Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mencari Dinda


__ADS_3

Beberapa kali Fitri mencoba untuk menghubungi Dinda, dia menelpon ke ponselnya, namun tidak di respon atau diangkat oleh Dinda.


Fitri ingin sekali datang ke rumah Dinda, sekedar untuk menghibur dan menaruh simpati terhadapnya, tapi Fitri tidak tahu di mana Dinda tinggal.


Dari arah gerbang depan, terdengar suara mesin mobil Dicky yang masuk ke pelataran parkiran, Fitri kemudian beranjak dari tempatnya dan melangkah ke arah depan rumahnya, bermaksud untuk menyambut suaminya itu datang.


"Bagaimana Pa? Apakah kau sudah bertemu dengan Ken? Kau sudah tahu alasannya mengapa Ken membatalkan pernikahannya itu?" tanya Fitri beruntun.


Dicky kemudian menuntun Fitri berjalan ke arah teras, dan mereka duduk di teras itu untuk mengobrol.


"Iya Ma, aku sudah datang ke rumahnya, dan menemui Ken, kurang ajar memang dia! Aku sudah memukulnya tadi, sebenarnya aku belum puas, tapi pukulan tidak sebanding dengan apa yang diperbuatnya!" sahut Dicky.


"Memangnya apa sih alasan Ken membatalkan pernikahannya? Aku juga sedang berusaha menelepon Dinda, tapi dia tidak angkat angkat teleponku!" kata Fitri.


"Kau tahu Apa alasan Ken? Dia membatalkan pernikahannya karena katanya keluarganya tidak setuju, sebab Dinda tidak diketahui siapa ayahnya jadi Ken menganggap kalau Dinda itu anak haram!" ujar Dicky, wajahnya masih menyiratkan kemarahannya.


"Keterlaluan sekali Ken! sebagai seorang perempuan, aku bisa merasakan apa yang dirasakan Dinda, Pa, aku ingin sekali ke rumah Dinda, Tapi aku tidak tahu di mana dia tinggal!" ucap Fitri.


"Bukankah katamu Dinda itu mengajar di sekolahnya Alex? mungkin guru-guru di sana tahu di mana Dinda tinggal, coba saja kau tanyakan, apa mau aku antar ke sana sekarang?" tawar Dicky.


"Mau Pa, tapi bukankah sekarang sekolah sedang libur ya, tapi menurut Alex, untuk anak-anak SD sedang ada acara di sekolah, kalau begitu, bisakah kau mengantar aku ke sekolah itu sekarang Pa?" tanya Fitri. Dicky menganggukkan kepalanya.


tanpa menunggu lama, Dicky dan Fitri kemudian segera kembali berjalan kearah mobil yang terparkir, mereka menuju ke sekolah Alex, tempat di mana Dinda mengajar di sana.

__ADS_1


Setelah mereka sampai di sekolah itu, Dicky segera memarkirkan Mobilnya di parkiran sekolah itu, benar kata Alex sekolah itu memang sedang mengadakan acara, Dicky dan Fitri kemudian masuk ke dalam untuk menemui salah seorang guru SD.


Sekolah itu sedang mengadakan latihan acara tutup tahun, ada beberapa murid dan guru yang datang ke sekolah untuk latihan, Dicky dan Fitri menemui salah seorang guru SD, yang terlihat sedang berdiri di lobby, dengan beberapa orang murid yang mengitarinya, sepertinya mereka akan latihan menari.


"Selamat siang Bu, Benarkah Ibu ini adalah guru SD di sini?" tanya Fitri.


"Selamat siang, Ya benar sekali, saya bu Ribka guru matematika di SD ini, Apakah kalian orang tua murid di sekolah ini? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Bu Ribka guru SD itu dengan ramah.


"Begini Bu Ribka, Saya ingin menanyakan soal guru SD di sini yang bernama Bu Dinda Maharani, Saya ingin menanyakan alamatnya, apakah ibu tahu di mana Bu Dinda tinggal? Kebetulan anak saya sekolah di sini juga tapi dia masih TK!" jelas Fitri.


