Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Emosi


__ADS_3

Siang itu ketika bel pulang sekolah sudah berbunyi, seperti biasa, Fitri akan menunggu Dicky di lantai dua di bangku koridor sekolah.


Anak-anak mulai berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing.


"Bu Fitri masih menunggu Pak Dokter?" tanya Bu Erna yang berjalan melewatinya.


"Iya Bu!" sahut Fitri sambil tersenyum.


"Kalau begitu aku duluan ya ke ruang guru!" pamit Bu Erna. Fitri hanya menganggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian, Bu Ria juga muncul dan berjalan melewati Fitri.


"Bu Fitri, lihat Bu Sita tidak? Hari ini aku di suruh Pak Jamal menggantikan kelasnya, ada apa sih? Biasanya Bu Sita paling rajin ke sekolah!" tanya Bu Ria.


"Aku tidak tau Bu, cuma tadi pagi Bu Sita di minta menghadap Pak Jamal, setelah itu aku tidak tau lagi!" jawab Fitri.


"Hmm, mungkin saja Bu Sita dapat surat peringatan dari sekolah, selama ini kinerjanya kurang baik, dia lebih suka bergosip dan membicarakan orang lain, sudahlah, aku duluan ya Bu!" pamit Bu Ria.


Fitri tersenyum lalu menganggukan kepalanya.


Sudah hampir lima belas menit Fitrie menunggu Dicky, namun Dicky belum muncul juga.


Akhirnya Fitri mengeluarkan ponselnya hendak menelepon Dicky.


"Halo Mas, sudah di mana sekarang?" tanya Fitri.


"Maaf Fit, jalanan macet sekali, sepertinya aku terlambat menjemputmu, sabar ya sayang, kau masih bisa kan menungguku?"


"Iya Mas, aku masih menunggu di sini!" jawab Fitri.


"Fit, kau jaga dirimu ya, mudah-mudahan macetnya segera reda, ada kecelakaan di jalan depan, jadi mobil tidak bisa bergerak nih!" jelas Dicky.


"Iya Mas!" sahut Fitri sebelum mengakhiri panggilannya.


Beberapa cleaning servis nampak sedang membersihkan kelas yang kini kosong itu.


"Belum pulang Bu?" tanya seorang cleaning servis yang sedang mengepel lantai.


"Belum!" jawab Fitri.


Tiba-tiba dari arah ruang komputer, muncul Pak Donny dan Pak Riko yang baru selesai membuat soal ujian di komputer.

__ADS_1


Mereka lalu menghampiri Fitri yang masih duduk menunggu Dicky.


"Bu Fitri belum pulang?" tanya Pak Donny.


"Belum Pak!" jawab Fitri.


"Masih menunggu suaminya ya Bu, setia sekali Bu Fitri, pantas saja suaminya sangat sayang dan perhatian sama ibu!" ucap Pak Riko.


"Terimakasih Pak, kebetulan dia sedang kena macet, jadi agak terlambat datang!" kata Fitri.


"Tapi sebentar lagi lantai dua mau di tutup Bu, apa Bu Fitri tidak mau turun bersama kami?" tanya Pak Riko.


"Tidak Pak terimakasih, mungkin sebentar lagi suamiku akan datang, aku di sini saja!" sahut Fitri.


"Pak Riko, kau boleh pulang duluan, biar aku yang menemani Bu Fitri di sini!" ujar Pak Donny tiba-tiba.


"Oh, baiklah, kalau begitu aku duluan ya, mari!" ucap Pak Riko yang segera melangkah menuruni tangga.


"Seharusnya Pak Donny pulang duluan saja, aku tidak perlu di temani!" kata Fitri.


"Tidak apa-apa Bu Fitri, lagi pula aku pulang cepat atau lambat sama saja, tidak ada yang menungguku!" ujar Pak Donny.


"Oya? Pak Donny tinggal sendirian?" tanya Fitri.


Wajah Pak Donny tiba-tiba berubah mendung, saat tanpa sadar dia mengungkapkan kisah lamanya.


"Aku turut prihatin Pak, semoga Pak Donny cepat mendapat penggantinya!" ucap Fitri.


"Terimakasih Bu, saat pertama kali aku melihat Bu Fitri mengajar di sini, aku kaget, wajah Bu Fitri sangat mirip dengan mendiang tunangan ku, setiap kali aku melihat Bu Fitri, tiba-tiba aku teringat dia!" ungkap Pak Donny.


