
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, setelah selesai kelas Fitri langsung berjalan ke ruang guru.
"Bu Fitri, tadi di cari sama Pak Jamal, katanya di tunggu di ruangannya!" kata Bu Ria saat Fitri masuk ke dalam ruang guru itu.
"Pak Jamal? Baiklah Bu, saya langsung ke ruangannya saja!" sahut Fitri yang langsung berjalan lurus ke ruangan Pak Jamal.
Ceklek!
Fitri perlahan membuka pintu ruangan itu. Pak Jamal nampak duduk di ruangannya nya sambil menghadap ke layar komputernya.
"Selamat siang Pak Jamal!" sapa Fitri.
"Siang, silahkan duduk Bu Fitri!" ujar Pak Jamal.
Fitri kemudian duduk di hadapan Pak Jamal.
"Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Fitri.
"Bu Fitri, hari ini Ibu terlambat satu jam untuk mengajar di sekolah, ini bukan yang pertama kalinya Bu, beberapa orang tua juga sudah mulai protes, saya hanya mengingatkan saja, dan saya harap ini adalah yang terakhir kalinya Bu Fitri datang terlambat!" ucap Pak Jamal.
"Maafkan saya Pak, saya memang salah, dan saya berusaha untuk tidak mengulanginya lagi!" kata Fitri menunduk.
"Terimakasih Bu Fitri, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, saya harap kedepannya lebih baik lagi!" lanjut Pak Jamal.
"Sekali lagi saya mohon maaf Pak, terimakasih atas peringatan Bapak, saya akan berusaha lebih baik lagi!' ucap Fitri.
"Iya Bu Fitri sama-sama!"
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu Pak, selamat siang!" pamit Fitri sambil berdiri dan melangkah meninggalkan ruangan itu.
Fitri kemudian langsung berjalan menuju lobby, Dara sudah menunggu di sana.
Mereka kemudian langsung naik ke dalam mobil yang di kendarai oleh Mang Salim, merekapun kembali menuju ke rumah.
Klinik Dicky masih terlihat ramai, parkiran di depan klinik terlihat penuh dengan kendaraan bermotor.
Tidak mau mengganggu suaminya, Fitri langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya.
Alex yang melihat Mamanya datang, langsung berlari dengan baby Walker nya ke arah Fitri sambil tertawa.
"Eh, ada anak Mama yang ganteng, sini Mama gendong, Alex sudah makan belum?" Fitri menciumi wajah Alex yang kini terlihat sangat gembul itu.
Bi Sumi muncul dari arah dapur.
"Mbak Fitri sudah pulang, makan siang sudah terhidang di meja makan Mbak!" kata Bi Sumi.
"Mas Dicky sudah makan belum Bi?" tanya Fitri.
__ADS_1
"Belum kayaknya Mbak, sejak pagi Pak Dokter sibuk terus, sampai tidak sempat makan dia!" jawab Bi Sumi.
"Kalau begitu, biar saya bawakan makanan ke ruangannya saja, kasihan dia pasti lapar!" ucap Fitri.
"Silahkan Mbak, makan nya ada di meja!" kata Bi Sumi.
Fitri kemudian mulai menyiapkan makanan untuk Dicky, Sementara Alex kembali bermain di baby Walker nya.
Setelah selesai, Fitri kemudian mengantarkan makanan ke ruangan Dicky.
Dicky nampak menyandarkan kepalanya di kursinya setelah memeriksa pasien, sementara Suster Wina masih di luar sedang menikmati bekal makan siang yang dia bawa dari rumah.
"Mas Dicky baru selesai? Ini makanlah dulu!" kata Fitri sambil menyodorkan nampan makanan ke atas meja Dicky.
"Terimakasih Fit, luar biasa hari ini, aku sangat lelah Fit!" ucap Dicky.
"Ya makanya makan dulu Mas!"
"Suapin dong Fit!" pinta Dicky.
"Hmm, ada modus baru nih, makan saja sendiri Mas, malu sama Suster Wina!" sergah Fitri.
"Orang Suster juga lagi makan di depan, Ayo Fit, nanti keburu ada pasien lagi!" kata Dicky.
Akhirnya Fitri mulai menyuapi Dicky atau suaminya itu akan terus berbicara tanpa henti.
