Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Titip Pesan


__ADS_3

Klinik 24 jam milik Dicky semakin hari bertambah ramai, walaupun sistem pembayaran seikhlasnya, namun uang yang di dapat luar biasa, tidak pernah ada pasien yang membayar di bawah standar, bahkan mereka seringkali memberi uang lebih.


"Sus, walaupun gajimu kecil, tapi untuk makan, kau boleh bebas kapanpun makan di rumahku!" kata Dicky setelah selesai memeriksa pasien.


"Iya Dok, terimakasih!" ucap Suster Wina.


"Kau jangan khawatir Sus, kalau rejeki yang di dapat banyak, aku juga pasti akan menambah gaji mu, apalagi kalau kau bekerja dengan baik dan sepenuh hati!" kata Dicky.


"Amin Dok, saya doakan Klinik ini makin di kenal orang, kalau begitu saya pamit pulang ya Dok, sudah malam!" ujar Suster Wina yang terlihat membereskan berkas-berkas di meja.


"Kau pulang naik apa Sus?" tanya Dicky.


"Naik ojek online Dok!" sahut Wina.


"Aku ada motor jarang di pakai, kau pakai saja motor itu ya, lumayan ngirit ongkos juga, nanti aku suruh Mang Salim untuk membersihkan motor itu!" kata Dicky.


"Wah, Trimakasih Dok, Trimakasih!" ucap Wina senang.


Kau tunggu dulu di sini, nanti biar Mang Salim yang mengeluarkan motor itu!" ujar Dicky yang langsung beranjak ke belakang menuju ke rumahnya.


Dicky kemudian langsung menemui Mang Salim yang masih terlihat mengelap mobil.


"Mang, tolong keluarkan motorku yang di gudang samping, di bersihkan sebentar lalu di panaskan, setelah itu berikan pada Suster Wina!" titah Dicky.


"Baik Pak Dokter!" sahut Mang Salim yang langsung berjalan menuju ke gudang samping.


Sementara Dicky langsung masuk ke dalam rumahnya.


Fitri yang terlihat sedang bermain bersama Alex dan juga Dina dan Dara tersenyum melihat keceriaan wajah suaminya itu.


"Ada apa Mas senyum-senyum sendiri? Lagi senang ya?" tanya Fitri.


"Fit, kau tau tidak, hari ini berapa uang yang aku dapat?" tanya Dicky. Fitri menggelengkan kepalanya.


"Aku dapat lima juta dalam satu hari Fit, dua kali lipat dari kemarin!" seru Dicky senang.


"Wah, bagus dong Mas, seandainya pendapatan mu stabil, dalam satu bulan potensi penghasilanmu sekitar 150 juta, melebihi gajimu waktu di rumah sakit!" ujar Fitri.


"Iya Fit, aku juga heran, padahal aku tidak pakai tarif untuk biaya pengobatan, seikhlasnya tapi kenapa uangnya bertambah?" gumam Dicky bingung.


"Aku tau jawabannya Mas, apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai, hmm, jadi makin cinta deh!" goda Fitri sambil mencubit gemas pipi Dicky.


"Ssst, jangan pancing aku sekarang, banyak anak-anak!" bisik Dicky.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau mancing, ikan kali!" cetus Fitri cemberut.


****


Sebuah mobil mewah berhenti di depan klinik Dicky.


Mbok Jum, asisten Bu Anjani nampak turun dari dalam mobil itu.


Mang Salim yang baru memanaskan motor untuk Wina nampak terperangah melihat kedatangan Mbok Jum yang tiba-tiba itu.


"Mbok Jum? Ada perlu apa kemari?" tanya Mang Salim.


"Aku ingin bertemu Tuan Muda Dicky apakah ada?" tanya Mbok Jum.


"Tapi ... ada keperluan apa?" tanya Mang Salim lagi.


"Sudahlah, pokoknya aku ingin bertemu Tuan muda, tolong antarkan aku menemuinya!" sahut mbok Jum.


Akhirnya Mang Salim mengantarkan Mbok Jum masuk ke dalam rumah Dicky, sementara Wina sudah pulang dengan mengendarai motor pemberian Dicky itu.


Dicky dan Fitri yang masih duduk bersama anak-anak di ruang keluarga terlihat kaget melihat kedatangan Mbok Jum.


"Mbok Jum? Kau datang sendirian?" tanya Dicky.


"Maaf Tuan muda, boleh saya duduk dulu?" tanya Mbok Jum.


