
Dicky masih menggenggam erat tangan Fitri yang di rasa kaku dan tegang.
Kini sakit yang di alami Fitri semakin menjadi-jadi, tidak ada lagi jeda untuk beristirahat.
Wajah Dicky tambah cemas, apalagi kini tenaga Fitri sudah mulai habis, wajahnya semakin pucat, bibirnya membiru.
"Sayang, jangan membuatku khawatir, ayo bertahanlah, aku ada di sini untukmu!" bisik Dicky.
"Dicky, kalau pembukaannya lambat, dengan terpaksa kita harus mengoperasi Fitri ya, untuk menghindari resiko yang akan di alami Ibu dan anak!" kata Dokter Mia.
"Lakukan sekarang!! Jangan semakin lama menyiksa istriku!! Dia sudah sangat kesakitan!! Kalian dengar!!" Teriak Dicky.
Para suster nampak kalang kabut, selama ini Dicky sangat jarang terlihat marah, namun saat istrinya melahirkan, dia menjadi sangat emosional.
"Sabar Dicky! Kau ini malah membuat orang menjadi panik! Sudah! Kau di luar sana! Mengganggu konsentrasi orang saja!" cetus Dokter Mia.
"Tidak mau!! Mana mungkin aku di luar membiarkan istriku kesakitan sendirian! Kau saja yang di luar sana!" tukas Dicky.
"Kalau aku yang di luar, lalu siapa yang akan membantu istrimu melahirkan!?! Kau ini mengapa mendadak bodoh sih!" sungut Dokter Mia.
"Aaakkh!! Sakiit!" tiba-tiba Fitri menjerit.
Dicky langsung memeluk kepala Fitri dan menciumi keningnya berkali-kali.
Sementara Dokter Mia kembali memeriksa bagian dalam.
"Wah sudah pembukaan tujuh ini, sepertinya tidak lama lagi bayinya sudah akan lahir!" ujar Dokter Mia.
"Jadi, tidak jadi operasi gitu??" tanya Dicky.
"Tapi ini sudah pembukaan tujuh, sebentar lagi kok, biasanya kalau sudah pembukaan tujuh tidak akan lama lagi pembukaannya!" jawab Dokter Mia.
"Tapi kondisi Bu Fitri kelihatan lemah Dokter, apakah dia akan kuat mengejan??" tanya Suster.
"Kuatlah, ini sebentar lagi, tinggal di ujung tanduk, pendarahannya juga tidak terlalu banyak, dan tensinya tidak setinggi tadi kan!" kata Dokter Mia.
Kemudian Fitri mulai di pandu Dokter Mia melewati masa tersulit nya, Dicky hanya bisa memeluk dan menangis melihat perjuangan istrinya melahirkan buah hatinya.
"Aku janji, hanya kau satu-satunya wanita dalam hidupku, karena kau berjuang melahirkan anakku antara hidup dan mati, aku akan memuliakanmu sayang!" ucap Dicky sambil terus mengecupi wajah pucat Fitri.
"Mas, aku tidak kuat!" lirih Fitri yang sudah hampir kehabisan tenaganya.
"Kau pasti kuat sayang, Fitriku wanita yang kuat!" bisik Dicky.
"Fit! Itu kepala bayinya sudah kelihatan, dengar aba-abaku ya, kalau aku bilang mengejan kau harus mengejan, kumpulkan tenagamu dari sekarang!" ujar Dokter Mia.
Fitri hanya bisa menganggukan kepalanya lemah. Dia berusaha mengumpulkan sisa-sisa terakhir tenaganya, demi buah hatinya, demi Dicky yang amat di cintainya.
__ADS_1
"Nah, sekarang Fit, ayo sekarang mengejan, aku hitung ya satu, dua, tiga, ayo Fit!! Sedikit lagi!" seru Dokter Mia memberi aba-aba.
"Aaaakkkhh!!!" Fitri mengejan dengan sekuat tenaganya.
Dicky memejamkan matanya tidak kuat melihat wajah Fitri yang tegang dengan urat-urat yang terlihat menonjol di wajahnya.
"Oweeekk ... Oweeeek"
Seketika itu terdengar suara bayi menangis, akhirnya keluar juga bayi mungil dari dalam rahim Fitri.
Fitri menangis bahagia, Dicky juga menangis terharu, matanya sampai sembab dan merah.
