
Setelah dari tempat kosnya Dinda, Dicky dan Fitri kemudian langsung menuju ke rumah sakit, di mana Bapaknya dan Ibunya berada di sana.
sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Fitri dan Dicky saling diam, mereka memikirkan Dinda dan keluarganya, yang saat ini pasti sangat merasa terpukul karena pernikahan Dinda dibatalkan secara sepihak.
Fitri juga bisa merasakan sebagai seorang wanita, pastilah Dinda merasa sangat sakit hati juga bercampur malu, apalagi Dinda adalah seorang gadis yang lugu dan polos, hanya karena alasan yang tak masuk akal, sehingga membuat Ken mengambil keputusan, yang mengemparkan orang-orang, bahkan jadi bahan pembicaraan orang banyak.
"Pa, aku kok kepikiran Dinda terus ya, walaupun tadi dia kelihatan baik-baik saja, tapi aku yakin jiwanya pasti terguncang, dia pasti malu dengan teman-temannya sesama guru, bahkan menjadi pembicaraan banyak orang karena dia gagal menikah!" ucap Fitri.
"Iya Ma, aku juga jadi merasa tidak enak, sebagai saudaranya Ken aku merasa sangat malu, Ken memang keterlaluan! membuat malu keluarga saja, Andai Ibu masih ada, dia juga pasti akan malu!" ujar Dicky.
"Sudahlah Pa, mudah-mudahan saja Dinda bisa terus ikhlas, dan dia bisa mendapatkan pengganti yang jauh lebih baik daripada Ken!" kata Fitri.
"Ken memang kurang ajar! Aku tidak yakin hanya karena alasan itu dia membatalkan pernikahannya, menurutku itu hanya alibinya saja, dia masih ingin bebas hidup menikmati kesenangan duniawi!" sahut Dicky.
"Benar Pa, karena beberapa kali dia terciduk jalan dengan wanita lain, di awalnya saja dia sudah tidak jujur, ada untungnya juga pernikahan mereka batal, jadi sakit hati Dinda hanya sampai disini saja!" ujar Fitri.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di pelataran rumah sakit, setelah Dicky memarkirkan mobilnya, mereka kemudian turun dan langsung berjalan menuju ke ruang perawatan Pak Karta.
Bu Eni nampak masih setia duduk mendampingi suaminya itu, saat ini dia terlihat sedang menyuapi Pak Karta, yang masih terbaring di ranjang pasien itu.
Pak Karta walau kini kesulitan bicara, tapi dia bisa melihat kedatangan Fitri dan Dicky, mereka tersenyum ketika melihat Dicky dan Fitri masuk ke dalam ruangan itu.
"Eh Nak Dicky, Fitri, akhirnya kalian datang juga ke sini, Ibu pikir kalian sedang sibuk, makanya tidak datang-datang!" kata Bu Eni.
"Maafkan kami Bu, belakangan ini memang kami agak sibuk, Apalagi kemarin itu ulang tahun pernikahan kami, ditambah masalah sepupuku yang batal menikah, jadi baru sempat siang ini kami mengunjungi kalian!" ucap Dicky yang langsung duduk di sisi pembaringan Pak Karta, Fitri juga duduk di sebelahnya.
"Wah, ulang tahun pernikahan? romantis sekali, ibu dan bapak saja lupa kapan kami menikah!" sahut Bu Eni.
__ADS_1
"Ulang tahun pernikahan itu hanya simbol Bu, sejatinya cinta yang tidak pernah pudar itu adalah yang utama dari sebuah pernikahan, melihat Bapak dan Ibu setia sampai umur senja seperti ini, membuat saya jadi baper, saya juga ingin menua bersama Fitri istri saya bu, Pak!" ungkap Dicky.
"Kalian bikin kami terharu saja, memang benar sih, kunci dari keharmonisan rumah tangga adalah kesetiaan dan saling percaya, dijamin pasti akan menua bersama!" ucap Bu Eni.
Setelah selesai menyuapi pak Karta, Bu Eni kemudian membersihkan mulut Pak Karta dari sisa makanan, setelah itu dia kembali menyelimuti tubuh Pak Karta dan membetulkan letak posisi bantalnya supaya lebih nyaman.
