
Pagi-pagi sekali Fitri sudah mandi dan berpakaian rapi, dia sengaja bangun lebih pagi dari biasanya, sebelum berangkat mengajar, Fitri sangat ingin sekali mengobrol dengan Anita atau Tata saudara kembarnya itu.
Alex nampak sedang di gendong oleh Bu Eni, Sementara pak Karta membantu Mang Salim mencuci mobil.
Momen ini di gunakan Fitri untuk mengajak Anita mengobrol di taman samping rumahnya itu.
"Ta, ini ada sedikit uang untuk kau membeli baju atau kebutuhanmu, nanti ajak Ibu atau Bi Sumi mengantarmu ke pasar dekat sini, di sana banyak sekali toko baju!" kata Fitri sambil menyerahkan sebuah amplop ke arah Anita.
Anita tertegun menatap amplop di hadapannya itu, kemudian dia membuka buku yang selalu ada di tangannya itu lalu mulai menulisnya.
Jangan repot-repot, aku masih punya tabungan, terimakasih!
"Anita, kau terima saja, aku sama sekali tidak merasa di repot kan olehmu, aku malah senang sekarang aku punya saudara kandung di dunia ini, terimalah!" Fitri menaruh amplop itu di telapak tangan Anita.
Anita mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya sebagai tanda terimakasih.
"Anita, apakah kau kenal dengan Pak Donny? Maksudku, Donny Suhardi!" tanya Fitri.
Anita nampak terkejut dengan, pertanyaan Fitri, matanya membulat kaget.
"Pak Donny itu rekan sesama guru dulu, tapi sekarang dia sudah resign, dulu dia pernah mengatakan, kalau tunangannya itu wajahnya mirip denganku, apakah yang di maksud tunangannya itu adalah kamu?" lanjut Fitri.
Anita nampak terkesima mendengar perkataan Fitri, dia pun mulai menuliskan sesuatu di buku hariannya itu.
Donny dulu adalah tunangan ku, dia baik, tampan dan terpelajar, makanya menjadi guru, padahal aku ini miskin, berpendidikan rendah dan hanya anak seorang bidan biasa.
Saat dia akan melamarku dan kami akan menikah, satu Minggu sebelum hari pernikahan, kami mengalami ke kecelakaan di daerah puncak Bogor, saat itu hujan begitu deras, cuaca buruk.
Aku terperosok ke jurang yang sangat dalam, seorang petani menolongku, dia merawatku selama satu Minggu, di saat itulah aku kehilangan suaraku, aku menjadi bisu.
Setelah aku kembali pulang ke rumah, aku meminta pada Mak untuk merahasiakan diriku, aku malu, aku tidak pantas untuk Donny, aku sudah cacat, aku sudah bisu!
Karena aku tidak di temukan dan tidak berkabar, Donny menganggap aku sudah tiada, walaupun aku sangat sedih, tapi aku ikhlas jika dia memilih wanita lain yang lebih baik dari aku!
Anita menulis di buku itu dengan air mata yang berjatuhan di pipinya, seolah mengungkapkan seluruh perasaannya.
Sekitar 15 menit menulis, Anita menyodorkan tulisan itu pada Fitri.
__ADS_1
Fitri membaca dengan perasaan sedih dan dengan dada yang bergemuruh, betapa selama ini Anita begitu menderita, kehilangan suara, dan juga cintanya.
Fitri lalu segera memeluk Anita dengan erat.
"Ta, Pak Donny sangat mencintaimu, bahkan saat dia menganggap mu tiada, dia tetap ingat dan mencintaimu!" ucap Fitri.
Anita menggelengkan kepalanya sambil menangis.
"Kau jangan khawatir Ta, suamiku bilang suaramu bisa kembali, suamiku dokter kau jangan khawatir!" ujar Fitri sambil memegang kedua bahu Anita.
Anita hanya menatap Fitri dengan tatapan sendu.
"Aku akan membantumu mencari Pak Donny, kau jangan khawatir Ta, aku yakin dia sangat bahagia saat tau kau masih hidup, suamiku pernah bilang, hanya cinta yang bisa menyembuhkan setiap luka, yakinlah itu Ta!" ucap Fitri.
Anita mengatupkan kedua tangannya di depan dada, Kemudian kembali mereka saling berpelukan.