Setelah di bersihkan, Dokter Mia langsung menaruh bayi mungil itu di dada Fitri.
"Selamat ya Fitri dan Dicky, bayi kalian laki-laki dan sangat tampan kayak Papanya!" ucap Dokter Mia.
"Terimakasih Mia!" ucap Dicky lembut, padahal sebelumnya sangat garang.
Fitri mendekap erat bayi mungilnya itu di dalam kehangatan dadanya.
Bayi itu mulai mencari-cari apa yang dapat di hisapnya, Fitri mulai melakukan inisiasi menyusui dini, seperti yang sudah dia pelajari sebelumnya.
"Selamat menjadi Mama sayang!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri dan bayi mungilnya itu.
"Bayi kita bernama Alexander Putra Pradita, kau setuju kan sayang?" tanya Dicky. Fitri menganggukan kepalanya.
****
Setelah Baby Alex lahir, Fitri dan Dicky banyak sekali mendapat karangan bunga dan kunjungan para tamu, bagaimana tidak, Dicky adalah seorang kepala rumah sakit, istrinya melahirkan tentu saja banyak ucapan selamat dari para banyak kalangan.
Karangan bunga itu begitu banyak hingga memenuhi parkiran, dan sepanjang koridor.
Sejak pertama kali masuk rumah sakit, tidak pernah Dicky sekalipun beranjak dari sisi Fitri, kecuali saat dia mandi atau ke toilet.
"Kalau kalian lelah, kalian boleh jika ingin menolak tamu!" kata Dokter Mia setelah membedong dan menaruh bayi mungil itu di dalam sebuah box kaca.
"Kalau teman atau kerabat, mana mungkin aku menolak mereka, tapi kalau sudah di luar jam besuk, tentu saja aku akan menolaknya!" ujar Dicky.
Ceklek!
Seseorang masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan seorang suster.
"Ada yang ingin bertemu Dokter Dicky!" kata suster.
Dicky tertawa saat melihat siapa orang yang datang menemuinya.
"Hai Adi! Kau kemana saja?? Sejak di pestaku itu kau langsung menghilang saja!" sapa Dicky. Mereka berdua saling berjabat tangan dan berpelukan.
__ADS_1
"Selamat ya Bro, akhirnya kau menjadi ayah juga!" ucap Adi.
"Pak Adi, kok tidak mengajak Bu Sita?" tanya Fitri.
Adi tiba-tiba terdiam, seperti sedang mengenang sesuatu.
"Aku ... sudah putus hubungan dengan Sita!" kata Adi.
"Apa? Aku pikir kau serius dengan dia! Bukankah dia adalah calon tunanganmu?!" tanya Dicky.
"Iya Pak, kenapa kalian bisa putus?" timpal Fitri.
"Setelah beberapa lama aku mengenal dan menjajaki Sita, aku batu sadar ternyata aku memang tidak cocok dengannya, dalam segala hal kami berbeda prinsip!" ungkap Adi.
"Aku turut prihatin Di, yang sabar ya, semoga kau cepat dapat pengganti yang lebih baik!" ucap Dicky.
"Aku malah sekarang sedang jatuh cinta dengan seseorang, dia nampak rapuh dan putus asa, kami tidak sengaja bertemu di mall, sejak itu kami berteman, tapi sayang, dia sudah menjadi istri orang!" gumam Adi.
Dicky dan Fitri saling berpandangan.
Ceklek!
Tiba-tiba suster Wina masuk, Dicky langsung melotot ke arahnya.
"Sus! Kenapa kau ke sini?? Tugasmu di ruanganku membantu Dokter Tika!" hardik Dicky.
"Maaf Dokter, saya hanya ingin mengantarkan ini, untuk bayi Dokter!" kata Wina sambil menyodorkan sebuah kotak kecil.
"Apa ini??" tanya Dicky.
"Tadi Bu Anjani datang ke ruangan Dokter, lalu dia menitipkan ini pada saya, makanya saya datang untuk menyampaikan titipan Bu Anjani ini!" jelas Suster Wina.
Dicky kemudian mengambil kotak itu. Perlahan dia membuka kotak itu untuk melihat isinya.
Tiba-tiba Dicky melotot saat melihat apa isi dari kotak itu.
Bersambung ...
****
Hai guys ...
Ditunggu selalu dukungannya ya...
Like, komen dan Vote jangan lupa, biar author tetap semangat.
Terimakasih 🙏
__ADS_1