Fitri terdiam mendengar ungkapan hati Pak Donny, dia tidak tau lagi harus berkata apa, saat ini pikirannya hanya satu, apakah Dicky akan marah melihat Pak Donny yang kini duduk di sampingnya.


"Maaf Pak Donny, sebaiknya Pak Donny pulang saja duluan, mungkin sebentar lagi suamiku akan datang!" kata Fitri.


"Tidak Bu Fitri, jarang-jarang kita ada waktu ngobrol berdua seperti ini, selama ini aku selalu memendam kesedihan sendirian, semua teman seolah hanya ada di saat suka, di saat senang, aku seperti menyibukkan diri dalam dunia yang ramai ini, padahal hatiku sangat kesepian!" ungkap Donny.


Pancaran matanya tiba-tiba berubah, Pak Donny menatap lekat pada Fitri, seperti menyimpan sesuatu yang di pendamnya selama ini.


Semua petugas cleaning servis sudah turun ke bawah. Kini di lantai dua itu, hanya ada Fitri dan Pak Donny.


Tiba-tiba Fitri merasa seperti ada sesuatu yang aneh pada diri Pak Donny, pria yang di kenal baik di sekolah ini, bahkan tidak sedikit guru wanita yang mengaguminya.

__ADS_1


Guru olah raga dengan tubuh yang atletis, dengan sifatnya yang agak pendiam, namun menyimpan segudang misteri.


"Maaf Pak, sebaiknya Bapak pulang duluan saja, tidak enak jika ada guru lain yang melihat kita, aku mohon Pak!" ucap Fitri.


Pak Donny tiba-tiba berdiri dari duduknya, dia bukannya beranjak turun malah mendekat ke arah Fitri. Fitri mulai ketakutan.


"Bu Fitri, aku melihat kau begitu bahagia dengan suamimu, suamimu juga terlihat sangat mencintaimu, Mengapa dunia ini tidak adil? Sedangkan aku kehilangan orang yang aku cintai!" Pak Donny mengangkat dagu Fitri lalu menatap tajam ke wajah Fitri yang mulai berkeringat.


"Pak Donny, sadarlah Pak, Bapak sedang di kuasai oleh bayangan masa lalu Bapak, jangan salahkan takdir Pak, Bapak harus bisa move on! Aku mohon, jangan sakiti aku!" mohon Fitri. Air matanya mulai mengalir.


"Tapi aku sangat ingin, sangat ingin mencicipi apa yang di nikmati oleh suamimu itu, paling tidak sedikit saja, kau sangat mirip dengan tunanganku!" wajah Pak Donny mulai mendekat ke arah Fitri.


Dengan sekuat tenaga, Fitri mendorong tubuh Pak Donny hingga jatuh terjerembab, kemudian Fitri berusaha lari.


Namun dengan cepat Pak Donny kembali menangkap tangan Fitri.


"Bu Fitri, aku tidak suka kekerasan, tapi paling tidak ijinkan aku untuk ..."


Buuuggh!!!


Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Pak Donny, hingga pria itu kembali jatuh tersungkur, darah segar mengalir dari hidung dan bibir Pak Donny.


Dicky sudah berdiri dengan wajah penuh emosi.


"Kau laki-laki biadab!!" sentak Dicky, wajahnya memerah menahan marah.


Pak Donny lalu segera bangkit dari posisinya, sambil mengusap darah yang mengalir di mulutnya.


"Kau sudah datang Pak Dokter! Lain kali, jangan pernah terlambat menjemput istrimu!!" seru Pak Donny sambil melangkah menuruni tangga dan meninggalkan mereka.


Fitri langsung memeluk Dicky dengan erat.


"Maafkan aku Fitri, maafkan aku! Gara-gara macet sialan kau jadi seperti ini, maafkan aku!" ucap Dicky berkali-laki sambil memeluk Fitri dengan erat.


"Aku takut Mas, aku takut!" lirih Fitri dengan tubuh bergetar.


Dicky lalu mengangkat Fitri dalam gendongannya, kemudian dia langsung turun ke bawah menuju ke mobilnya terparkir.


"Aku janji, tidak pernah sedetikpun terlambat menjemputmu, bagaimanapun caranya, aku janji Fit, maafkan aku, maafkan aku, aku akan terus menjagamu Fit!" ucap Dicky berulang kali.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2