
Riana memukul dadanya yang mendadak sesak, seolah tertimpa batu besar yang menghantam hatinya. Bahkan tidak merasakan sakit fisik ketika pukulannya itu kian di perkuat, justru saat ini hatinya begitu merasakan nyeri yang teramat dalam. Bagaimana tidak, disaat hubungan mereka dalam keadaan baik-baik saja, laki-laki itu memutuskannya secara sepihak. Tanpa alasan, tanpa kejelasan, tanpa kabar dan seolah lenyap dari pandangannya, Raihan benar-benar tidak menunjukkan batang hidungnya di hadapannya meskipun sekelebat bayangan sekalipun. Laki-laki itu benar-benar membuktikan perkataan yang tidak ingin di ganggu olehnya.
Namun lihatlah, kini sebuah fakta mengejutkan sekaligus fakta menyesakkan membuktikan alasan tunangannya itu berubah 180 derajat. Mengikis rasa cinta yang sudah terjalin begitu lama demi menjalin sebuah cinta yang baru. Tidak adil? Benar, selama ini Riana sudah mencoba menjadi yang terbaik, menjadi wanita idaman yang Raihan inginkan, meski terkadang sikap laki-laki itu sulit diterima, akan tetapi Riana tetap mewujudkan keinginan laki-laki tersebut karena rasa di cintanya yang begitu besar.
"Kenapa kamu jahat Rai?" Isak tangis tidak tertahankan, Riana membiarkan air mata tumpah dari kelopak matanya.
"Kamu bilang cuma break, tapi kenapa kamu punya pacar lagi selain aku? Kamu anggap aku apa selama ini?" Tergugu sudah, Riana menatap sebuah foto yang terpampang di layar laptopnya. "Kita udah tunangan enam bulan lalu, tapi kenapa kamu tega ngehianatin aku?" imbuhnya mengisak. Sebagaimana ia menahan tangisnya, air mata tetap tumpah dengan sendirinya. Ya, ternyata di khianati laki-laki yang ia cintai, begitu menyesakan dada.
***
Sudah satu minggu berlalu sejak Riana mengetahui fakta pengkhianatan Raihan. Ia harus berpura-pura terlihat baik-baik saja ketika Mama Linda menanyakan perihal Raihan. Terlebih ketika ia pulang ke rumah tidak di antar oleh tunangannya itu, sehingga menimbulkan rentetan pertanyaan yang dilayangkan oleh Sang Mama, sebab tidak biasanya Raihan membiarkan putri satu-satunya itu sendiri tanpa laki-laki itu. Wajar saja jika Mama Linda bertanya, Riana mengerti karena mungkin sebagai wanita yang melahirkannya, wanita paruh baya itu dapat merasakan apa yang tengah dirasakan olehnya.
"Kamu sama Raihan baik-baik aja 'kan sayang?" Mama Linda bertanya dengan seulas senyum. Seolah ingin memastikan kegundahan yang ia rasakan ketika melihat wajah putrinya nampak murung satu minggu ini.
"Baik kok Ma. Rai lagi sibuk di lapangan." Seperti hari-hari sebelumnya, Riana menjadikan kesibukan Raihan sebagai alasan.
Mama Linda mengangguk, terselip nada penuh kelegaan. "Mama pikir kalian lagi berantem, soalnya Mama nggak pernah denger kamu telponan lagi sama Raihan."
Mendengar ucapan Sang Mama, Riana tersenyum getir, menutupi hatinya yang kembali nyeri dengan senyum palsunya. "Belakangan ini Rai juga ada kerjaan di Bandung Ma, tapi setiap pagi selalu telpon atau chat Riri kalau lagi nggak ada waktu." Riri adalah panggilan kesayangan Riana dari kecil, wanita itu diperlukan bak ratu. Tapi lihatlah, justru orang luar dengan tega menyakitinya.
Mama Linda mengangguk, ia dapat mengerti kesibukan calon menantunya itu. Setidaknya ia bisa tenang menyerahkan putrinya dengan pria pekerja keras dan bertanggung jawab seperti Raihan.
"Yaudah, kamu mau berangkat 'kan? Mama udah siapin banyak cemilan kesukaan kamu." Mama Linda adalah ibu terbaik bagi Riana, penuh kasih sayang dan perhatian. Tetapi apa jadinya jika ia mengetahui jika putrinya itu disakiti oleh laki-laki yang begitu ia percayai.
__ADS_1
"Makasih Ma." Riana tersenyum. Setidaknya sosok Mamanya itu selalu dapat menghibur dirinya.
