
Malam itu setelah Dicky pulang dari rumah sakit, mereka makan bersama di sebuah meja makan besar di rumah Dicky.
Suasana malam ini berbeda karena Pak Karta dan Bu Eni ikut meramaikan suasana makan malam yang biasanya sepi itu.
"Rumah sebesar ini apa kalian tidak merasa sepi? Apa kalian tidak ingin mendengar suara tangis dan tawa anak-anak?" tanya Bu Eni tiba-tiba.
Dicky dan Fitri saling berpandangan.
"Ehm, belum Bu, doakan saja Fitri akan cepat hamil, aku juga sangat merindukan seorang anak!" jawab Dicky akhirnya.
"Nah cakep! Begitu dong, harus antusias!" ujar Bu Eni sambil mengacungkan ibu jarinya.
"Pak, itu yang Bapak pakai mobil siapa?" tanya Fitri mengalihkan pembicaraan.
"Oh, itu mobil pinjaman dari Pak RT, tapi cuma tiga hari, makanya Bapak sama Ibu tidak bisa lama-lama menginap di sini!" jawab Pak Karta.
"Pak, kalau berkenan, aku ingin membelikan mobil untuk Bapak dan Ibu, supaya kalian lebih sering mengunjungi Fitri, tanpa harus meminjam mobil dari orang lain!" ucap Dicky.
Pak Karta dan Bu Eni terkesiap mendengarnya.
"Beneran Dicky?" tanya Bu Eni tak percaya.
"Iya, masa aku bohong sama mertua sendiri!" jawab Dicky.
"Nak Dicky, jangan repot-repot, simpan saja uangmu untuk keperluan kalian, apalagi kalau kalian sudah ada anak nanti, pasti banyak kebutuhan kan?" ujar Pak Karta sungkan.
"Iiih, Bapak ini gimana sih? Masa menantu mau kasih mobil di tolak, Dosa Pak nolak rejeki!!" sungut Bu Eni.
"Bu! Jaga sikap Bu, malu Bu, bahkan kita saja belum kasih apa-apa buat menantu!" sergah Pak Karta sambil menyenggol tangan Bu Eni.
"Nanti mobilnya akan aku kirimkan dari sini, Bapak dan Ibu tenang saja, ini tulus pemberianku!" ucap Dicky.
"Aduh duh, menantu kasep, manis, banyak uang, murah hati lagi, makin sayang Ibu sama kamu Dicky! Bener-bener menantu idaman ini mah!" ujar Bu Eni sambil mengelus pipi Dicky.
Setelah mereka selesai makan, mereka mulai bersantai sambil menonton acara sinetron di televisi.
"Mas Dicky, jadi kan mengantar aku ke rumah Dara? Dari tadi aku kepikiran lho Mas!" tanya Fitri yang kini duduk di samping Dicky, menemani Pak Karta dan Bu Eni nonton.
"Apa tidak kemalaman Fit?" tanya Dicky balik.
__ADS_1
"Ini baru jam tujuh Mas, belum malam, aku sangat ingin bicara pada orang tuanya!" jawab Fitri.
"Baiklah sayang, yuk kita langsung berangkat, kau sudah tau kan di mana rumahnya?" tanya Dicky. Fitri menganggukan kepalanya.
Kemudian mereka segera pamit pada Pak Karta dan Bu Eni yang masih nampak asyik menonton itu.
"Kalian mau kemana?" tanya Bu Eni.
"Ke rumah orang tua murid sebentar Bu, ada urusan!" sahut Fitri.
"Pulang jangan malam-malam! Nanti kalau lelah kapan Fitri akan hamil!" ujar Bu Eni memperingatkan.
"Tidak akan lama kok Bu!" jawab Dicky.
"Kalian hati-hati ya Nak!" ucap Pak Karta.
Kemudian Dicky dan Fitri mulai berjalan keluar menuju garasi mobil. Tiba-tiba Bu Eni menarik tangan Fitri.
"Fit, jangan lupa jamunya nanti malam lho!" ujar Bu Eni memperingatkan.
"Iya Bu!" sahut Fitri singkat, lalu segera menyusul Dicky yang sudah terlebih dahulu naik ke dalam mobilnya. Merekapun langsung melesat meninggalkan rumah itu.
"Ehm, itu, Mas Dicky suka minum jamu tidak?" tanya Fitri.
