Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Rencana Pernikahan Donny Dan Anita


__ADS_3

Dicky tertegun melihat tamu yang datang mengunjunginya, dia adalah Adi, teman Dicky dulu sesama di panti.


Adi datang bersama dengan seorang wanita yang adalah istrinya.


Mereka kemudian saling berpelukan dan menepuk bahu.


"Aku turut berdukacita atas meninggalnya Ibumu Dicky, maaf aku baru sempat datang sekarang!" ucap Adi.


"No problem, kau sudah ingat aku dan datang saja aku sudah senang, duduklah Di!" kata Dicky.


"Oya, Dicky, kenalkan ini istriku Vania, aku juga minta maaf saat aku menikah aku tidak mengundangmu, saat itu kondisi nya tidak memungkinkan!" ucap Adi.


Dicky kemudian menganggukan kepalanya sambil menoleh ke arah Vania istri Adi.


"Aku paham Di, Bu Nuri telah menceritakan padaku, saat itu kalian menikah di rumah sakit kan, aku maklum kok Di! Tapi aku senang melihat akhirnya kalian menikah dan bahagia!" sahut Dicky.


Fitri kemudian datang sambil menggendong Alex, kemudian duduk bergabung di ruangan itu.


"Anak kalian lucu sekali, aku jadi ingin sekali punya bayi, saat ini kami sedang merencanakan program bayi tabung, doakan semoga berhasil!" kata Adi.


"Pasti, aku pasti mendoakan mu, walau bagaimana, kita pernah susah dan senang sama-sama di panti, kalau kau butuh apapun, jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku!" ucap Dicky.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit, istriku tidak bisa lama-lama, sudah malam!" pamit Adi.


"Ya, sering-seringlah kalian berkunjung, atau kami yang akan mengunjungi kalian!" ucap Dicky.


Kemudian Fitri dan Dicky mengantar mereka sampai di teras depan, dan berdiri sampai mobil mereka hilang di balik gerbang.


Dicky menarik nafas panjang kemudian duduk di teras.


"Adi telah mengambil keputusan yang tepat!" gumam Dicky.


"Oya? Soal pernikahannya itu? Tadinya aku pikir, dia akan menikah dengan Bu Sita, pantas saja di sekolah Bu Sita selalu murung dan penyendiri!" ujar Fitri.


"Waktu itu Adi pernah datang dan berkonsultasi padaku mengenai istrinya yang sakit itu, aku hanya mengatakan padanya, hanya cinta yang bisa menyembuhkan luka, dan ternyata itu memang terbukti!" ungkap Dicky.


"Benar Mas, cinta Mas Dicky juga pernah menyembuhkan luka ku, terimakasih ya Mas!" ucap Fitri yang langsung merebahkan kepalanya di dada bidang Dicky.

__ADS_1


"Iya sayang ..."


"Kalau di seluruh dunia punya cinta seperti Mas Dicky, tentunya tidak akan pernah ada yang namanya luka!" lanjut Fitri.


"Makanya aku selalu menasihati semua teman-temanku, Si Adi, yang tadinya ragu, karena istrinya dulu menyimpan begitu banyak luka, tapi toh tetap saja cinta Adi yang bisa menyembuhkan luka istrinya!" ucap Dicky.


"Ya, aku bisa melihat itu, di mata istrinya sekarang, aku hanya melihat pancaran kebahagiaan!" ujar Fitri.


"Si Kampret juga, kau tau Fit, apa yang menyebabkan si Anita saudaramu bisa bicara lagi?" tanya Dicky.


"Apa?"


"Cintanya si Kampret! Seringkali keajaiban bisa terjadi hanya dari sebuah cinta yang tulus!" ucap Dicky.


"Hmm, Mas Dicky sekarang sudah pandai berfilosofi, nih tolong gendong Alex, ada yang mau aku kerjakan di belakang! Aku harus menyiapkan bahan masakan dengan Bi Sumi dan Mbok Jum untuk tamu yang akan datang besok!" ujar Fitri sambil menyodorkan Alex ke dalam gendongan Dicky.


"Ya sini, Alex main sama Papa saja!" Dicky kemudian berjalan masuk ke dalam, ke ruang keluarga yang banyak mainannya, lalu bergabung dengan Dina dan Dara yang sedang bermain.


"Ayo Alex main sama kakak!" seru Dina.


