Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Anak Asuh


__ADS_3

Sore itu setelah Dicky selesai praktek di rumah sakit, dia langsung buru-buru pulang untuk menjemput Fitri.


Rencana sore ini mereka akan ke rumah Bu Romlah, terkait dengan rencana mereka yang ingin mengadopsi Dara.


Setelah memarkirkan mobilnya di depan sekolahan, Dicky lalu mulai menggandeng Fitri menyusuri jalan sempit yang ada di pemukiman itu.


Banyak bahan material di sekitar pemukiman itu, karena sebentar lagi, pemukiman pemulung itu akan benar-benar di gusur.


Tanah itu milik pemerintah dan akan segera di bangun taman kota.


Tok ... Tok ... Tok


Fitri mulai meneguk rumah semi permanen itu.


Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka, Bu Romlah keluar dengan kedua orang anaknya, Dina dan Dara.


"Eh, ada Pak Dokter dan Bu Fitri, ayo duduk deh, yah bangkunya juga tidak ada, duduk di dipan saja deh!" kata Bu Romlah.


Mereka lalu duduk di sebuah dipan tua reyot yang terbuat dari bambu.


"Ada apa ya, Pak Dokter sama Bu Fitri datang kesini?" tanya Bu Romlah.


"Bu Romlah, bagaimana rencana ibu yang ingin pulang kampung? Apakah jadi?" tanya Fitri.


"Yah saya tidak ada pilihan Bu, besok rumah ini sudah mau di bongkar, rencana besok saya mau pulang ke kampung, biarin deh Dara berhenti sekolah dulu, dia kan masih kecil!" Jawab Bu Romlah.


"Bu Romlah, jika Ibu berkenan, kami berniat hendak mengadopsi Dara, menjadi anak kami, biar dia terus sekolah sampai tinggi, dan bisa mengangkat derajat Ibu kelak, bagaimana Bu?" tanya Dicky.


Bu Romlah nampak terkesima mendengar permohonan Dicky, dia bahkan tak mampu untuk menjawab apapun, kemudian dia menoleh ke arah Dara.


"Pak Dokter serius?" tanya Bu Romlah nyaris tak percaya.


"Tentu saja kami serius, saya dan istri saya sudah sepakat ingin mengadopsi Dara, itu juga kalau Ibu Mengijinkan!" sahut Dicky.


"Ya ampun Pak, saya malah terimakasih sama Pak Dokter kalau mau mengadopsi Dara, saya ingin Dara jadi orang maju Pak, tidak seperti saya yang kurang pendidikan!" ujar Bu Romlah dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana Dara? Apakah mau dara jadi anaknya Om Dokter dan Ibu Fitri?" tanya Fitri.


Gadis kecil itu nampak bingung, dia bahkan belum paham apa yang di maksud dengan adopsi.


"Dara, kamu beruntung di adopsi sama Pak Dokter, rumahnya besar, kamarnya pasti luas dan nyaman, tidak seperti di sini, tidur saja umpel-umpelan, bau iler di mana-mana!" cetus Bu Romlah.


"Tapi, apakah aku masih bisa ketemu Emak dan kak Dina?" tanya Dara polos.


"Tentu saja sayang, kapanpun Dara boleh bertemu sama Emak dan kak Dina, kan mereka tetap Ibu dan Kakak Dara, Om Dokter dan Bu Fitri hanya merawat Dara saja, dan menyekolahkan Dara!" jelas Dicky.

__ADS_1


Dara menganggukan kepalanya tanda mengerti.


"Jadi Dara bersedia kan?" tanya Fitri. Dara lalu menganggukan kepalanya.


Dicky kemudian mengeluarkan sebuah amplop coklat dan di sodorkannya pada Bu Romlah.


"Apaan nih Pak Dokter? Sekarang saya sudah tobat Pak, tidak mau malak lagi!" tukas Bu Romlah.


"Ini sekedar pemberian buat ongkos Bu Romlah besok, dan sedikit modal usaha buat Ibu, juga tambahan uang sekolah Dina!" ucap Dicky.


Bu Romlah langsung sujud di bawah saat itu juga.


"Terimakasih Pak! Terimakasih! Ada ya di Dunia ini orang sebaik Bapak! Semoga rejekinya makin bertambah Pak!" ucap Bu Romlah sambil menangis.


"Sudah Bu, jangan seperti ini, saya ikhlas!" kata Dicky sambil membantu Bu Romlah bangkit.


Diam-diam Fitri terharu melihat momen itu, betapa hati suaminya itu begitu luas bagai samudra.


