Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Sang Penyejuk Hati


__ADS_3

Wajah Fitri kini nampak pucat, saat Bu Ria menanyakan perihal kejadian beberapa waktu lampau.


Padahal Fitri sudah mulai bisa melupakan kejadian itu sedikit demi sedikit. Suasana di ruangan itu nampak hening seketika.


Terdengar suara mobil Dicky yang masuk dari arah gerbang.


"Maafkan aku Bu Fitri, lupakan saja pertanyaanku itu tadi!" ucap Bu Ria menyesal.


"Ya, Bu Ria benar, aku memang orang yang pernah di perkosa oleh beberapa orang di gudang tua itu!" kata Fitri yang terdengar sangat jelas dan lugas.


Semua orang yang ada di ruangan itu tercengang seketika mendengar pengakuan Fitri.


"Tapi itu adalah masa lalu, sekarang Fitri adalah istri dari seorang Dokter, dia adalah istriku!" ujar Dicky yang sudah berdiri di ambang pintu rumahnya itu.


Semua orang yang ada di ruangan itu langsung menoleh ke arah Dicky.


"Eh, Pak Dokter sudah pulang ya?" tanya Bu Erna gugup.


"Sebagai guru yang adalah seorang pendidik, tidak sepatutnya memperbincangkan hal negatif, terimakasih kalian sudah menjenguk istriku, kalau bukan karena keinginan Fitri, aku juga lebih suka dia di rumah menjadi ibu rumah tangga!" ucap Dicky yang langsung duduk bergabung di ruangan itu.


"Kami mohon maaf atas ketidak nyamanan ya Pak Dokter, kalau begitu kami mohon pamit, terimakasih atas minuman dinginnya!" pamit Pak Jamal yang merasa tidak enak atas situasi itu.


"Wah, kalian kenapa jadi buru-buru, tidak makan siang dulu di sini?" tanya Dicky.


"Terimakasih Pak, tadi sebelum ke sini kami sudah makan siang, Bu Fitri, kami pamit ya!" jawab Bu Erna sambil merangkul Fitri.


"Terimakasih ya Bu, atas kunjungannya, kalau kakiku membaik besok aku sudah mulai mengajar!" kata Fitri.


"Jangan di paksakan Bu, tunggu sampai benar-benar pulih saja!" ujar Pak Donny.


Dicky menatap tajam ke arah Pak Donny yang terlihat perhatian dengan Fitri.


Para guru itu lalu bergegas keluar dari rumah Dicky menuju ke mobil mereka yang terparkir di depan rumah Dicky itu.


Bu Sita nampak berjalan paling belakang, dia lalu menoleh ke arah Dicky dan Fitri yang kini berdiri di depan pintu.


Setelah para guru itu pergi Dicky langsung merangkul Fitri masuk ke dalam rumahnya itu.


"Masih sakit kakinya sayang?" tanya Dicky.


"Sedikit Mas, paling besok juga sudah sembuh!" jawab Fitri.


"Syukurlah, ayo kita makan Fit, aku sudah membawa makanan untukmu, pasti kau suka!" ucap Dicky sambil membawa bungkusan makanan ke meja makan.

__ADS_1


"Terimakasih Mas!" ucap Fitri sambil mulai menata meja dan menuangkan makanan itu ke piring saji.


Mereka kemudian makan bersama di meja makan.


"Fit, kau boleh mengajar di sekolah, menyalurkan ilmu mu pada anak-anak murid, tapi aku sarankan, kau jangan terlalu akrab dengan guru, apalagi guru yang terlihat tidak menyukaimu!" kata Dicky.


"Tidak menyukaiku? Dari mana Mas Dicky tau? Siapa?" tanya Fitri.


"Bukan maksudku untuk berburuk sangka, tapi apa salahnya kalau kau waspada, aku juga kurang suka kalau kau dekat dengan guru laki-laki itu, dari sorot matanya aku bisa melihat dia ada hati padamu!" jawab Dicky.


"Pak Donny maksudnya? Selama ini hubunganku hanya sebatas rekan kerja saja, bahkan sehari-hari aku jarang bicara padanya!" tukas Fitri.


"Ya, aku percaya padamu sayang, kau tau aku cemburu kalau kau bersama pria lain?" tanya Dicky.


"Kenapa Mas Dicky cemburu?" tanya Fitri balik.


"Karena Aku mencintaimu Fit, Fitri hanya milik seorang Dicky Pradita, jangan membuatku cemburu!" ucap Dicky sambil menatap mata istrinya lembut.