"Oh Bu Dinda yang baru gagal nikah itu? Padahal rencananya kami para guru, sehabis acara ini ingin pergi ke pernikahannya Bu Dinda, tapi ternyata pernikahannya batal, kami tidak jadi pergi deh, kasihan sekali Bu Dinda, dia pasti sangat malu dan terpukul!" kata Bu Ribka.


"Makanya kami datang ke sini, ingin menanyakan alamat rumah Bu Dinda, karena Bu Dinda itu masih kerabat kami!" ucap Fitri.


"Oh baiklah, kalau begitu kami akan datang ke rumah kosnya ya Bu Dinda, Terima kasih banyak atas informasinya ya Bu!" ucap Fitri sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Ibu Ribka menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Dicky dan Fitri kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, mereka berjalan ke arah parkiran mobil mereka.


Setelah itu, mereka melajukan mobilnya keluar dari sekolah itu, dan mencari jalan ke arah belakang sekolah, tak jauh dari situ ada jalan kecil menuju ke arah belakang sekolah.


Dicky segera mengemudikan mobilnya menelusuri jalan Itu, sampai ke belakang sekolah besar itu, benar kata Bu Ribka, tepat di belakang sekolah ada sebuah rumah besar, di depannya ada tulisan rumah kos melati, karena rumah itu ada di jalan melati.


Dicky kemudian memarkirkan Mobilnya di depan pintu gerbang rumah kos itu.

__ADS_1


di ruang tamu rumah kos itu, Dinda terlihat duduk di sofa ruangan itu, ditemani dengan seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu kandungnya yang baru datang dari Bandung.


Dicky dan Fitri perlahan mengetuk pintu ruangan yang terbuka itu, Dinda menoleh dengan berusaha tersenyum dia menganggukkan kepalanya, dan mempersilakan Dicky dan Fitri untuk duduk bergabung di ruangan itu.


"Pak dokter dan Mbak Fitri tahu dari mana rumahku saya ini?" tanya Dinda, wajahnya menyiratkan kesedihan namun dia terlihat begitu tegar.


"Tadi kami ke sekolah Dinda, lalu kami bertemu dengan Bu Ribka, dari Bu Ribka lah kami tahu di mana kamu tinggal!" jawab Fitri.


"Atas nama keluarga, kami minta maaf Yang sebesar-besarnya atas perlakuan Ken yang sangat keterlaluan ini terhadapmu dan keluarga, maafkan kami!" ucap Dicky dengan mengatupkan kedua tangannya, sebagai tanda permohonan maaf Yang sebesar-besarnya.


"Sudah lah Pak dokter, kalian tidak salah sama sekali, Mungkin aku memang tidak berjodoh dengan Ken, dan aku belajar ikhlas!" jawab Dinda.


"Dinda, Aku berharap kau akan mendapatkan yang jauh lebih baik daripada Ken, Ken itu tidak pantas untukmu, kau terlalu baik, biar Tuhan yang akan membalas semua perbuatannya itu!" tambah Fitri.


"Iya Mbak Fitri, Untung saja Ken segera membatalkan pernikahan kami, daripada nanti setelah menikah kami bercerai, mungkin ini sudah jalan yang terbaik buatku, Oh ya, kenalkan ini ibuku, biasa dipanggil Bu Lilis!" kata Dinda, wanita paruh baya di sebelahnya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Bu Lilis, sekali lagi kami dari pihak keluarga Meminta maaf Yang sebesar-besarnya, dan kami berharap, Dinda akan mendapatkan pasangan hidup yang terbaik, sebagai sepupunya Ken, saya merasa sangat malu sekali!" ungkap Dicky.


"Sudah lah nak, Ibu ikhlas kok, yang penting, dari sekarang Dinda sudah bisa menerima semuanya, mungkin ini memang sudah takdir!" jawab Bu Lilis wanita paruh baya yang adalah ibu kandung dari Dinda.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2