
Hari ini tanggal merah, libur nasional, Dicky dan Fitri juga libur dari pekerjaan mereka.
Pagi ini Pak Karta dan Bu Eni bersiap pulang ke Sukabumi. Sudah tiga hari mereka menginap di rumah Dicky.
"Bu, baru juga sebentar kalian datang, sudah mau pulang saja!" ujar Fitri dengan wajah sedih, karena rasa kangennya terhadap orang tuanya belum hilang.
"Tenang Fit, nanti kalau mobil pemberian suamimu sudah sampai, kami akan sering mengunjungi kalian, yah bisa dua Minggu atau sebulan sekali lah, sekalian memantau perkembangan calon cucu!" kata Bu Eni sambil mulai mengangkat barang-barang nya ke dalam mobil.
Dicky terlihat membantu Pak Karta mengangkat barang dan memanaskan mobil.
"Ibu doakan saja ya, supaya aku bisa cepat hamil!" ucap Fitri sambil memeluk Ibunya itu.
"Tentu saja Fit, Oya, gimana jamunya? Suamimu sudah kau kasih jamu belum?" tanya Bu Eni setengah berbisik.
"Sudah Bu!" jawab Fitri.
"Bagus Fit! Minum yang rutin ya, nanti Ibu akan kirimkan lagi jamunya kalau sudah habis, kau tinggal info saja!" ujar Bu Eni.
"Iya Bu!" sahut Fitri.
"Sudah ya Fit, Bapakmu kelihatannya sudah menunggu di mobil, nanti malah kesiangan panas lho, maklum AC mobilnya mati Hehehe!" kata Bu Eni sambil menggaruk kepalanya.
Mereka pun berjalan menuju ke arah mobil yang sudah menyala itu. Bu Eni segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya itu.
"Kami pamit ya Nak Dicky, terimakasih atas jamuan nya selama kami di sini!" ucap Pak Karta.
"Sama-sama Pak, ini ada sedikit rejeki dari saya, mohon di terima Pak, Bu!" Dicky mengeluarkan sebuah amplop coklat dari dalam saku celananya, lalu di sodorkannya pada Pak Karta.
Dengan cepat Bu Eni langsung menyambar amplop itu.
"Biar Ibu yang pegang saja Pak, Bapak kan nyetir!" ujar Bu Eni.
"Kamu itu Bu, kalau soal duit saja, selalu cepat! Bikin malu saja!" cetus Pak Karta.
"Wah Nak Dicky, ini amplopnya tebal sekali, pasti banyak ini isinya!" seru Bu Eni antusias. Dicky hanya tersenyum.
"Semoga bisa bermanfaat untuk Bapak dan Ibu!" ucap Dicky sambil tersenyum.
"Sekali lagi kami ucapkan terimakasih Nak Dicky, kami doakan semoga rejeki kalian bertambah!" ucap Pak Karta.
Setelah itu Pak Karta mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dicky.
Fitri dan Dicky masih berdiri di situ sampai mobil yang di kendarai Pak Karta hilang dari pandangan.
Kemudian Dicky menggandeng Fitri masuk kembali ke dalam rumahnya.
"Mas Dicky, maafkan sikap Ibu ya yang mungkin kelihatan norak dan kampungan, maklum saja orang tuaku hanya butuh tani dan kurang pendidikan!" ucap Fitri menunduk.
__ADS_1
Dicky lalu mengangkat dagu Fitri dan menatap dalam ke arah Fitri.
"Orang tuamu juga adalah orang tuaku Fit, kau lebih beruntung dari aku karena kau masih punya orang tua, jadi kau jangan sungkan padaku!" bisik Dicky.
"Trimakasih Mas!" ucap Fitri.
"Sudahlah sayang, sekarang kau bersiap-siaplah!" ujar Dicky.
"Bersiap-siap? Memangnya kita mau kemana?" tanya Fitri.
"Kau ingat tidak Fit, waktu itu aku pernah janji akan mengajakmu ke suatu tempat, cuma karena kesibukan, janji itu belum terlaksana, hari ini kan libur, aku akan mengajakmu sekarang, bersiaplah sayang!" jawab Dicky.
Mereka kemudian naik ke atas menuju ke kamar mereka untuk berganti pakaian.
Dicky menahan tangan Fitri sebelum Fitri mulai mengganti pakaiannya.