Fitri yang melihat tatapan suaminya itu hanya menunduk sambil melanjutkan makannya, dia tidak sanggup jika harus balas menatap Dicky, tidak kuat menahan jantungnya yang kian berdebar.


Setelah mereka selesai makan, Dicky lalu menggendong Fitri ke atas menuju ke kamar mereka, sejak pagi tadi Fitri belum ke atas sama sekali, karena masih nyeri jika harus naik tangga.


Dicky kemudian langsung membaringkan Fitri di atas tempat tidurnya.


Kemudian dia mengecup lembut bibir Fitri.


"Mas Dicky, bukannya kau harus kembali ke rumah sakit?" tanya Fitri.


"Ya, aku memang harus kembali ke rumah sakit, tapi hasrat ku harus terpenuhi dulu, kalau tidak maka kepalaku akan pusing saat memeriksa pasien nanti!" jawab Dicky.


"Mas Dicky bisa saja beralasan!" cetus Fitri.


"Ayolah Fit, sebentar saja, aku janji!" ujar Dicky dengan tatapan penuh damba.


"Baiklah Mas!" ucap Fitri pasrah.


Dicky pun dengan senang hati mulai memainkan aksinya, membuat Fitri terbang ke awan-awan. Setelah itu dia baru menuntaskan hasratnya.


Sebenarnya Fitri sangat menikmati saat bercinta dengan Dicky, entah mengapa perlakuan Dicky yang lembut membuat Fitri seringkali merasa puas lahir batin saat Dicky menggagahinya.


Setelah Dicky berhasil mengeluarkan hasratnya, dia lalu terbaring di samping Fitri yang juga terkulai lemas karena sudah mencapai puncaknya.


"Kau menikmatinya sayang?" tanya Dicky.

__ADS_1


Wajah Fitri bersemu merah saat Dicky bertanya seperti itu.


"Mas Dicky ..."


"Tidak perlu kau jawab, melihat wajahmu aku tau apa yang kau rasakan, berjanjilah untuk terus menjaga hatimu untukku Fit, seperti aku selalu menjaga hatiku untukmu!" ucap Dicky sambil membelai rambut Fitri.


"Iya Mas, Mas Dicky adalah dewa penolongku, tentu saja aku akan menjaga hatiku hanya untuk Mas Dicky!" balas Fitri.


"Sebenarnya aku menginginkannya lagi Fit, tapi sebentar lagi aku ada jadwal praktek, pasienku akan menungguku!" ucap Dicky.


"Pergilah Mas, tapi kau bersihkan dulu tubuhmu!" sahut Fitri.


Dicky lalu segera bangun dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi.


Setelah membersihkan tubuhnya dia lalu kembali memakai pakaiannya, kini Dicky selalu memakai pakaian di luar kamar mandi, sudah tidak ada lagi rasa malu saat tubuhnya polos, semua jiwa dan raganya kini hanyalah milik Fitri.


Fitri juga membersihkan tubuhnya, kemudian mereka turun karena Fitri akan mengantar Dicky sampai ke depan.


"Sebenarnya aku ingin sekali membawamu ke rumah sakit untuk menungguku fit, tapi kakimu masih begini kasihan nanti kau lelah!" ucap Dicky sambil mengecup pipi Fitri.


"Janganlah Mas, nanti kau malah tidak konsentrasi memeriksa pasien mu!" tukas Fitri.


"Kau tau saja kalau aku tidak konsentrasi karena mu!" bisik Dicky sambil mencubit lembut dagu Fitri.


"Mas Dicky ah!"


"Kau memang menggemaskan sayang, jangan lupa siapkan nanti malam, kita akan bertempur kembali session berikutnya!" bisik Dicky lagi sebelum masuk ke mobilnya.


"Mas Dicky nakal!" seru Fitri.


Fitri lalu mencium tangan Dicky seperti biasanya.


"Fit, aku punya permintaan padamu!" kata Dicky.


"Katakan saja Mas, apa itu?" tanya Fitri.


"Berikan aku seorang bayi!" bisik Dicky.


Seluruh tubuh Fitri kini meremang seketika mendengar ucapan suaminya itu.


****


Hi Guys ...

__ADS_1


Promosi novel baru yang terinspirasi dari kisah nyata, tanpa ke haluan yang tinggi, namun terjadi di dengan riil dan begitu nyata,


Judulnya adalah 'permadani cinta', yuk tetap dukung autor ....


__ADS_2