Mbok Jum lalu duduk di hadapan Dicky dan Fitri di ruangan itu, sementara Bi Sumi mulai membuatkan minuman untuk Mbok Jum, Dina dan Dara nampak masuk ke kamar mereka masing-masing.


"Apa kabar Mbok Jum?" tanya Fitri.


"Kabar saya baik, tapi Nyonya ... "


Mbok Jum menghentikan ucapannya, wajahnya terlihat mendung.


"Ada apa dengan Ibu Mbok?" tanya Dicky.


"Nyonya Anjani sakit Tuan muda!" jawab Mbok Jum.


Dicky dan Fitri saling berpandangan.


"Sakit? Sakit apa Mbok?" tanya Dicky yang mulai terlihat cemas.


"Sejak Tuan muda meninggalkan rumah Nyonya, Nyonya jadi pemurung, dia susah makan, bahkan sering melewatkan jam makannya, apalagi setelah dia mendengar kalau rumah sakit yang merupakan asetnya itu kini mulai mengalami penurunan dan kemunduran!" ungkap Mbok Jum.

__ADS_1


Dicky dan Fitri terdiam mendengar penuturan Mbok Jum.


"Jadi, Ibu sakit apa Mbok?" tanya Dicky.


"Sejak kemarin Ibu demam, tensinya tinggi, dan kadang susah untuk menggerakkan anggota tubuhnya!" jelas Mbok Jum.


"Apa diagnosa Dokter?" tanya Dicky lagi.


"Katanya, Nyonya Anjani mengalami gejala struk ringan, sekarang Dokter rutin memeriksa Nyonya setiap hari!" jawab Mbok Jum.


"Kasihan sekali Ibu!" gumam Dicky.


"Makanya itu, maksud saya datang ke sini adalah untuk menjemput Tuan muda, siapa tau dengan melihat Tuan muda Nyonya bisa kembali pulih seperti sedia kala!" ungkap Mbok Jum.


"Maaf Mbok, aku sudah menetapkan hati untuk tidak menginjakkan kaki di rumah itu lagi, di rumah yang membuat istri dan anak-anakku tidak bahagia!" ucap Dicky.


"Tapi Tuan muda, Nyonya benar-benar sakit dan merindukan Tuan muda, bahkan dalam tidur dia sering mengigau menyebut nama Tuan muda!" tukas Mbok Jum.


"Mas, dia itu ibumu, aku ijinkan kalau kau mau menjenguknya!" ucap Fitri tiba-tiba.


"Tapi Fit, aku butuh waktu untuk menata hatiku, Ah, jangan membuatku bingung!" sahut Dicky sambil sedikit menjambak rambutnya.


"Begini saja Mbok, berikan waktu suamiku untuk berpikir, kalau dia siap, pasti akan datang sendiri!" ucap Fitri.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi pulang dulu, selamat malam!" ucap Mbok Jum yang mulai bangkit dari duduk nya dan berjalan keluar dari rumah itu.


Dicky masih duduk termenung di sofa ruangan itu, sementara Alex terlihat tertidur setelah Fitri menyusuinya tadi sebentar.


"Sini biar Alex Bibi taruh di box bayinya!" kata Bu Sumi yang datang dari arah dapur, Fitri lalu menyerahkan Alex dalam gendongan Bi Sumi.


Dicky masih terlihat termenung, padahal dia baru saja senang karena penghasilan hari ini meningkat dari yang kemarin.


Tiba-tiba dia harus mendengar kabar kalau Ibunya sakit, Dicky mulai bingung dan dilema, tidak tau apa yang harus di perbuatnya.


"Aku harus bagaimana Fit?" tanya Dicky saat mereka hanya berdua saja di ruangan itu.


"Mas, aku dosa lho kalau melarang kamu menemui Ibumu, menurutku kau temui saja Mas, jenguk lah dia, kasihan, sebagai seorang Ibu, aku sangat paham dengan apa yang dia rasakan saat ini!" jawab Fitri.


"Fitri, apakah kau mau ikut kalau aku mengajakmu?" tanya Dicky. Fitri menggelengkan kepalanya.


"Dia hanya merindukanmu Mas, aku takut kalau ada aku, justru malah akan memperburuk keadaannya, aku percaya kok kalau Mas Dicky bijaksana dalam menyikapi ini semua!" jawab Fitri.


"Trimaksih Fit!" hanya itu yang bisa Dicky ucapkan pada Fitri.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2