Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Permohonan Maaf


__ADS_3

Dicky memalingkan wajahnya saat Fitri menyodorkan ponselnya ke dekat telinganya, saat Dimas meminta untuk bicara penting dengan Dicky.


"Aku sedang malas bicara Fit!" ujar Dicky.


"Tapi kata Dimas ini penting Mas, dengarkan saja apa yang mau dia sampaikan!" ucap Fitri.


"Paling juga dia mau membicarakan soal Mia!" cetus Dicky.


"Ssst, jangan buruk sangka dulu, ayo bicara sama Dimas, nih dia sudah menunggumu Mas!" sahut Fitri sambil meletakan ponsel itu ke tangan Dicky.


Mau tidak mau Dicky bicara pada Dimas.


"Halo Dim, sorry kepalaku agak pusing , aku sedang tidak ingin membahas apapun, nanti lain waktu saja kau meneleponku lagi!" ujar Dicky.


"Eh, tunggu Bro, ini penting banget, dengerin dulu!" sergah Dimas.


"Penting apaan sih Dim? Kau akan menikah dengan Mia? Atau kau baru dapat bonus besar?!" tanya Dicky kesal.


"Bukan itu Bro! Kau ingat tidak kalau aku berniat menyelidiki tentang Bu Anjani, ternyata benar dugaanku bro, Bu Anjani itu adalah Ibu kandungmu!" sahut Dimas bersemangat.


"Sudahlah! Terlambat kau memberitahu aku!" ujar Dicky.


"Wah Bro, aku tak sangka kau ini ternyata anak pemilik rumah sakit ini, sebagai teman aku ikut bangga Bro, kau akan memiliki aset yang besar, masa depanmu akan bersinar terang, kau akan dapat ...."


"Stop! Jangan bicara lagi, kepalaku pusing! Lebih baik kau urus saja urusanmu sendiri!" potong Dicky cepat sambil mematikan sambungan teleponnya.


Kemudian Dicky kembali menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.


"Mas Dicky kok begitu bicara sama Dimas?" tanya Fitri.


"Fit, kalau kau di posisiku sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Dicky balik. Fitri terhenyak mendengar pertanyaan Dicky.


"Hmm, mungkin aku juga akan marah, kecewa, sakit hati, tapi di balik semua itu, pasti akan ada hikmahnya!" sahut Fitri.


"Apa maksudmu Fit?" tanya Dicky.


"Kalau dulu Mas Dicky ku tidak tinggal dalam panti asuhan bersama dengan Bu Nuri dan anak-anak panti asuhan lainnya, mungkin Mas Dicky tidak seperti sekarang ini, baik, murah hati, lembut dan suka berbagi, mungkin Mas Dicky akan arogan dan sombong dengan kekayaan orang tua Mas Dicky. Jadi, dengarkan dulu penjelasan dari Bu Anjani, temuilah dia, tanyakan alasan terbesarnya menitipkan dirimu di panti itu!" ucap Fitri lembut..


"Tapi ..."

__ADS_1


"Jangan keraskan hatimu Mas, bukankah Mas Dicky ku ini orang yang rendah hati? Bu Romlah yang begitu menyebalkan saja kau bisa dengan mudahnya memaafkan, apalagi Ibu kandungmu sendiri?" Fitri menatap dalam wajah suaminya itu sambil menangkupkan tangannya di kedua pipi Dicky.


"Fit, temani aku ke rumah Bu Anjani, aku sangat butuh dukunganmu saat ini!" pinta Dicky.


"Aku sangat ingin mendampingimu Mas, tapi bagaimana dengan Alex?" tanya Fitri.


"Kau pompa saja ASI mu untuk hari ini saja, titip sama Ibu, aku ingin di temani olehmu Fit!" jawab Dicky.


"Baiklah Mas, aku mau pompa ASI ku dulu, Mas Dicky tunggu sebentar ya!" Fitri segera beranjak dari tempatnya kemudian mengambil pompa ASI nya, lalu dengan cepat Fitri mulai memompa ASI nya.


Setelah selesai, Fitri dan Dicky kemudian pamit pada Bu Eni dan Pak Karta yang sedang duduk di ruang keluarga.