"Ma, sudah hampir jam tujuh, ayo berangkat ke sekolah!" Dara tiba-tiba sudah berdiri di dekat Fitri dan Anita.
"Eh, iya Mama hampir lupa, ayo sayang!" Fitri kemudian menuntun dara dan Anita berjalan ke depan.
Dicky sudah berdiri di sana sambil menggendong Alex. Dina dan mang Salim sudah menunggu di dalam mobil.
"Aku berangkat ya Mas!" pamit Fitri sambil mencium Alex.
"Iya sayang, nanti langsung pulang ya!"
"Iya, Oya Mas, dulu kau pernah bilang, kalau Pak Donny mengajar di sekolah internasional, bisa aku minta alamatnya? Aku ingin membantu Anita mencari informasi tentang Pak Donny!' kata Fitri.
"Ah, si Kampret lagi!" sungut Dicky.
"Ssst, jangan bilang begitu, biar begitu dia adalah tunangan dari saudaraku!' bisik Fitri.
"Iya iya, nanti sehabis praktek biar aku yang cari kampret itu, jangan kau yang mencarinya!" tegas Dicky.
"Iya, aku jalan ya Mas!" Fitri lalu segera naik ke dalam mobil itu, dan tak lama mobil itu melaju meninggalkan rumah itu menuju ke sekolah.
Dicky masih berdiri di depan rumahnya itu sampai mobil yang di tumpangi istrinya menghilang.
__ADS_1
"Nak Dicky, Ibu ijin mau ke luar mengantar Anita membeli baju dan kebutuhannya!" kata Bu Eni yang sudah berdiri di samping Dicky.
"Silahkan Bu, Ibu pergi sama Bapak kan?" tanya Dicky.
"Iya Nak, Bapak yang mengantar kami ke pasar!" sahut Bu Eni.
Dicky menganggukan kepalanya lalu segera berjalan menuju ke kliniknya yang baru saja mau dia buka, beberapa pasien sudah nampak duduk mengantri.
Suster Wina juga nampak baru datang, setelah memarkir motornya di segera masuk ke dalam dan mulai bersiap-siap.
"Selamat pagi Dok, ramai sekali di rumah dokter kelihatannya!" sapa Wina.
"Iya, ada saudaranya istriku!' sahut Dicky.
"Wah, pasti senang Bu Fitri ada saudaranya ya Dok!" ujar Wina.
"Sus, nanti siang tutup sementara kliniknya ya, kita buka dari sekarang saja ,soalnya aku ada keperluan di luar!' kata Dicky.
"Siap Dokter, tapi sepertinya, kita butuh tambahan dokter lain, pasien di sini semakin banyak yang antri Dok, tiap hari ada saja orang sakit, kan Dokter akan kecapekan kalau menanganinya sendirian!" usul Wina.
"Iya Sus, nanti aku akan cari Dokter lain yang akan membantuku di sini, kau tenang saja, yang penting tunjukan pelayanan yang terbaik buat pasien, itu muka selalu senyum ya, jangan cemberut kayak pepaya, harus kayak semangka!" ujar Dicky.
"Siap Dokter!" sahut Wina semangat.
Dicky lalu duduk di kursi kebesarannya itu sambil memangku Alex yang sedari tadi anteng dan tidak rewel.
"Kau dengar Lex, kalau kau besar nanti, carilah pekerjaan yang berguna bagi banyak orang, bisa membantu orang lain, di jamin deh, hidup mu akan bahagia dan tidak kekurangan apapun, seperti Papa!" ucap Dicky pada Alex.
Alex hanya menatap wajah sang Papa seolah mengerti apa yang di ucapkannya.
"Dok, itu di depan ada pasien korban tabrak lari! Bagaimana Dok? Klinik kita kan kecil, peralatan juga tidak lengkap!" seru Wina yang tiba-tiba masuk ke ruangan Dicky itu.
"Sus, tolong berikan Alex pada Bu Sumi, biar aku yang ke depan melihat kondisi pasien!" titah Dicky sambil menyodorkan Alex ke arah Wina.
Dengan cepat Wina mengambil Alex dan berjalan ke belakang mencari Bu Sumi.
Bersambung ...
__ADS_1
****