****
Alex terlihat tertidur di box setelah di suapi Bi Sumi.
Ting ... Tong ...
Terdengar suara bel dari pintu depan, Bi Sumi langsung berjalan ke arah pintu, sementara Fitri masih menikmati makan siangnya di meja makan.
Tak lama kemudian Bi Sumi sudah kembali lagi menghampiri Fitri.
"Mbak Fitri, ada tamu yang mencari Mbak Fitri!" kata Bi Sumi.
"Siapa Bi?" tanya Fitri.
"Waktu itu dia pernah datang deh Mbak, guru temannya Mbak Fitri juga kok!" jawab Bi Sumi.
"Baiklah Bi, tolong lihatin Alex takut bangun, sekarang aku mau ke depan dulu!" ujar Fitri.
"Baik Mbak!"
Fitri kemudian meninggalkan meja makan dan berjalan ke depan rumahnya.
__ADS_1
Wajah Fitri sedikit tercengang melihat siapa yang yang mencarinya itu.
"Pak Donny??" pekik Fitri tertahan.
"Selamat siang Bu Fitri, maaf menggangu, kata security di sekolahku, Suamimu pernah mencariku, kalau boleh tau, ada apa dia mencariku?" tanya Pak Donny.
"Pak Donny, mari silahkan masuk, kita bicara di dalam saja!" ajak Fitri.
Donny lalu masuk dan duduk di tuang tamu itu, sementara Dicky masih sibuk melayani pasien di ruang prakteknya.
"Bu Fitri, untuk persoalan yang lalu ini, saya minta maaf, saya begitu terobsesi dengan Bu Fitri, makanya saya mengikuti Bu Fitri dan menyamar sebagai Hardi, hanya untuk bisa melihat Bu Fitri!" ucap Donny.
"Pak Donny, kenapa Pak Donny melakukan itu? Apakah Pak Donny masih belum bisa melupakan tunangan Bapak yang katanya meninggal itu?" tanya Fitri.
Donny terdiam, dari sorot matanya menyimpan sejuta kerinduan, yang sulit untuk di ungkapkan.
"Sudahlah Bu Fitri, mulai hari ini saya akan melupakan dia dan tidak akan lagi mengganggu Bu Fitri, sekali lagi saya minta maaf!" ungkap Pak Donny.
"Pak Donny, kalau Bapak masih mencintai Anita tunangan Bapak, itu bukan hal yang salah Pak!" ucap Fitri.
"Apa maksud Bu Fitri? Anita sudah pergi jauh, saya sudah tidak mungkin lagi untuk menggapainya, saya sudah ikhlas Bu!" lirih Donny.
"Pak Donny, boleh saya tau di mana tempat tinggal Pak Donny?"
"Untuk apa Bu Fitri?" tanya Donny.
"Aku hanya ingin tau saja, memang nya tidak boleh?!" sahut Fitri.
Donny lalu mengeluarkan secarik kartu nama dan memberikannya pada Fitri. Fitri lalu menerimanya.
"Kalau begitu aku mohon diri Bu Fitri, Trimakasih atas motivasinya padaku!" selamat siang?' ucap Donny.
Laki-laki itu segera beranjak dan keluar dati ruangan itu.
Fitri lalu mulai menelepon Anita, kabar baik ini harus dia katakan pad Anita. Fitri kemudian mulai menelepon Anita.
Beberapa menit telepon, tidak ada jawaban, hingga kesekian kalinya terdengar suara telepon di angkat walaupun tidak ada suara pembicaraan.
"Ta, ini pasti Tata kan, ada kabar bagus untukmu Ta, Pak Donny sudah di temukan, tadi dia datang sendiri ke rumah ini, kau catat baik,-baik alamatnya ya, pokoknya kau yang harus datang untuk memberinya kejutan!" ujar Alina panjang lebar.
Tidak ada jawaban dari sebrang, tapi Alina yakin kalau Anita pasti akan mendengarnya.
"Sekarang kau siapkan bukumu, catat alamatnya di bukumu ya Ta, pokoknya kau harus mengejar kebahagiaanmu sendiri!" ujar Fitri.
Bersambung ...
******
__ADS_1