Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Selamat Tinggal Bu Anjani


__ADS_3

Dicky duduk terpekur di samping makam yang masih basah itu, dia masih belum bisa mempercayai kalau Bu Anjani, ibu kandung yang baru saja hadir dalam hidupnya, pergi begitu cepat meninggalkannya.


Para pelayat begitu banyak berdatangan pagi itu di lokasi pemakaman, karangan bunga juga memenuhi area pemakaman itu, banyak kalangan yang mengucapkan turut berdukacita atas meninggalnya Ibu Anjani.


Mata Dicky terlihat merah dan sembab, dia merasa sangat kehilangan sosok Bu Anjani, hatinya begitu sedih dan pilu, ini sangat membuatnya sesak.


Fitri dengan setia terus mendampingi suaminya itu, banyak orang yang menyalami Dicky, mereka semua tau, bahwa Dicky adalah satu-satunya putra Bu Anjani.


Sebuah tangan menepuk punggung Dicky, Dicky menoleh, Dimas dan Mia sudah berdiri di belakangnya.


"Aku turut berdukacita Bro, atas meninggalnya Bu Anjani, sekarang, rumah sakit ada di bawah kekuasaan mu, cuma kau satu-satunya ahli waris beliau!" ucap Dimas sambil menjabat tangan Dicky, di ikuti oleh Mia.


"Terimakasih Dim!" jawab Dicky singkat.


"Kau harus kuat Dicky! Kau memikul amanat besar ini, apalagi sekarang perkembangan rumah sakit tergantung dirimu, sudah tidak ada lagi yang memimpin!" lanjut Mia.


"Sudahlah Mia, kau jangan bahas rumah sakit lagi, sekarang kan Dicky sedang berduka!" sergah Dimas.


"Ya, aku kan hanya menyemangatinya saja, kau ini!" sungut Mia.


Dicky diam saja, tidak menanggapi perkataan Dimas dan Mia, saat ini tidak ada hal yang di pikirkannya selain Ibunya.


Tanah yang masih basah itu kini penuh dengan taburan bunga, Dicky mengusap pusara makam ibunya dengan telapak tangannya.


Fitri juga terlihat tidak beranjak dari tempatnya, dia membiarkan suaminya itu, tetap dalam posisinya, membiarkan dia larut sementara dalam perasaannya dan mencurahkan segenap kesedihannya.


satu persatu pelayat sudah pergi meninggalkan pemakaman itu, hari sudah menjelang siang, matahari terasa terik menyengat dengan sinarnya.


Namun Dicky masih nampak duduk bersimpuh di makam itu, dia tidak beranjak sedikitpun dari makam Ibunya.


"Mas, sudah siang, apa kau masih tetap ingin di sini?" tanya Fitri.


"Kalau kau mau pulang pulang saja Fit, aku masih mau di sini!" jawab Dicky.


"Mana mungkin aku pulang tanpamu Mas, aku juga akan tetap di sini menemanimu!" ucap Fitri.


Dari kejauhan nampak rombongan yang baru turun dari mobil.


Itu adalah rombongan Pak Karta, Bu Eni, Anita dan Donny.


Mereka langsung meluncur dari Sukabumi saat mendengar kabar kematian Ibu Anjani.

__ADS_1


Perlahan mereka mendekat ke arah makam Bu Anjani.


Mereka kemudian ikut duduk bersimpuh dan menaburkan bunga.


Bu Eni nampak menangis sesenggukan di dekat nisan Bu Anjani.


"Bu Sultan, maafkan aku ya, belum juga aku minta maaf padamu, kenapa kau pergi secepat itu??" Isak Bu Eni.


Pak Karta nampak mengusap bahu istrinya itu.


"Sudahlah Bu, jangan kau tangisi kepergiannya, biarkan dia tenang di alam sana!" ucap Pak Karta.


"Jangan begitu Pak, biar gimana juga dia itu besan kita, walaupun dulu dia sombong, arogan, angkuh, tapi dia adalah orang yang sudah melahirkan mantu kita yang ganteng ini huuuu ... huuu!" tangis Bu Eni.


"Dokter, saya turut berbelasungkawa atas kematian Ibu anda, saya juga pernah mengalami kehilangan sosok Ibu!" ucap Donny.


Dicky diam saja tidak menanggapi ucapan Donny, wajahnya lurus ke depan menatap pusara yang masih basah dan penuh bunga itu.


