Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Permintaan Bu Anjani


__ADS_3

Dicky terhenyak seketika setelah mendengar ucapan pak Bram barusan melalui telepon.


Aneh memang, mengapa Pak Bram seolah tidak menyukai keberadaan Dicky sebagai anak dari Ibu Anjani.


"Mas, Pak Bram itu siapa?" tanya Fitri.


"Dulu yang aku tau dia adalah asisten pribadi Bu Anjani, semacam orang kepercayaannya begitu, karena Bu Anjani tidak pernah terjun langsung dalam urusan rumah sakit!" jawab Dicky.


"Bukankah Pak Bram ini satu rumah dengan Bu Anjani, karena masih saudara dengan Pak Rahmat Ayahmu?" tanya Fitri.


Dicky menganggukan kepalanya.


"Sudahlah Fit, mungkin Pak Bram itu hanya kaget saja ternyata aku ini adalah anak kandung Bu Anjani, lebih baik lanjutkan saja aktifitas yang tertunda tadi!" ujar Dicky sambil menunjuk ke arah juniornya yang masih tegak menantang.


Fitri akhirnya kembali memainkannya aksinya, meremas dengan gemas benda pusaka itu hingga mengeluarkan laharnya.


Fitri bahagia bisa memuaskan kebutuhan dan hasrat suaminya itu, walaupun tanpa berhubungan langsung, apalagi melihat wajah Dicky yang kemerahan menahan rasa puas.


Tok ... Tok ... Tok


Tiba-tiba pintu kamar Dicky di ketik dari luar.


Dengan panik Fitri langsung menarik tangannya dan dengan paksa memasukan benda pusaka itu ke tempatnya suka walaupun sesak.


Dicky sampai meringis karena miliknya terjepit.


"Pelan-pelan sayang, ini barang sensitif!" bisik Dicky.


"Maaf Mas, tadi aku lupa mengunci pintu, sebentar ya!" Fitri dengan cepat membuka pintu yang sejak tadi tidak dia kunci.


Bi Sumi sudah berdiri di depan pintu itu.


"Ada apa Bi?" tanya Fitri.


"Itu Mbak, ada yang datang mencari Pak Dokter!" kata Bi Sumi.


"Siapa?" tanya Fitri.


"Katanya Bu Anjani, Ibunya Pak Dokter!" sahut Bi Sumi.


"Apa?? Sekarang di mana dia?" tanya Fitri.

__ADS_1


"Di bawah Mbak, sedang mengobrol dengan Bu Eni!" jawab Bi Sumi.


"Waduh! Gawat ini!" Fitri segera masuk ke dalam memberitahu Dicky.


"Mas, Bu Anjani datang, sekarang dia di bawah sedang mengobrol dengan Ibu!" seru Fitri.


"Ayo Fit kita turun!" Dicky langsung beranjak dari tempatnya dan mereka kemudian turun ke bawah.


Di ruang tamu itu, Bu Anjani nampak duduk menggendong Alex bersama Bu eni, Dicky dan Fitri langsung duduk bergabung dengan mereka.


"Selamat malam Ibu, kenapa tidak mengabari ku kalau mau datang?" tanya Dicky.


"Ibu sengaja Nak, kalau Ibu bilang-bilang nanti kau malah repot menyediakan ini itu, Ibu senang akhirnya bisa juga menggendong cucu Ibu yang tampan ini!" jawab Bu Anjani.


"Eh, Fit, Nak Dicky, tadi Ibu sudah foto-foto lho sama Bu Anjani, duh bangganya Ibu foto sama konglomerat, nanti kalau sudah di cetak Ibu mau pajang fotonya di kampung ah!" seloroh Bu Eni.


"Ibu! Jangan malu-maluin gitu dong!" cetus Fitri malu.


"Aku senang anakku punya keluarga yang harmonis dan bahagia, Dicky di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya, tidak seperti aku dulu, hidup dalam kesepian ..." wajah Bu Anjani berubah mendung.


"Jangan bicara seperti itu Bu, mulai sekarang Ibu juga akan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi Ibu, ada aku, istriku juga Alex cucu Ibu!" ucap Dicky sambil beringsut mendekati Ibunya dan menggenggam tangannya.


"Benar Bu, juga ada besan yang perhatian seperti saya dan suami saya!" celetuk Bu Eni.


