Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Yang Tak Terpikirkan


__ADS_3

Tubuh Fitri terasa lemas, melihat siapa laki-laki yang kini berdiri di hadapannya.


Tidak pernah sebelumnya terpikirkan, menduga ataupun mengira, kalau laki-laki di depannya itu adalah orang yang mengirimkannya paket selama ini.


"Agus?!!" pekik Fitri tertahan.


Agus, adalah mantan pacar Fitri dulu di kampung, selama ini kehadirannya nyaris terabaikan dan terlupakan.


Fitri menjalin hubungan dengan Agus sebelum Dicky menikahinya, saat ke Jakarta dan berjuang menjadi guru relawan Fitri di perkosa, dan Dicky muncul untuk menikahi Fitri.


"Apa kabar Fit?" tanya Agus sambil tersenyum.


Tubuh Fitri terasa lemas tak bertulang, dia tidak tau apa yang harus di lakukannya terhadap laki-laki di hadapannya itu.


"Jadi, selama ini kau yang telah mengirimi aku paket-paket itu?? Lalu apa maksudmu??" tanya Fitri.


"Fitri, kita bicara di cafe depan saja, di sini tidak enak di lihat banyak orang!" kata Agus.


Fitri menganggukan kepalanya, mereka kemudian berjalan keluar kantor menuju ke arah cafe yang persis berada di depan kantor ekspedisi itu.


Kemudian mereka duduk di salah satu bangku cafe itu.


"Kau mau minum apa Fit?" tawar Agus.


"Tidak usah!" sahut Fitri. Agus nampak menarik nafas panjang.


"Fit, kau menikah tiba-tiba dan meninggalkan aku begitu saja, aku tau dari ibumu kau menikahi seorang dokter kaya, hatiku sakit Fit, aku tau aku hanya seorang anak buruh tani yang miskin, sejak saat itu aku bertekad merantau ke Jakarta, dan seperti yang kau lihat, aku bekerja di kantor ekspedisi itu!" jelas Agus.


"Lalu, apa maksudmu mengirimi aku paket? Apakah kau ingin menghancurkan pernikahanku?" tanya Fitri.


"Aku ... hanya ingin memberikan apa yang bisa aku berikan padamu, walaupun aku tau, kau sudah milik orang lain!" jawab Agus.


"Kau gila Gus, mulai sekarang, hentikan perbuatan konyolmu itu!" tukas Fitri.


"Fit, aku sangat ingin sekali mengobrol denganmu, sejak kau menikah, kau nyaris melupakan aku begitu saja!' ujar Agus.


"Tidak Gus, aku ini wanita yang telah bersuami, dan asal kau tau, aku sangat mencintai suamiku itu, apalagi sudah ada anak di antara kami!" tegas Fitri.


"Lalu, apakah kau akan melupakan begitu saja kenangan kita selama ini??" tanya Agus.

__ADS_1


"Kenangan? Agus, kita memang pernah berhubungan dulu, tapi itu adalah cinta masa remaja yang tidak berarti, aku mohon kau lupakanlah aku, carilah wanita lain yang bisa mencintaimu dengan tulus!" ucap Fitri.


"Fitri, kau tau aku hampir memakai seluruh penghasilanku hanya untuk memberimu hadiah, dan ku harap kau akan senang menerimanya, walaupun kau tidak tau itu aku, setidaknya aku akan sangat senang jika kau mau menerimanya!" ungkap Agus.


"Agus, sebelum terlambat, ku mohon hentikan perbuatan konyolmu ini, kalau sampai suamiku tau, kau akan habis di hajarnya!" cetus Fitri.


"Tapi Fit, aku masih sangat ..."


"Cukup! Kisah di antara kita telah selesai, aku mohon Gus, lupakan aku dan hentikan untuk mengirimi aku paket lagi!" Fitri mengatupkan kedua telapak tangannya tanda permohonan.


"Baiklah, aku juga ingin kau bahagia Fit, tapi bisakah kita berteman saja?" tanya Agus.


"Berteman? Suami ku pernah bilang, tidak ada pertemanan laki-laki dan perempuan, lebih baik kita saling melupakan satu sama lain!" sahut Fitri.


"Tapi Fit, bagaimana aku bisa melupakanmu? Aku bela-belain datang ke Jakarta dan bekerja di sini adalah hanya untuk melihatmu, walaupun hanya dari kejauhan!" ungkap Agus. Wajahnya menyiratkan suatu kedambaan.