"Aku tidak pernah minum jamu Fit, kata orang rasanya pahit!" sahut Dicky.
"Kalau aku kasih Mas Dicky jamu bagaimana?" tanya Fitri lagi.
"Kalau kamu yang membuatnya aku akan minum Fit, karna pasti rasanya akan berubah jadi manis!" ucap Dicky sambil tersenyum dan mencubit dagu Fitri.
"Mas Dicky Ah!" cetus Fitri cemberut.
Tak lama mereka sudah sampai di kawasan dekat sekolah, tepatnya di kawasan pemulung.
"Fit, bukankah Pak Kevin sudah membuat rumah susun untuk penduduk disini ya, supaya mereka tidak lagi tinggal di gubuk-gubuk liar seperti ini?" tanya Dicky.
"Sebagian besar mereka sudah pindah ke rumah susun Mas, tapi beberapa orang menolak pindah termasuk keluarga Dara ini!" jawab Fitri.
"Mereka bodoh atau apa sih? Di kasih fasilitas malah di tolak!" cetus Dicky.
__ADS_1
"Semuanya tergantung pada pola pikir Mas, seperti ketika orang yang tinggal di bantaran sungai yang tiap tahunnya banjir, ada fasilitas namun mereka lebih nyaman dengan tempat lamanya yang kumuh itu!" jelas Fitri.
Dicky menggenggam erat tangan Fitri saat mereka menyusuri jalan sempit itu. Sementara mobil mereka di parkir di pinggir jalan raya dekat sekolahan.
"Istriku sangat cerdas rupanya, aku makin bangga dan sayang padamu!" ucap Dicky sambil mencium jemari Fitri.
Mereka pun sudah sampai di rumah Dara, perlahan Fitri mengetuk pintu yang terlihat usang itu.
Beberapa menit kemudian, Bu Romlah, Ibunya Dara dan Dina keluar dari rumahnya.
"Selamat malam Bu Romlah!" sapa Fitri.
"Bu Fitri? Ada apa malam-malam datang kesini?" tanya Bu Romlah dengan tampang masamnya.
"Maaf Bu, saya hanya ingin menanyakan, tadi Dara pulang duluan dari sekolah tanpa ijin dari saya, lalu siang tadi saat saya pulang ke rumah, saya melihat Dara dan Kakaknya mengamen di jalan, apakah Bu Romlah tau ini?" tanya Fitri balik.
"Tau Bu, memang saya yang suruh mereka pulang cepat, supaya mereka juga cepat mengamen dan dapat uang!" sahut Bu Romlah.
"Ya ampun Bu, mereka kan perlu sekolah Bu, apalagi Dara masih kecil, masih kelas satu SD!" ujar Fitri.
"Bu Guru, saya ini memulung dari pagi sampai sore, pendapatan pas pasan buat makan kadang kurang, kalau mereka tidak bantu saya, siapa lagi yang akan bantu saya, saya ini janda Bu, tidak ada yang menafkahi!" cetus Bu Romlah.
Fitri terdiam untuk beberapa saat lamanya, himpitan ekonomi memang kadang membuat orang bisa melakukan hal apapun.
Tiba-tiba Dicky mendekat, kemudian menggenggam kembali tangan Fitri untuk membuat hati istrinya itu tenang.
"Ibu, saya akan memberi tunjangan setiap bulan sebesar satu juta rupiah, asalkan anak-anak Ibu di ijinkan sekolah sesuai dengan waktunya, dan mereka jangan mengamen di jalan lagi, apakah ibu setuju?" tanya Dicky tiba-tiba.
Bu Romlah nampak membulatkan matanya.
"Apa Pak? Bapak serius?" tanya Bu Romlah nyaris tak percaya.
"Saya tidak main-main dengan ucapan saya, saya akan beri ibu uang bulanan satu juta, Ibu boleh memulung, tapi biarkan anak-anak tetap sekolah dan belajar, bagaimana Bu?" Dicky menatap tajam ke arah Bu Romlah.
"I-Iya Pak, saya setuju, tapi Bapak janji lho ya, jangan telat kasih uang bulanannya!" jawab Bu Romlah.
"Baik, besok saya akan kasih uangnya, tapi ingat Bu, anak-anak harus tetap sekolah!" ujar Dicky sambil menggandeng tangan Fitri pergi berlalu dari tempat itu.
****
__ADS_1