
Dicky berbaring di ranjang pasien, sementara Dokter Yudi dan beberapa orang perawat mulai mengganti perban Dicky juga memeriksa bagian kaki Dicky yang masih di gips.
"Sekarang kau bisa latihan berjalan pelan-pelan dengan menggunakan tongkat Dokter Dicky!" kata Dokter Yudi.
"Terimakasih Dok, akhirnya aku bisa lepas kursi roda juga!" sahut Dicky senang.
"Tapi tetap saja kau harus hati-hati, sekali tergelincir kakimu bisa cedera!" ujar Dokter Yudi memperingatkan.
"Siap! Selama ada istriku aku tidak khawatir kalau kakiku akan cedera, sekarang dia full menjagaku 24 jam!" ucap Dicky bangga.
Fitri hanya tersenyum kecut sambil mencubit lengan suaminya itu.
Dokter Yudi dan beberapa perawat itu hanya tersenyum mendengar ucapan Dicky.
Setelah selesai kontrol, Dicky dengan berjalan pelan menggunakan tongkatnya di temani Fitri, langsung menuju ruang operator tempat pusat cctv. Dimas sudah menunggu mereka di sana.
"Kau lama sekali Bro! Sebentar lagi aku ada jadwal praktek tau!" sungut Dimas.
"Ya elah Dim, kau lihat sendiri aku berjalan saja pelan seperti siput, sekarang mana rekaman cctv itu, aku tak sabar ingin melihatnya!" ujar Dicky.
"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Dimas yang terlebih dahulu berjalan masuk ke ruangan itu.
Ada beberapa komputer yang terpasang di ruangan itu, di hubungkan dengan beberapa kamera yang di letakan di setiap sudut rumah sakit itu.
"Ini rekaman cctv di hari kau kecelakaan, sore hari bertepatan dengan waktu berkunjung!" kata Dimas sambil menunjukan layar monitor itu.
Dicky mengamati layar itu, nampak seseorang dengan menggunakan jaket, topi dan masker terlihat sedang berjalan ke arah mobil Dicky.
Kemudian orang tersebut nampak masuk ke kolong mobil Dicky, beberapa menit kemudian orang itu keluar dari kolong dan langsung berjalan ke arah gerbang luar.
"Siapa orang itu?? Wajahnya tidak jelas sama sekali!!" tanya Dicky.
"Aku juga tidak tau Bro! Wajahnya tertutup masker begitu, apalagi bertepatan dengan jam besuk pasien, yang keluar masuk itu banyak sekali!" sahut Dimas.
Dicky menarik napas panjang, agak kecewa karena ternyata semuanya masih belum jelas.
"Sudahlah Mas Dicky, tidak usah mencari tau lebih dalam, yang penting sekarang Mas Dicky harus lebih hati-hati, jangan sembarangan bertindak!" timpal Fitri.
"Tuh denger kata istri!" cetus Dimas.
__ADS_1
"Kalau begitu, apa gunanya aku melihat rekaman cctv itu, Toh aku juga tidak mengenali siapa orangnya!" keluh Dicky.
"Paling tidak kau tau ada yang berniat jahat terhadapmu, dan lain waktu kau harus lebih waspada lagi!" sahut Dimas.
"Oya Dim, bagaimana dengan sidik jari orang itu? Bisa di usut kah?" tanya Dicky tiba-tiba.
"Sidik jari? Coba kau perhatikan lagi, bahkan orang itu memakai sarung tangan, mana bisa terdeteksi!" jawab Dimas sambil menunjuk ke layar monitor yang di perbesar.
"Ah sial! Buat aku penasaran saja!" dengus Dicky.
"Sudahlah Mas, lebih baik kita pulang saja, kau juga kan butuh istirahat!" ujar Fitri.
"Baiklah sayang, lebih baik kita pulang saja!" sahut Dicky.
Mereka kemudian segera meninggalkan ruang operator itu.
Fitri memesan taksi online yang ada di aplikasi ponselnya, mereka menunggu di lobby rumah sakit.
"Fit, aku baru pesan satu unit mobil lagi, mobil yang di bengkel aku sumbang saja buat bengkel, aku tidak mau pakai mobil itu lagi!" kata Dicky.
