Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menjenguk Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Dicky menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya, setelah dia memeriksa beberapa pasien hingga siang menjelang.


Saat ini waktunya istirahat, Dicky bersiap akan ke ruangan Dimas untuk mengajaknya makan siang bersama.


Ceklek!


Pintu ruangan Dicky di buka dari luar. Lagi-lagi Dio datang dengan menggendong Chika.


"Dio? Kalian apa kabar?" tanya Dicky.


"Kami belum lama sampai di Jakarta Dokter, Saat ini Ranti masih krisis, bahkan hidupnya hanya di bantu oleh alat-alat medis, dia sudah tidak ada harapan lagi!" ungkap Dio sedih.


"Aku turut prihatin dan sedih, dan mohon maaf Dio, aku juga belum sempat menjenguk Ranti!" ucap Dicky.


"Tidak masalah Dokter, sekarang masalahku cuma Chika, sudah beberapa baby sitter yang menyerah karena Chika jadi antisosial, aku sendiri kapang kabut merawatnya, belum lagi aku harus menjenguk Mamanya!" lanjut Dio.


"Lalu, apa rencanamu?" tanya Dicky.


"Tadinya aku berpikir ingin menitipkan Chika sementara di rumahmu, karena aku tau Chika nyaman jika bersama denganmu, tapi sepertinya istrimu dan ibu mertuamu keberatan!" jawab Dio.


"Dio, aku mengerti kesulitan hidupmu, alangkah baiknya jika Chika di titipkan di tempat penitipan anak terpercaya, aku juga harus menghargai perasaan keluargaku, walau bagaimana kan Chika anak Ranti!" ucap Dicky.


"Baiklah Dokter, aku akan menitipkan Chika di tempat penitipan anak saja, tapi aku khawatir Chika akan menangis terus, karena dia takut melihat orang asing!" ungkap Dio.


"Segala sesuatu butuh proses, lama-lama dia juga akan terbiasa!" sahut Dicky sambil tersenyum.


"Kalau begitu aku pamit, terimakasih Dokter!" ucap Dio sambil beranjak bangkit dari duduknya.


"Dio, beritahu aku di mana Ranti di rawat? Nanti aku akan mengajak istriku untuk menjenguknya!" tanya Dicky.


"Di rumah sakit kanker di lantai dua Dok, di kamar paling ujung!" sahut Dio sambil terus berjalan keluar dari ruangan Dicky.


Dicky lalu beranjak dari tempatnya, perutnya mulai terasa lapar.


Kemudian Dicky langsung bergegas keluar dari ruangannya menuju ruangan Dimas.


Ruangan itu nampak sepi, biasanya Dimas akan menunggunya di jam makan siang, namun ruangan ini benar-benar sepi.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Dicky berjalan sendiri ke kantin rumah sakit itu.


Dia terkejut saat melihat di pojok kantin, Dimas sedang asyik makan siang bersama Mia.


Dicky langsung berjalan cepat menghampiri mereka.


"Sialan kau Dim!! Pantas saja ruanganmu sepi, kalian malah mojok di sini!" sungut Dicky.


"Ah sirik aja kau Bro! Sudah sana jauh-jauh! Mengganggu saja!" cetus Dimas.


Dicky langsung memesan menu makanannya di kantin rumah sakit itu.


****


Sore itu Fitri gelisah, dia sedikit menyesal karena telah menolak Chika yang akan di titipkan, padahal anak kecil itu saat ini sangat perlu dampingan dan kasih sayang orang dewasa.


Sebentar lagi Dicky akan pulang dari rumah sakit, makanan juga sudah siap terhidang di meja makan.


"Nak Dicky pulang jam berapa Fit?" tanya Bu Eni.


"Sebentar lagi Bu!" jawab Fitri.


"Kata Dokter laki-laki Bu!" jawab Fitri.


"Nah, berati betul dugaan Ibu, pasti genteng ini kayak bapaknya, nanti kalau sudah lahir bawa ke kampung ya Fit? Ibu mau pamer sama orang-orang kampung, kalau Ibu punya cucu ganteng!" ujar Bu Eni.


"Ibu apaan sih? Orang bayinya belum lahir juga, lagian ngapain juga pakai pamer Bu, Mas Dicky tidak suka orang yang suka pamer!" sahut Fitri.


"Iya iya Deh, Ibu tidak jadi pamer!" ujar Bu Eni.


Kemudian terdengar suara mobil Dicky yang langsung terparkir di garasi mobilnya.


Fitri lalu menyambut kedatangan suaminya itu seperi biasa.


"Fit, apakah kau mau jika aku mengajakmu menjenguk Ranti sekarang?" tanya Dicky.


Fitri tertegun mendengar ucapan Dicky, tumben dia mengajak untuk menjenguk Ranti.

__ADS_1


"Tentu saja aku mau Mas, apalagi Ranti sekarang sudah di Jakarta lagi!" sahut Fitri.


"Kalau begitu, bersiaplah sekarang, nanti keburu malam!" ujar Dicky.


"Sebentar ya Mas aku pamit Ibu dan Bapak dulu!" kata Fitri yang langsung bergegas masuk ke dalam rumah.


Setelah berpamitan, mereka kemudian kembali masuk ke dalam mobil, hendak menjenguk Ranti ke rumah sakit.


"Kita mau kemana Pak Dokter?" tanya Mang Salim.


"Kita ke rumah sakit kanker Mang!" jawab Dicky.


Sepanjang jalan itu, Dicky selalu menggenggam hangat tangan Fitri.


"Kau kenapa Mas?" tanya Fitri.


"Tidak sayang, bagaimana matamu? Masih bisa melihat jelas kan?" tanya Dicky balik.


"Yah, sebenarnya tidak terlalu mas, tapi aku berusaha mensugesti diri sendiri kalau aku bisa dengan jelas melihat!' jawab Fitri.


"Fitri, apapun kesalahan Ranti di masa lalu, mau kah kau memaafkan dia Fit? Kata Dio Ranti kini tak berdaya, sudah tidak ada harapan lagi!" ungkap Dicky.


"Tentu saja Mas, sebelum Ranti minta maaf aku sudah memaafkannya lebih dulu!" jawab Fitri.


Tak lama mereka sampai di sebuah rumah sakit khusus kanker.


Perlahan mereka berjalan menyusuri koridor dan naik ke lantai dua.


Di ruangan paling ujung itu mereka lalu berhenti, perlahan Dicky membuka pintu kaca ruangan itu.


Seorang wanita yang penampilannya nyaris tak dikenali sedang terbaring lemah tak berdaya dengan alat-alat medis yang menunjang kehidupannya.


Sambil saling menggenggam tangan Dicky dan Fitri kemudian maju dan mendekati wanita itu.


Wanita yang dahulu sangat cantik dan seksi, kini hanya nampak terbaring dengan tulang terbungkus kulit, sangat kurus dan rapuh.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2