"Tentu saja Bu, siapa dulu Ibunya, Bu Eni!" celetuk Bu Eni bangga. Bu Anjani hanya tersenyum.


"Ya sudah, kalian teruskan dulu mengobrolnya, Ibu mau siapkan makan malam dulu sama Bi Sumi, nanti kita makan sama-sama ya bu Sultan!" Bu Eni langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke dapur.


"Sebentar ya Bu, aku buatkan minuman hangat dulu buat Ibu!" ujar Fitri yang juga berdiri dari tempatnya lalu berjalan ke belakang.


Dina dan Dara terlihat sedang mengerjakan tugas di ruang tengah.


"Anak-anak itu, siapa Nak?" tanya Bu Anjani sambil menunjuk ke arah Dina dan Dara.


"Oh, itu Dina dan Dara Bu, anak angkatku, mereka anak yatim, ibu mereka kurang mampu untuk merawat mereka, makanya aku dan Fitri sepakat untuk mengadopsi mereka!" jelas Dicky.


"Ibu benar-benar terharu Dicky, betapa mulia hatimu, kau sungguh mewarisi sifat ayahmu, dia juga dulu di kenal sangat dermawan, tapi sayang dia cepat sekali pergi meninggalkan ibu!" ungkap Bu Anjani.


"Jangan bersedih Bu, sekarang aku yang akan menjaga Ibu menggantikan ayah!" ucap Dicky.


Tiba-tiba Alex menangis, buru-buru Dicky mengambil Alex dan menenangkannya.

__ADS_1


"Cup cup cup anak papa, jangan menangis sayang, lihat tuh ada Oma, tadi Oma menggendong Alex lho!" kata Dicky pada bayinya.


Mendengar Alex menangis Fitri langsung datang sambil membawa minuman hangat, dan meletakkannya di atas meja.


"Sini Alex sama Mama, barangkali dia mau menyusu!" kata Fitri.


Dicky langsung menyerahkan Alex dalam gendongan Fitri.


"Ibu, ada yang mau aku tanyakan pada Ibu!" kata Dicky.


"Katakanlah Nak!"


"Bagaimana bisa Pak Bram tinggal bersama Ibu di rumah itu?" tanya Dicky.


"Tidak lama setelah ayahmu meninggal, usahanya Bram mengalami kebangkrutan, dia banyak hutang dan bahkan rumahnya sudah di jual untuk membayar hutangnya, karena Ibu kasihan, apalagi dia masih saudara Ayahmu, Ibu menwarkan pekerjaan padanya untuk mengontrol rumah sakit, karena saat itu Ibu masih trauma kehilangan suami dan anak, karena rumah peninggalan Ayahmu sangat besar, jadi ibu mengajaknya dan istrinya untuk tinggal bersama Ibu, supaya Lina istrinya Bram bisa jadi teman mengobrolnya Ibu, supaya Ibu tidak kesepian!" jelas Bu Anjani.


Dicky hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Jauh dia dalam benak Dicky, ada sesuatu yang ganjil dengan Pak Bram, sejak Pak Bram meneleponnya secara pribadi.


Namun Dicky berusaha membuang pikiran negatif yang sempat muncul itu.


"Nak, Ibu ada permintaan padamu!" ucap Bu Anjani tiba-tiba.


"Apa itu Bu?" tanya Dicky.


"Ibu sangat ingin, kau dan istrimu tinggal bersama Ibu, Ibu ingin menghabiskan masa tua Ibu bersama kalian dan cucu-cucu Ibu kelak!" jawab Bu Anjani.


Sorot matanya menyiratkan pengharapan.


"Tinggal bersama Ibu? Tapi rumah ini adalah rumah hasil jerih lelahku Bu, aku membangun rumah ini dari keringatku sendiri!" tukas Dicky.


Ada kesedihan di wajah Bu Anjani saat Dicky mengatakan demikian.


"Tapi Ibu jangan khawatir, kami akan sering-sering main ke tempat ibu!" sahut Fitri cepat.


"Baiklah kalau begitu, kalian pikir-pikir saja dulu, Ibu sangat ingin sekali tinggal bersama kalian!" ucap Bu Anjani.


"Jangan di tolak Fitri! Itu rejeki! Kalian tenang saja, rumah ini akan Ibu bereskan setiap hari sampai kinclong!" celetuk Bu Eni yang tiba-tiba muncul.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2