"Kau pesan mobil lagi, lalu siapa yang akan menegur Mas, kakimu masih sakit begitu!" tanya Fitri.
"Kau tenang saja Fit, mulai besok aku sudah punya supir pribadi, jadi kita tidak usah naik taksi lagi kalau mau kemana-mana!" sahut Dicky.
"Mobil yang aku pesan ini atas namamu Fit, jadi mobil itu milikmu!" ucap Dicky.
"Sudahlah Mas, jangan terlalu berlebihan Ah, aku sudah bahagia hidup bersamamu, walaupun tanpa mobil itu!" balas Fitri.
"Tidak Fit, itu bukan berlebihan, kau tau dirimu jauh lebih berharga daripada mobil itu, jadi jangan pernah menolak apa yang ku berikan padamu!" ucap Dicky sambil mengecup jemari Fitri.
Ada yang hangat dalam hati Fitri, melihat ketulusan dan perhatian suaminya itu.
Tak lama kemudian, taksi yang Fitri pesan sudah menunggu di depan lobby rumah sakit.
Fitri membantu Dicky berjalan pelan dengan menggunakan tongkatnya.
Mereka kemudian langsung naik ke dalam taksi itu.
Langit yang mendung menggantung, menandakan akan turun hujan, suara petir menggelegar kencang, padahal hari masih siang.
__ADS_1
Perjalanan dari rumah sakit ke rumah terasa lama, karena banjir dan macet. Fitri bersandar di bahu Dicky sambil mengusap perutnya.
"Kenapa sayang? Sakit perutnya?" tanya Dicky cemas.
"Pegal Mas, perutku agak keram!" jawab Fitri.
"Kau berbaring saja Fit di pangkuanku, ayo, kasihan bayi kita!" Dicky segera menggeser duduknya hingga dekat ke jendela.
Sementara Fitri mulai berbaring di pangkuan Dicky dengan kakinya yang di angkat ke jok mobil.
"Tidak bisa cepat apa Bang?? Ini istriku sudah pegal ini!" tanya Dicky pada supir taksi itu.
"Maaf Pak, jalanan macet begini mana bisa cepat, kecuali naik pesawat!" sahut si supir taksi.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam karena macet dan banjir tadi. Akhirnya mereka telah hampir sampai di rumah mereka.
Dicky dan Fitri terkejut saat melihat ke depan gerbang rumah mereka, seorang anak remaja sedang berdiri sambil menggigil kedinginan di bawah guyuran air hujan. Fitri langsung mengenali siapa anak yang beranjak remaja itu.
"Mas, itu kan Dina kakaknya Dara, kenapa dia ada di sini??" tanya Fitri heran.
"Telepon Bi Sumi dulu Fit, minta bukakan gerbangnya, kita kan tidak bawa payung;" jawab Dicky.
Fitri kemudian menelepon Bi Sumi, tak lama kemudian Bi Sumi membukakan gerbang dan membawa beberapa payung.
Dicky berjalan tertatih di payungi oleh Bi Sumi langsung masuk ke dalam rumah, sedangkan Fitri langsung berjalan mendekati Dina.
"Dina? Ngapain kamu di sini?? Mana Ibumu?" tanya Fitri.
"Emak tinggalin aku di sini Bu, katanya mau pergi sebentar tapi sudah dari siang tadi belum balik-balik!" jawab Dara sambil menangis.
"Ayo masuk Din, badanmu sudah biru-biru itu kedinginan, kau langsung mandi, nanti Ibu pinjamkan handuk dan baju!" kata Fitri sambil menuntun tangan Dina masuk ke dalam rumahnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Fitri segera berjalan cepat ke kamarnya, mengambil handuk dan baju ganti, lalu di berikannya pada Dina.
"Ini handuk dan bajunya, cepatlah kau mandi, nanti keburu masuk angin!" kata Fitri. Dina langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Kemudian Fitri duduk di sofa di samping Dicky.
"Bu Romlah memang benar-benar keterlaluan!" geram Dicky.
__ADS_1
"Sudahlah Mas, mungkin memang takdir kita harus merawat Dina juga!" ucap Fitri.
****