"Kak, aku mau berangkat. Jadi mau bareng nggak??" Terdengar suara teriakan dari halaman rumah. Deon Rivaldi, adik Riana yang baru berkuliah semester 3 sudah menunggu di halaman dan siap untuk mengantarkan kakaknya itu sampai ke apartement. Sementara Papa Dimas, sudah berangkat bekerja di perusahaan kecil milik Papa Dimas beserta teman-temannya.
"Iya De, sebentar." Riana balas berteriak. Pagi ini ia memang meminta Deon untuk mengantarnya ke apartement, rasanya ia tidak memiliki tenaga pergi menggunakan transportasi umum. "Ma, Riri berangkat dulu ya." Riana kemudian mencium tangan Sang Mama dan berpamitan.
"Iya, hati-hati. Semua keperluan kamu udah ada di depan. Kamu jangan telat makan Ri. Mama nggak mau kamu sakit."
Riana mengangguk paham. "Iya Ma."
Mama Linda mengantarkan Riana hingga ke pintu depan. Pandangannya tertuju pada Deon yang sudah menunggu di atas motor. "Hati-hati bawa motornya De. Anter kakak kamu sampai ke apartementnya," ucapnya mengingatkan.
"Iya siap, Ma." Deon mengangguk, tanpa disuruh pun ia pasti akan mengantarkan kakaknya yang manja itu sampai ke tempat tujuannya.
***
"Makasih De, kamu hati-hati. Kuliah yang bener." Mata Riana mendelik tajam, tentu ia harus mengingatkan adiknya agar tidak bermain-main dengan pendidikannya. Sebab adiknya itu sangat mudah bergaul, ia cemas jika Deon memilih teman yang salah dan pada akhirnya terlibat pergaulan bebas.
"Iya Kak, bawel banget sih." Meski memprotes sikap Riana yang selalu cerewet, Deon selalu menurut. Ia bukan tipekal anak remaja yang memiliki hobby liar, teman-temannya pun terbilang anak-anak baik dan pandai. "Yaudah Kak, aku ke kampus dulu."
"Hem, hati-hati."
Riana melambaikan tangan ketika melihat Deon sudah berlalu dan cukup jauh dari pandangan matanya. Sebelum memasuki lobby, sejenak sorot mata Riana mengelilingi sekitar. Ia kembali merasakan sesuatu yang hilang, biasanya Raihan selalu mengantarnya hingga ke depan gedung, tetapi saat ini hanya terpaan angin yang menemaninya.
__ADS_1
"Aku kangen kamu, Rai," lirihnya bergumam. Segenap usaha apapun ia mencoba untuk bersikap baik-baik saja, namun hatinya berkata lain. Ia merindukan sosok laki-laki yang telah menemaninya selama tujuh tahun.
Selama bekerja, Riana mampu melupakan sejenak masalah yang tengah menimpanya. Ia disibukkan dengan beberapa pekerjaan. Dan ketika ia sudah menyelesaikan pekerjaannya, hatinya kembali merasa hampa. Tangan Riana kemudian terulur mengambil ponselnya yang sedari pagi ia abaikan. Rentetan pesan yang ia kirim tidak mendapatkan balasan, dibaca pun tidak. Raihan benar-benar melupakan dirinya dalam sekejap saja.
"Ri, aku butuh bantuan kamu. Laporan bulan ini selisih cukup banyak. Aku bingung dimana salahnya." Sella sudah berdiri di sisi kursi kerja Riana. Wanita itu menatap laporan yang baru saja di print.
Riana tersentak kaget, ia mengatur wajahnya yang sebelumnya nampak sendu. Ia hanya tidak ingin Sella memergoki dirinya yang kembali memikirkan Raihan.
"Iya Sell, coba aku lihat sini." Riana mengambil alih kertas yang berada di genggaman tangan Sella. Bibir Sella melengkung tipis, ia berhasil membuat Riana kembali sibuk dan melupakan masalahnya.
Riana benar-benar membantu Sella mengerjakan laporan keuangan. Dua jam berlalu sudah, waktu menunjukkan pukul tiga sore. Ponsel yang Riana abaikan mendapatkan notifikasi pesan masuk. Buru-buru Riana meraih ponselnya dan dalam sekejap saja wajahnya berubah menegang.
Aku tunggu di taman apartement kamu jam lima sore ini.
Isi pesan Raihan membuat pikiran buruk Riana bermuculan. Pasti laki-laki itu sudah membaca pesan darinya sehingga memintanya untuk bertemu, tetapi Riana memang membutuhkan penjelasan dari laki-laki yang masih berstatus sebagai tunangannya itu. Jari-jari Riana terlihat mengetik sebuah balasan untuk Raihan.
Iya, aku udah nggak sabar mau denger penjelasan kamu!
Bersambung
...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...