Melihat perlakuan Bu Eni terhadap Pak Karta, membuat Dicky dan Fitri terkesiap dan terkagum-kagum, di usia senja mereka, kasih sayang suami istri itu bisa terpancar dan membuat terharu siapa saja yang melihatnya, termasuk Dicky dan Fitri.
Tanpa sadar Dicky menggenggam tangan Fitri dengan erat dan hangat, seolah ingin menegaskan kalau mereka akan tetap bersama selama-lamanya.
Ceklek!
Seorang Dokter dan Seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu, hendak memeriksa kondisi kesehatan Pak Karta.
Melihat Dicky yang berada di situ dokter dan suster itu menundukkan kepalanya dan Tersenyum.
"Bagaimana keadaan kesehatan mertua saya dokter?" tanya Dicky.
"Ehm, baik Dokter, tapi bisakah kita bicara di ruang lain? Ada yang ingin saya bicarakan dengan Dokter Dicky!" jawab Dokter Nani.
"Baiklah dokter, Saya tunggu di ruangan saya sekarang, silakan memeriksa kondisi kesehatan mertua saya!" ucap Dicky.
Kemudian Dicky segera keluar dari ruangan itu itu dan berjalan menuju ke ruangannya sendiri, sedangkan Fitri masih tetap di situ menemani kedua orang tuanya.
Dicky kemudian masuk ke dalam ruangannya, setelah itu dia duduk di sofa ruangannya itu, sambil menyandarkan punggungnya yang sedikit pegal.
Tak lama kemudian, dokter Nani muncul dan langsung masuk ke dalam ruangan Dicky, kemudian dia duduk di hadapan Dicky, wajahnya terlihat serius, seperti ada yang ingin dibicarakan dengan pentingnya.
__ADS_1
"Ada apa dokter Nani? Apa yang ingin anda bicarakan?" tanya Dicky.
"Begini dokter Dicky, setelah saya melakukan observasi terhadap kesehatan Pak Karta, kondisi terakhirnya, tubuhnya lumpuh sebelah, penyakit asma nya seringkali kumat, dan kini ada terjadi komplikasi di dalam tubuhnya, makanya Pak Karta kesulitan untuk bicara!" jawab Dokter Nani.
"Apakah Sampai separah itu dokter? aku pikir dia hanya terkena stroke ringan biasa, anda lebih paham karena anda adalah dokter ahli penyakit dalam, lalu tindakan apa apa yang dapat membantu Pak Karta bisa cepat sembuh dari sakitnya?" tanya Dicky.
"Untuk sementara ini, yang bisa kami lakukan hanyalah mengurangi rasa sakitnya, dia bisa Anfal sewaktu-waktu, dan ini tidak bisa diprediksi, karena daya tahan tubuhnya semakin lama semakin menurun!" jawab Dokter Nani.
Dicky terdiam mendengar penuturan dokter Nani, dia bingung apa yang harus disampaikan pada Fitri dan Bu Eni, Kesehatan Pak Karta menurun drastis, dan ini sangat membahayakan.
"Dokter, lakukan yang terbaik untuk mertua saya, berikan obat yang paling paten, lakukan maksimal yang bisa kita lakukan!" ucap Dicky.
"Baik Dokter, Kami memang selalu memberikan yang terbaik untuk mertua dokter, kami hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, tapi kami tidak bisa menjamin kesembuhan beliau, karena bukan kami yang menentukan Pak Karta bisa sembuh atau tidak!" sahut dokter Nani.
"Terima kasih Dokter Nani, sekarang Dokter bisa meninggalkan ruangan saya!" ucap Dicky.
Dokter Nani tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian dia segera membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan Dicky.
Dicky kembali terdiam dan melamun, sebagai seorang Dokter, ingin rasanya Dia menyembuhkan penyakit Pak Karta, apalagi Dicky tahu dan menyadari, bahwa Pak Karta adalah segala-galanya bagi Bu Eni, satu-satunya bapak yang sudah dianggap Dicky sebagai Bapak kandungnya sendiri, tanpa terasa mata Dicky panas dan mulai ada air yang tergenang di sana.
Bersambung...
****
Note : Untuk kalian yang komen, coba di perhatikan apakah komen kalian masuk di kolom komentar atau tidak, karena beberapa kali author melihat ada banyak komen tapi tidak masuk dalam kolom komentar.
Trimakasih... buat yang sudah mendukung karya author yang adakalanya ini ...
__ADS_1
Love u all..