanti make up aku luntur." Dan tangan Riana berusaha menjauhkan dada Raihan yang membusung tanpa dibalut pakaian.


"Em, iya deh Padahal aku lagi asik mainin bibir kamu loh," sahutnya terkekeh.


"Ish, kamu mesum banget sih," cebik Riana.

__ADS_1


Raihan mengangkat kedua bahunya. Lalu berjalan menuju lemari, disana memang terdapat pakaian miliknya yang sengaja ia tinggalkan, sebab Biasanya ia akan menumpang mandi tanpa menginap.


"Aku pake baju dulu. Nanti aku anter kamu ya, tapi aku nggak bisa jemput kamu loh. Kamu langsung pulang, jangan nunggu aku." Raihan melihat pantulan dirinya di depan cermin, mengenakan kemeja maroon pemberian dari sang kekasih.


"Iya, aku inget kok. Kamu kerja lapangan lagi 'kan?" kata Riana. Tentu ia selalu ingat apapun yang menyangkut tentang Raihan.


"Iya dan kali ini lebih lama. Sekitar satu minggu," sahutnya sembari mengenakan gel merata pada rambutnya, hingga kemudian ia menata rambut sedemikian rapi.


"Iya, tapi jangan lupa kabarin aku loh." Riana memberikan ultimatum terlebih dahulu. Ia sangat paham kebiasaan Raihan yang jika sudah sibuk dengan pekerjaannya, maka akan mengabaikan ponselnya.


"Siap sayang."


Setelah penampilan sudah sempurna serta Riana sudah selesai membenahi make up yang sempat rusak karena ulah Raihan. Keduanya keluar dari apartemen dengan jemari yang saling menaut hingga masuk ke dalam mobil. Sesekali mereka bercengkrama dan Riana kembali mendapatkan kecupan singkat di bibirnya setelah mobil mereka sudah tiba di depan gedung pencakar langit.


"Dah sayang." Riana melambaikan tangannya yang disambut senyuman oleh Raihan. Sebelum kemudian mobil yang dikendarai Raihan berlalu meninggalkan gedung perusahaan menuju Bandung.


***


"Ri, udah selesai belum? Kita makan siang yuk?" Sella menepuk bahu Riana, lalu melabuhkan tubuhnya di kursi yang kosong, bersisian dengan Riana.


"Udah kok, ini mau di save dulu," katanya masih menatap lurus layar komputer. Sebelum kemudian menekan tombol close pada layar satu slide yang baru selesai ia kerjakan. "Udah yuk...." Lalu keduanya beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


Di kantin nampak begitu ramai, tetapi mereka sudah mendapatkan tempat duduk yang biasa mereka tempati saat makan siang.


"Kenapa Ri? Masih mikirin Raihan?" tanya Sella menebak. Yang ia lihat sejak tadi, Riana baru memasukkan makanannya tiga suap saja dan sisanya, temannya itu hanya mengaduk-mengaduk makanan itu.


"Iya Sel. Terakhir kali, Rai balas chat aku dua hari yang lalu. Sekarang belum ada kabar lagi," lirihnya sendu. Lagi-lagi ia merasa melow. Katakanlah Riana wanita lemah dan mudah menangis. Memang pada kenyataannya Riana adalah wanita yang mudah menangis dan terbawa perasaan. Menonton drama sedih saja wanita itu membanjiri wajahnya dengan air mata. Sudah pasti sikap Raihan yang sering menghilang tanpa kabar itu membuat Riana semakin melow dan gelisah.


"Yaudah Ri, coba kamu tunggu sampai malam. Mungkin Raihan emang benar-benar sibuk, jadi nggak sempet kasih kamu kabar." Dan kali ini Sella menjaga lisannya, ia tidak ingin menjadi kompor yang siap menambahkan bensin ke dalam api. Setidaknya tidak ingin menambah beban pikiran Riana.


"Iya Sell...." Riana hanya bisa mengangguk lemah. Ia berharap apa yang dikatakan oleh Sella benar, berharap Raihan akan menghubungi dirinya di malam hari.


Namun dugaannya salah, sudah memasuki dua minggu, Raihan tidak kunjung memberi kabar kepadanya. Sejak tadi Riana hanya membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sembari memainkan ponsel. Ia ingin mencoba kembali menghubungi Raihan karena sudah beberapa hari ini nomor ponsel Raihan tidak bisa dihubungi.

__ADS_1


Riana kembali mencoba mendial nomor Raihan, seketika wajahnya kembali kecewa ketika mendengar hanya suara operator yang terdengar di seberang sana. Pelupuk matanya sudah dihiasi air mata yang sudah meleleh dan siap ditumpahkan.


"Kamu kemana sih Rai? Apa kamu belum pulang dari Bandung?" gumamnya berasumsi. Belakangan ini ia berpikir jika Raihan belum kembali dari Bandung. Karena jika sudah kembali, maka kekasihnya itu sudah pasti akan menemui dirinya.


Riana menyeka sudut matanya yang berurai air mata, ia tetap ingin berpikir positif. Meskipun terselip rasa curiga dan pikiran-pikiran negatif mengenai Raihan yang mungkin saja dekat dengan wanita lain.


"Nggak mungkin. Raihan nggak mungkin kayak gitu. Aku tau banget kalau Raihan benar-benar cinta sama aku," lirihnya. Yang sebenarnya adalah ia hanya sedang menutupi pikiran yang buruk dengan terus memaksakan dirinya agar berpikir positif.


Tidak berselang lama, suara dering ponsel menyentakkan lamunan serta telinga Riana. Wanita itu terkesiap saat melihat siapa yang sedang menghubungi dirinya, tertera nomor tidak dikenal. Dengan ragu Riana menjawab panggilan itu.


"Hallo," ucapnya pada seseorang di seberang sana yang entah siapa.


"Ri, ini aku. Maaf aku nggak bisa telpon kamu belakangan ini."


Riana amat terkejut, bahkan ia reflek beranjak duduk karena begitu tidak percaya akan suara yang ia dengar. Nomor tidak dikenal itu ternyata adalah Raihan, kekasihnya... tunangannya yang sangat ia rindukan.


"By, kamu kemana aja sih? Kamu tau nggak, aku khawatir banget sama kamu. Aku juga kangen sama kamu." Riana kembali dalam mood cerewet, ia menumpahkan isi hatinya kepada seseorang yang membuatnya gelisah seperti itu setiap hari.


"Maaf. Untuk saat ini ke depannya kamu jangan ganggu aku ya Ri." Suara Raihan di seberang sana terdengar berat. Entah apa yang pria itu pikirkan.


Riana yang mendengar ucapan Raihan, berusaha mencerna. "Ma-maksud kamu apa By?" Mendadak jantung Riana berdetak dua kali lebih cepat.


"Aku mau kita break dulu. Jadi jangan ganggu aku lagi."


Deg


Bersambung


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...

__ADS_1


__ADS_2