"Asyiik, Alex ikutan dong kak, main apa sih?" tanya Dicky yang langsung mendudukkan Alex di karpet, bayi lucu itu langsung merangkak kesana-kemari dengan gembira.


"Bu, Pak, sepertinya rencana pernikahanku dengan Donny di tunda dulu, Fitri dan suami kan masih dalam suasana berduka!" kata Anita.


"Sebaiknya ya memang di tunda dulu, yang penting kalian sudah mantap dan punya waktu lagi untuk menabung!" ujar Pak Karta.


"Iya Pak, tapi saya kira tabungan saya cukup untuk menikahi Anita!" sahut Donny.


"Kalau nanti Ibu mengundang banyak orang kampung bagaimana Don? Biasanya biaya yang besar itu kan makanan, belum lagi kalau kau mengundang teman-temanmu sesama guru!" timpal Bu Eni.


Donny tiba-tiba terdiam, walaupun dia punya tabungan yang cukup, gaji yang lumayan besar, tapi kalau di hitung-hitung biaya pernikahan lumayan besar juga.


"Ibu tenang saja, nanti aku akan jual apartemenku untuk tambahan biaya pernikahan, lagi pula untuk saat ini aku dan Anita tidak terburu-buru untuk menikah kan!" ucap Donny.


"Bagus Nak, itu baru namanya laki-laki kalau mau menikahi wanita, harus serius dan siap berkorban!" cetus Bu Eni.


"Tapi ya juga jangan memaksakan keadaan Bu, menikah itu kan tidak harus besar-besaran, yang penting kan sahnya!" ujar Pak Karta.

__ADS_1


"Iya sih, tapi terserah Donny saja lah Pak, berapa dia mampu, kita kan juga tidak bisa memaksakan kehendak!" sahut Bu Eni.


"Sudah deh Bu, kepala Bapak pusing, ini Nak Dicky masih berkabung, kita malah membicarakan anggaran biaya pernikahan, dah lah, bapak mau ke kamar dulu istirahat!" cetus Pak Karta yang langsung bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya.


"Tunggu Pak! Ibu ikut!" panggil Bu Eni yang langsung mengejar suaminya itu.


Kini di ruangan itu hanya ada Anita, Donny, dan Dicky yang sedang menemani anak-anak bermain.


"Anita, sudah malam, aku pulang dulu ya, kau istirahatlah!" pamit Donny yang langsung beranjak berdiri dari duduknya.


Anita hanya menganggukkan kepalanya, kemudian mengantar sampai ke depan.


"Maafkan Ibuku ya Don, tapi kau jangan khawatir, aku ada sedikit tabungan untuk menambahi biaya pernikahan kita nanti!" ucap Anita sambil mengelus dada Donny.


"Tidak apa-apa Ta, aku maklum kok!" sahut Donny.


"Kau hati-hati ya Don, aku masuk duluan ya, mau bicara dengan Ibu! Selama ini, kami belum pernah bicara dari hati ke hati!" kata Anita.


"Iya Ta!" sahut Donny.


Anita lalu segera beranjak masuk kembali ke dalam rumah.


Tiba-tiba Dicky berdiri dari duduknya, dan keluar menyusul Donny di depan gerbang yang sedang menyalakan mesin motornya itu.


"Hei Kampret!" panggil Dicky. Donny menoleh.


"Ada apa?" tanya Donny.


"Sorry, tadi tidak sengaja aku dengar pembicaraan kalian mengenai rencana pernikahan kalian, untuk masalah biaya, kau jangan khawatir, aku akan tambahkan tabunganmu, kau pakailah ini, pin nya ada di belakang kartunya!" ucap Dicky sambil menyodorkan sebuah kartu ATM ke arah Donny.


"Tidak Dokter! Kau pikir aku tidak mampu untuk menikahi Anita!" tukas Donny.


Dicky lalu memasukan kartu ATM itu di saku baju Donny.


"Sudah jangan gengsi, kau pakai saja ini, kau tak perlu menjual apartenmu, itu adalah milikmu, asal kau tidak katakan pada siapapun kalau ini dari aku, supaya kau bisa di pandang oleh Anita dan orang tuanya! Tenang saja, aku ikhlas kok dan tidak akan meminta balik uang yang sudah aku berikan padamu!" ujar Dicky sambil berlalu meninggalkan Donny yang masih berdiri terpaku di tempatnya.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2