"Maaf Gus, aku tidak bisa walau hanya berteman denganmu, aku harus menghargai perasaan Mas Dicky suamiku, dan aku mohon dengan sangat, hentikan semua pemberianmu itu!" ucap Fitri sambil beranjak dari tempatnya.


"Tunggu Fit!" panggil Agus.


"Selamat tinggal Agus, semoga kau bisa menemukan wanita yang membuatmu bahagia!" ucap Fitri sambil melangkah meninggalkan Agus yang terpana menatap kepergiannya.


Hari sudah semakin sore, matahari mulai turun ke tempat peraduannya.


Fitri turun dari taksi yang di tumpangi nya, kemudian dia melangkah masuk kedalam rumah besar itu.


Bu Anjani nampak duduk di teras sambil memangku Alex.


"Fitri! Dari mana kau?" tanya Bu Anjani.


"Aku dari ... dari ...jalan-jalan dan cari angin sebentar!" sahut Fitri berbohong.


"Cari angin? Apa kau pikir di rumah ini tidak ada angin? Kenapa tadi kau pergi tidak ijin dulu pada Ibu?" tanya Bu Anjani lagi sambil menatap tajam ke arah Fitri.


"Maafkan aku Bu, tadi aku ... aku lupa Bu!" jawab Fitri yang terlihat salah tingkah di hadapan Bu Anjani.


"Hmm, alasanmu sungguh tak masuk akal, kau harus belajar bagaimana berprilaku sebagai wanita kalangan atas, aku tau kau sudah menyelamatkan putraku dari kejahatan Bram, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya!" ujar Bu Anjani.


Fitri hanya diam menunduk tanpa berani untuk berbicara lagi.

__ADS_1


"Maaf Bu, bisakah aku membawa Alex? Seharian ini aku belum menggendong Alex!" tanya Fitri lirih.


"Kau mandi dulu sana, bersihkan dirimu, setelah itu kau baru boleh memegang Alex!" jawab Bu Anjani.


"Baik Bu!"


Fitri kemudian bergegas ke kamarnya dan mulai mandi dan berganti pakaian.


Di dalam benaknya dia masih mengingat tentang Agus, si pengirim paket itu, dalam hati Fitri kasihan pada Agus, dia bahkan mengorbankan gajinya hanya untuk membelikan Fitri hadiah.


Setelah rapi berpakaian Fitri kemudian turun ke bawah, aroma masakan untuk makan malam sudah tercium nikmat, Fitri tiba-tiba merasa sangat lapar.


Alex nampak sedang berbaring di kasur karpet di ruang keluarga, Dina dan Dara nampak mengelilingi Alex, mereka terlihat sedang bermain bersama.


Tanpa membuang waktu, Fitri segera mengambil Alex dari kasur karpet itu dan langsung menggendongnya.


"Lho, Mama kok ambil Alex, baru juga kita main sama Alex!" protes Dara.


"Mama juga baru gendong Alex, kan kalian seharian ada di rumah, bisa main dengan Alex terus kan!" kata Fitri.


"Mana bisa, Alex selalu main sama Oma, kalau kita dekati Alex, pasti Oma suruh kita ke kamar dan main sendiri!" ujar Dina.


"Masa sih? Sekarang Oma mana?" tanya Fitri.


"Oma lagi ada tamu Ma, makanya Alex di taro di sini, dan kita baru di suruh jagain!" sahut dara.


"Tamu? Tamu siapa?" tanya Fitri lagi.


"Tidak tau, Mama lihat saja di ruang tamu!" sahut Dina.


Sambil menggendong Alex, Fitri kemudian melangkah ke ruang tamu, dari balik tembok dia melihat Bu Anjani sedang berbincang dengan beberapa orang wanita teman sosialitanya.


Semua wanita yang ada di ruang tamu itu nampak elegan dan berkelas, menandakan kalau mereka adalah orang-orang kaya dan berkelas, terlihat dari cara bicara dan gaya bahasa mereka.


Di depan meja ruang tamu itu nampak berbagai cemilan dan minuman yang terhidang. Mereka ini nampak seperti ibu-ibu arisan.


Tiba-tiba rasa rendah diri dan kurang percaya diri kembali menggelayuti Fitri.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2