"Kalau begitu, biar saya siapkan pakaian si Dara, jadi biar sekalian dia ikut Bapak!" kata Bu Romlah.


"Tidak usah Bu, nanti semua pakaian Dara biar kami yang akan membelikannya!" ujar Dicky.


Setelah semuanya setuju, sore itu Dicky dan Fitri mulai membawa Dara.


"Dara sekolah yang pintar ya, nanti biar bisa bantu Emak sama kak Dina, jangan nakal sama Om Dokter dan Bu Fitri!" bisik Bu Romlah sambil mengelus rambut Dara.


Terlihat dari mata Bu Romlah, ada butiran bening yang menetes, namun dia buru-buru menghapusnya.


****


Dicky dan Fitri tiba di sebuah mall, mereka langsung menuju toko pakaian anak-anak, banyak model gaun dan pakaian yang indah, yang warnanya begitu cantik.


Dara begitu terkesima melihat semuanya itu, seumur hidupnya jangankan ke mall, pakaian saja dia selalu mendapat gusuran dari kakak nya, kadang Ibunya membelikannya di pasar loak.


"Nah Dara, sekarang Dara boleh pilih pakaian yang Dara suka!" kata Fitri sambil menuntun Dara.


"Semuanya bagus-bagus Bu, Bu Fitri saja yang pilihkan!" sahut Dara.


"Baiklah, Ibu akan pilihkan pakaian untukmu ya, pakaian pergi, pakaian main, pakaian tidur, juga pakaian dalam, semuanya untuk Dara!" ucap Fitri.


Ada senyum kebahagiaan yang terpancar di wajah Dara, senyum yang selama ini jarang sekali di lihat oleh Fitri.


Setelah membeli pakaian anak-anak, mereka kemudian langsung pulang menuju ke rumah mereka.


Setelah Dicky memarkirkan mobilnya, mereka kemudian langsung masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Dara, ini Bi Sumi yang membantu pekerjaan di sini!" kata Fitri memperkenalkan.


"Eh, siapa anak cantik ini?" tanya Bi Sumi sambil mengelus pipi Dara.


"Dara akan tinggal di sini menjadi anak asuh kami Bi!" jelas Dicky.


"Wah, pak Dokter hebat, semoga rumah ini akan menjadi ramai, apalagi setelah nanti Dedek lahir!" kata Bi Sumi.


"Iya Bi, apalagi aku berencana akan memiliki lima anak dari istriku!" celetuk Dicky. Fitri langsung mencubit pinggang Dicky.


"Enak saja, yang ini saja belum lahir, kau masih memikirkan lima anak!" cetus Fitri. Bi Sumi hanya senyum-senyum melihat tingkah mereka.


Mereka lalu menuju ke sebuah kamar yang ada di sebelah kamar Dicky dan Fitri.


"Ini adalah kamarmu Dara, besok akan di desain menjadi kamar yang bagus untuk anak-anak, nanti Dara tidur di kamar ini, nanti Bi Sumi akan bantu menyusun pakaian Dara di lemari!" ucap Fitri.


Dara menganggukan kepalanya, kemudian Dicky melangkah mendekati Dara, dia berjongkok untuk mensejajari anak itu.


"Mulai hari ini, Dara jangan panggil Om Dokter dan Bu Fitri lagi, tapi panggil Papa dan Mama!" ucap Dicky.


"Papa dan Mama?"


"Iya, karena Papa dan Mama yang merawat Dara dan menjadi orang tua angkat Dara!" jawab Dicky.


"Iya Dara, sekarang Dara adalah anak kami, tanggung jawab kami!" tambah Fitri.


"Iya Papa, Mama, terimakasih!" kemudian Dara memeluk Dicky dan Fitri bergantian.


Drrt ... Drrt ... Drrt


Ponsel Dicky bergetar, dia langsung merogoh sakunya, mengambil ponselnya dan mengusap layar ponselnya itu.


"Halo ..."


"Ini Suster Wina Dok, pasien anak Arya sedang menunggu kedatangan Dokter!" kata Suster Wina.


"Ya Tuhan, aku lupa kalau akan ada jadwal operasi hari ini, tunggu sebentar ya Sus, aku langsung berangkat!" ujar Dicky sambil mematikan ponselnya.


****


Jangan lupa dukungannya ya guys ...


Jika berkenan berikan author hadiah atau vote, like dan komen.


Terimakasih 🙏😉😘❤️

__ADS_1


__ADS_2