"Ada apa Mas?" tanya Fitri.
"Fit, sebelum kau ganti baju, aku ingin ... ingin ..." Dicky menghentikan ucapannya.
"Ingin apa Mas?" tanya Fitri penasaran.
Dicky tidak menjawab, namun tangannya mulai menangkup wajah Fitri, di tatapnya sebentar wajah itu, lalu perlahan Dicky mulai mengecup bibir Fitri, ada rasa lembut dan hangat yang Fitri rasakan.
"Mas Dicky ..." lirih Fitri dengan suara sedikit mendesah, karena Dicky sudah membuat Fitri benar-benar terbuai di awan-awan.
Barulah Fitri tau keinginan Dicky yang sebenarnya.
Mereka mulai bergumul di pagi hari itu, menikmati indahnya keintiman mereka, dengan nafas yang saling menderu dan mendesah.
Hingga mereka sampai pada puncak kenikmatan yang sesungguhnya, Dicky mulai menyemburkan benih cintanya lagi di rahim Fitri.
Kemudian Dicky mulai terkulai lemas di samping Fitri.
"Terimakasih sayang!" ucap Dicky.
"Iya Mas, sama-sama!" balas Fitri.
"Ibu benar sayang, aku sangat ingin sekali memiliki anak darimu, dari buah cinta kita, semoga dalam waktu singkat kau bisa memberikan aku sang buah hati!" bisik Dicky.
"Iya Mas, aku juga ingin sekali memberikanmu seorang anak!" ucap Fitri.
Kemudian Dicky kembali mengecup kening Fitri sebelum dia bangkit dari tidurnya.
"Kita mandi lagi ya Fit, sebenarnya aku masih ingin lagi, tapi kita harus cepat berangkat karena tempatnya agak jauh!" ujar Dicky sambil menyambar handuknya.
"Memangnya kita mau ke mana sih Mas?" tanya Fitri.
__ADS_1
"Nanti juga kau akan tau Fit, sabar saja dulu!" sahut Dicky sambil berjalan ke arah kamar mandi.
"Mas Dicky curang!" seru Fitri.
Saat Dicky mandi, terdengar suara ponsel Dicky yang bergetar.
Fitri lalu mengambil ponsel Dicky yang ada di atas meja. Ada panggilan dengan nomor tak di kenal.
Kemudian Fitri dengan sedikit ragu-ragu, menerima panggilan itu.
"Halo ...!"
"Halo, ini Fitri ya, aku Ranti, bisa panggilkan Dicky sebentar?"
"Hah? Ranti?" tanya Fitri tak percaya, jantungnya mulai berdebar tak beraturan.
"Iya, Ranti. Di mana Dicky? Kenapa kau yang mengangkat teleponnya?" tanya Ranti balik.
"Wajar aku angkat telepon suamiku sendiri!" jawab Fitri.
"Aku sengaja pakai nomor lain, agar Dicky mau mengangkat teleponku, biasanya kalau aku telepon pakai nomorku, dia tidak pernah mengangkatnya, sial! Kenapa jadi kau yang mengangkatnya!" sungut Ranti.
"Maaf Ranti, aku dan Mas Dicky sudah bahagia, aku harap kau jangan lagi mengganggu kami!" tegas Fitri.
"Bahagia? Kau pikir Dicky bahagia dengan pernikahan pura-pura ini? Sadar Fit, kau hanya pelampiasannya!" berang Ranti.
Ceklek!
Dicky keluar dari kamar mandi, wajahnya heran melihat Fitri yang sedang menelepon dengan ponselnya.
Dicky lalu menghampiri Fitri, Fitri menoleh lalu menyodorkan ponsel itu ke arah Dicky.
"Halo ..."
"Dicky, bagaimana kabarmu, akhir-akhir ini kau sering menghilang saat jam istirahat!" kata Ranti.
"Ranti? Setiap jam istirahat aku selalu menjemput istriku!" jawab Dicky.
"Dicky, kau jangan menghindariku, baiklah aku mengalah, tapi bisakah kita menjadi teman?" tanya Ranti.
"Kau dengar Ranti, tidak ada hubungan pertemanan antara pria dan wanita, kecuali hubungan suami istri dan aku sudah beristri!" jawab Dicky.
"Tapi Dicky, aku ..."
Tuut Tuut Tuut
Telepon langsung di putuskan oleh Dicky.
__ADS_1
*****