"Maaf Pak Donny, Mas Dicky saat ini agak terguncang, jadi harap maklum jikalau sikapnya kurang bersahabat!" ucap Fitri.


Dia tidak enak di depan Anita dan kedua orang tuanya atas sikap Dicky yang cuek terhadap Donny.


Cuaca yang tadinya begitu terik dan panas tiba-tiba berubah gelap dan mendung, angin mulai bertiup kencang, menandakan akan segera turun hujan.


"Di rumah Bu, bersama dengan Bi Sumi dan Kakak-kakaknya!" jawab Fitri.


Bu Eni kemudian menganggukan kepalanya.


Dicky masih nampak duduk terpekur di sisi makam itu, gerimis mulai turun perlahan membasahi bumi.


"Fit, ajak suamimu pulang! Nanti hujan akan semakin lebat!" seru Bu Eni.


"Kalian pulang duluan saja, aku akan menemani Mas Dicky! Pak, tolong bawa Ibu, Anita dan Pak Donny pulang ke rumah, aku tidak apa-apa!" sahut Fitri.


"Tapi Fit ..."


"Percayalah, aku tidak apa-apa! Kalian cepat naik ke mobil! Hujan semakin deras!" seru Fitri.


Pak Karta lalu segera berlari ke arah mobil nya yang terparkir untuk menyalakan mesinnya, sementara Bu Eni menarik tangan Anita untuk masuk ke dalam mobil.


Donny terlihat tetap berdiri tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

__ADS_1


Hujan semakin deras, namun Dicky tetap duduk di tempatnya tanpa bergeming, Fitri memeluk suaminya itu, mencoba menenangkannya.


"Mas, Ibu sudah tenang Mas, kau jangan terlalu bersedih, semuanya itu sudah takdir, Tuhan yang sudah atur semuanya!" ucap Fitri.


"Aku menyesal Fit, aku menyesal mengapa aku tak berada di sisinya saat Ibu menghembuskan nafas terakhirnya, aku lalai menjaga Ibu!! Aku menyesal!!" teriak Dicky.


Rambut dan pakaian Dicky basah terkena air hujan, melihat Dicky yang kini rapuh, Fitri ikut menangis, mencoba merasakan apa yang suaminya rasakan, kehilangan Ibu seperti kehilangan surga, itulah yang saat ini Dicky rasakan.


Tiba-tiba Donny maju dan langsung memeluk Dicky, Fitri terkejut melihatnya.


Dicky nampak acuh saja, terlena dengan suasana hatinya sendiri.


"Dokter! Aku tau kau sangat tidak menyukaiku, tapi asal kau tau, aku perduli dengan perasaanmu, aku pernah berada di posisi yang sama denganmu, kehilangan seorang Ibu, tapi kau harus ingat, kau masih punya keluarga yang menunggumu, kau harus kuat, tegar, sebagai mana layaknya seorang laki-laki!" seru Donny.


"Apa perdulimu kampret?!! Kau urusi saja urusanmu sendiri!" sengit Dicky sambil mendorong tubuh Donny dari pelukannya.


"Terserah kau mau bagaimana terhadapku! Aku tau aku salah! Dan di sini, di depan makam Ibumu, aku meminta maaf padamu! Atas apa yang pernah aku perbuat padamu juga istrimu!!" teriak Donny lantang.


Hujan semakin deras mengguyur tubuh mereka, Dicky hanya diam saja tanpa menanggapi ucapan Donny.


"Paling tidak kau ingat anak dan istrimu! Jangan larut dalam duka dan penyesalan yang berkepanjangan, ingat Dok, masa depanmu dan anakmu masih panjang! Mereka masih memerlukanmu sebagai panutan mereka!" lanjut Donny.


Kemudian Donny membalikan tubuhnya dan mulai melangkah meninggalkan Dicky.


Fitri hanya bisa mematung dan menangis melihat keterpurukan suaminya yang kini terlihat begitu rapuh.


"Tunggu!!"


Tiba-tiba Dicky memangil Donny, Donny lalu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dicky.


Dicky kemudian bangkit dan berjalan ke arah Donny, dan tanpa menunggu dia langsung memeluk musuh bebuyutannya itu.


"Terimakasih! Kau telah menyadarkan aku!" ucap Dicky.


Donny nampak menepuk-nepuk bahu Dicky.


"Jangan sungkan, bukankah sebentar lagi kita akan menjadi saudara?" balas Donny.


"Yah kau benar, tapi jangan harap aku akan berhenti memanggilmu kampret!" cetus Dicky.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2