Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Persiapan Liburan


__ADS_3

Hari ini Dicky sudah mengajukan cuti dari rumah sakit, karena rencana besok dia dan Fitri akan berangkat liburan ke Jepang selama tiga hari.


Pak Karta dan Bu Eni sudah kembali pulang ke Sukabumi, karena Pak Karta harus kembali mengelola sawahnya di kampung.


"Semuanya sudah siap sayang, siapkan pakaian dingin, jangan ada yang ketinggalan ya!" ujar Dicky sambil mulai menutup kopernya.


"Sudah Mas, sweater, syal dan jaket aku sudah bawa!" jawab Fitri.


"Baguslah Fit, jadi nanti malam kita tinggal istirahat saja, tidak usah siap-siap lagi!" kata Dicky.


Mereka kemudian turun ke bawah. Dina dan Dara nampak sedang duduk di tuang tamu, menunggu Pak Hardi guru les mereka datang.


"Anak-anak, Pak Hardi belum datang?" tanya Dicky.


"Belum Pa, biasanya jam segini pak Hardi sudah datang!" jawab Dina.


"Barangkali macet, tunggu saja sebentar lagi!" tambah Fitri.


"Ya sudah, kalian tunggu Pak Hardi di sini ya, Papa dan Mama mau beli susu di minimarket depan dulu!" ujar Dicky sambil menggandeng tangan Fitri keluar dari rumahnya.


Setelah Dicky dan Fitri keluar, tak lama kemudian Pak Hardi datang, Dina dan Dara menyambutnya dengan gembira.


"Selamat siang Dina dan Dara!" sapa Pak Hardi yang langsung duduk di ruang tamu itu.


"Pak Hardi kemana saja? Tumben hari ini terlambat?" tanya Dara.


"Iya, tadi di jalan ban motor Bapak pecah, jadi tambal dulu deh!" jawab Pak Hardi.


Pak Hardi Lalu menyodorkan bungkusan dan di letakannya di atas meja.


"Itu apa lagi Pak?" tanya Dina.


"Ini kue bolu pisang, nanti makan ya sama-sama Mama dan Papa!" jawab Pak Hardi.


"Pak Hardi kok baik sekali sih? Kalau ke sini pasti bawa sesuatu, kemarin bawa roti, waktu itu bawa martabak!" tanya Dara.


"Tidak apa-apa, kan tidak ada salahnya kalau kita mau berbagi, ayo keluarkan buku kalian, apakah hari ini ada pr?" tanya Pak Hardi.

__ADS_1


"Ada Pak! Aku ada pr susah sekali!" sahut Dina sambil mengeluarkan bukunya.


"Aku juga Pak! Tadi ada pr Matematika dari sekolah!" lanjut Dara yang juga langsung mengambil bukunya.


Mereka mulai belajar di ruangan itu. Pak Hardi dengan telaten membantu pelajaran Dina dan Dara.


"Pak Hardi kenapa setiap kesini selalu pakai masker?" tanya Dara tiba-tiba.


"Tidak apa-apa, Bapak hanya sedikit flu uhuuk uhuuk!" sahut Pak Hardi sambil terbatuk.


"Pak Hardi sudah ke Dokter belum? Kok flu nya lama sekali belum sembuh-sembuh?" timpal Dina.


"Sudah kok, ayo lanjutkan lagi pelajaran kita, kenapa jadi membahas soal masker??" sergah Pak Hardi.


"Pak, dulu di sekolah SD ada lho guru yang suaranya mirip kayak Bapak, namanya Pak Doni, dia guru yang baik deh Pak, sering dapat penghargaan, tapi sayang dia sudah tidak mengajar lagi karena keluar dari sekolah!" kenang Dina.


Pak Hardi terdiam mendengar penuturan Dina, suasana di ruangan itu menjadi hening seketika.


Bi Sumi muncul sambil membawa beberapa gelas minuman dingin dan sepiring cemilan.


"Bi Sumi, ini tadi Pak Hardi bawa kue!" ujar Dina sambil menunjuk ke arah meja.


"O iya, sini Bibi potongin ya kuenya!" Bi Sumi langsung mengambil bungkusan itu lalu kembali beranjak ke ruang dapur.


"Pak Hardi, besok Papa dan Mama mau ke Jepang, asyiik deh, pasti pulangnya bawa banyak oleh-oleh!" celetuk Dara.


"Oya? Mama kan lagi hamil, kok malah pergi jalan-jalan, jauh lagi!" tanya Pak Hardi.


"Kata Mama Dokter bilang tidak apa-apa, supaya Mama bisa refreshing, sekarang kan Mama suka Burem kalau melihat!" sahut Dara.


"Hush Dara! Kamu belajar saja jangan ngomongin Mama!" sergah Dina.


"Sejak kapan Mama kalian suka Burem kalau melihat?" tanya Pak Hardi.


"Sejak kepalanya kena barang yang jatuh waktu di mall!" sahut Dara.


"Pak Hardi, yang ini aku tidak mengerti, bisa minta tolong jelasin tidak??" tanya Dina yang langsung menyodorkan buku cetaknya ke arah Pak Hardi.

__ADS_1


****


Malam itu, Dicky dan Fitri bersama dengan anak-anak dan Bi Sumi nampak sedang berkumpul di ruang makan, setelah mereka selesai makan malam bersama.


"Bi Sumi, kami titip Dina dan Dara ya, besok subuh kami sudah harus berangkat ke Bandara!" kata Dicky.


"Baik Pak Dokter, jangan khawatir, Dina dan Dara akan aman bersama saya!" jawab Bi Sumi.


"Tolong batasi tamu yang datang, kalau tidak di kenal tidak usah di layani, kecuali saudara, kerabat atau gurunya Dina dan Dara!" tambah Dicky.


"Iya Pak Dokter!" sahut Bu Sumi patuh.


"Dina dan Dara selama Mama dan Papa tidak ada, kalian belajar yang rajin ya, jangan lupa mengerjakan tugas dan Pr tepat waktu!" ujar Fitri.


"Iya Ma!" sahut mereka bersamaan.


"Kalau ada apa-apa, langsung telepon ke ponselku, aku percayakan semua keamanan rumah ini pada Bi sumi dan Mang Salim!" lanjut Dicky.


"Baik Pak Dokter, jangan khawatir, Pak dokter dan Mbak Fitri pergi liburan saja dengan tenang, urusan rumah serahkan saja pada Bibi!" ujar Bi Sumi.


"Bagus, sekarang sudah malam, istirahatlah kalian semua, kami juga ingin tidur lebih cepat malam ini!" ucap Dicky yang langsung menggandeng Fitri menuju ke kamar mereka.


Dicky dan Fitri kemudian langsung membaringkan tubuh mereka di tempat tidur mereka.


"Mas Dicky, cuma pergi tiga hari saja sudah seperti mau pergi setahun saja!" ujar Fitri.


"Ah Fitri, aku hanya ingin memastikan kalau semuanya baik-baik saja!" sahut Dicky.


"Semuanya pasti akan baik-baik saja Mas, kau jangan terlalu khawatir!" ucap Fitri.


"Iya sayang, aku tidak sabar ingin membawamu ke tempat salju, di mana kau bisa bermain sepuasnya, melepaskan setiap kepenatan pikiranmu!" bisik Dicky.


Fitri tersenyum bahagia, walaupun dia merasa kalau pandangannya semakin lama semakin kabur, namun dia merasa tenang karena ada Dicky yang selalu menjaganya dan selalu ada untuknya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2