"Bu, kami ijin keluar sebentar, titip Alex ya, sekarang dia masih bobo di boxnya, ASI ada di freezer, aku sudah ajari Mbok Sumi cara menghangatkan ASI!" pamit Fitri.


"Kalian mau kemana sampai menitipkan Alex segala?" tanya Pak Karta.


"Ada urusan penting Bu, Pak, kami tidak lama kok!" jawab Dicky.


"Ya sudah kalau pergi saja, nanti biar Alex sama Ibu, biar ibu puas bisa gendong si Alex, cucu Ibu yang ganteng!" ujar Bu Eni.


Setelah berpamitan, mereka kemudian mulai berangkat menuju ke rumah Bu Anjani.


Sebuah rumah mewah di pinggir jalan protokol kini terbentang di depan Dicky dan Fitri.


"Mas, di rumah sebesar ini apakah mungkin Bu Anjani tinggal sendirian? Kalau itu benar, betapa kasihannya Bu Anjani, hidup dalam kesepian selama bertahun-tahun!" ucap Fitri.


"Aku tidak tau Fit, lebih baik kita pulang saja, dadaku sesak ini, entah kenapa!" sahut Dicky.


"Lho, kok balik Mas, kita sudah sampai lho, ayo Mas, apa yang selama ini sangat ingin kau tanyakan dan ketahui, tanyakan langsung pada Bu Anjani!" kata Fitri.


"Tapi Fit, aku bingung dan terus terang grogi, jantungku berdebar-debar dari tadi!" ujar Dicky.


Tangan Dicky terasa dingin, keringat juga bercucuran di dahinya.


Fitri kemudian mulai memencet Bel yang ada di pintu gerbang yang menjulang tinggi itu.


Seorang security membukakan pintu gerbang rumah besar itu.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" tanya security itu sopan.

__ADS_1


"Begini Pak, kami ingin bertemu dengan Bu Anjani!" jawab Fitri.


"Bu Anjani? Apakah sudah ada janji sebelumnya?" tanya security itu lagi.


"Belum Pak, kami belum ada janji sih!" sahut Fitri.


"Mohon maaf ya, Bu Anjani tidak bisa di temui jikalau tidak ada janji sebelumnya!" kata security itu.


"Tapi Pak, ini sangat penting, ijinkan kami bertemu dengan Bu Anjani!" cecar Fitri.


"sekali lagi mohon maaf Bu, ini sudah menjadi peraturan, Bu Anjani tidak akan mau di temui dengan orang yang tidak ada janji sebelumnya, beliau sangat selektif memilih tamu!" jelas security itu.


"Sudah Fit, kita pulang saja!" ujar Dicky menyerah.


"Kita sudah di sini Mas, masa pulang begitu saja?!" cetus Fitri.


"Kalau mau, kalian buat janji dulu dengan beliau, baru boleh datang ke sini lagi!" tambah security itu.


"Biarkan mereka masuk Pak!! Mereka ini tamu istimewa Bu Anjani!!" tiba-tiba Mbok Jum sudah berdiri di depan pintu utama rumah itu.


Dia berjalan ke arah Dicky dan Fitri, security itu langsung membuka lebar pintu gerbang utama yang tinggi itu.


"Ayo masuk, Bu Anjani sudah menunggu kalian di dalam!" ucap Mbok Jum sambil tersenyum.


Mereka kemudian mulai berjalan memasuki rumah itu, rumah yang luasnya dua kali lipat dari rumah Dicky.


Di sisi rumah itu ada sebuah kolam renang yang besar, lengkap dengan seluncurannya dan ada air mancur di tengah-tengah taman dekat kolam itu.


Di depan halaman rumah ada aneka taman bunga berwarna-warni yang sangat indah dan menyejukkan mata.


Pada saat Mbok Jum membuka lebar pintu rumah itu, terpampang di hadapan Dicky dan Fitri sebuah ruangan yang sangat mewah dan elegan, dengan sebuah lampu gantung yang sangat besar ada di tengah-tengah ruangan itu.


Di sisi tembok itu ada sebuah lukisan seorang laki-laki bersama dengan Bu Anjani dan seorang bayi.


Bersambung ....


****


Ada rampok makan pepaya

__ADS_1


Besok lagi yaa ...


__ADS_2