
Malam itu, setelah makan malam, Fitri mulai menidurkan Alex, baru saja pulang ke rumah, anak itu sudah kembali lari-lari kesana kemari.
Sementara Bu Eni terlihat sedang mengemasi barang-barangnya, akhirnya dia memutuskan kalau besok pagi dia akan pulang ke Sukabumi, Mang Salim yang akan mengantarnya.
"Mas, besok kalau Ibu beneran pulang ke Sukabumi, dia akan tinggal sendirian Mas, kasihan Mas!" kata Fitri setelah menidurkan Alex.
"Kalau Ibumu kesepian dan tidak betah sendiri, dia bisa balik lagi kesini kan Fit, lagi pula di sana ada anak buahku yang akan selalu mengawasinya, jadi kau tidak perlu Khawatir!" ujar Dicky.
"Ya sudah deh Mas, belakangan sikap Ibu selalu saja membingungkan, mudah sensitif, cepat tersinggung, aku jadi hati-hati banget kalau bicara sama Ibu!" ungkap Fitri.
"Namanya juga orang sudah tua Fit, kata orang, semakin tua kita akan kembali seperti bocah, ingin di perhatikan, mencari perhatian, itulah kehidupan! Maklum saja Fit!" jawab Dicky yang mulai memejamkan matanya karena lelah seharian.
Drtt ... Drrtt ... Drrtt
Ponsel Fitri bergetar, ada gambar Anita di ponsel itu, dengan cepat Fitri mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Ta!"
"Eh, Fitri maaf malam-malam mengganggu!"
"Pak Donny?" Mendengar nama Donny, Dicky langsung bangun dan menempelkan telinganya di ponsel Fitri.
"Iya Fit, Anita baru tidur, seharian ini dia mual dan muntah, tidak bisa makan apapun, selalu di muntahkan, aku bingung, apalagi besok aku harus mengajar meninggalkan dia!" ungkap Donny.
"Waduh, kasihan sekali Anita, tapi aku juga tidak bisa menemani dia, Alex baru keluar dari rumah sakit, aku juga kadang masih suka mual dan muntah, gimana ya?" gumam Fitri bingung.
"Fit, bisakah Ibu kami pinjam sebentar untuk menemani Anita? Mungkin Ibu bisa berbagi pengalaman soal kehamilan, tapi jangan bilang aku yang memintanya ya Fit, aku tau Ibu kurang menyukaiku!" ucap Donny.
"Sebenarnya rencana Ibu mau pulang kampung besok, tapi aku akan bicara pada Ibu, semoga saja bisa ya Pak Donny, jadi Ibu dan Bapak bisa gantian tinggal di sana!" kata Fitri.
"Terimakasih Fit! Terimakasih!" ucap Donny sebelum menutup teleponnya.
Dicky langsung kembali merebahkan tubuhnya saat Fitri selesai telepon.
"Jangan lama-lama kalau ngobrol sama si kampret!" cetus Dicky.
"Ya ampun Mas, Pak Donny cuma minta tolong untuk pinjam Ibu supaya Anita ada teman di rumah, kasihan kan dia sendirian, karena besok Pak Donny kerja ngajar!" jelas Fitri.
__ADS_1
"Ya bagus dong Fit, kebetulan Ibu tidak usah pulang kampung, gantian lah tinggal di rumah si kampret, kasihan dia tidak ada asisten rumah tangga, mengerjakan semuanya sendirian!" ujar Dicky.
"Ya sudah deh Mas, aku turun ke bawah dulu deh, mana tau Ibu belum tidur, semoga saja Ibu bisa mengurungkan niatnya buat pulang kampung, kasihan juga Anita!" kata Fitri yang bersiap akan turun.
"Jangan lama-lama ngobrolnya ya Fit, aku lagi butuh!" seru Dicky saat Fitri akan beranjak dari tempatnya.
"Butuh apaan Mas?" tanya Fitri.
"Butuh di keluarkan!" sahut Dicky.
"Hmm, dasar!"
Fitri langsung keluar dan turun pelan-pelan ke bawah, dia berjalan menuju ke kamar Bu Eni dan Pak Karta.
Perlahan Fitri mengetuk pintu kamar itu.
Ceklek!
Pak Karta membukakan pintu kamar, sedikit terkejut melihat Fitri yang sudah berdiri di depan kamar mereka.
"Ibu sudah tidur pak?"
"Belum, tuh masih beres-beres!" jawab Pak Karta sambil menunjuk Bu Eni yang masih memasukan pakaiannya ke dalam tasnya.
"Aku mau ngobrol sama Ibu juga Bapak, bolehkah?" tanya Fitri.
"Ayo masuk deh, ngobrol saja di dalam, ayo!" ajak Pak Karta.
Fitri kemudian masuk ke dalam kamar itu lalu duduk di bangku yang ada di dalam kamar itu.
"Bu, Ibu besok jadi berangkat ke Sukabumi?" tanya Fitri.
"Ya jadi lah Fit, di sini juga Ibu tidak ada kerjaan, Alex kan sudah di ambil alih sama kamu!" sahut Bu Eni.
"Bu, Anita saat ini butuh Ibu, juga Bapak, maukah Bapak dan Ibu menemani Anita di rumahnya? Kasihan Bu, dia sendirian di sana!" kata Fitri.
Bu Eni langsung menghentikan aktifitasnya.
__ADS_1
"Kau tau dari mana kalau Anita butuh kami di sana? Selama ini mereka tidak pernah menawari kami untuk tinggal di rumah mereka!" ujar Bu Eni.
"Bu, mereka itu hanya sungkan untuk menawari Ibu dan Bapak, sekarang Anita sedang hamil, suaminya kerja di luar, kadang ngelesin juga, kan kasihan Bu, dia pasti akan sangat butuh Ibu dan Bapak!" jelas Fitri.
"Fitri benar Bu, besok kita datang saja ke rumah Anita, dia pasti senang dan tidak kesepian lagi, Bu, selama ini kita sudah kehilangan Anita kan, seharusnya saat ini kita sebagai orang tua mendampingi dia!" ujar Pak Karta.
"Ya sudah deh, Ibu ikut Bapak saja, tapi kau bilang begitu bukan karena tidak mau kami tinggal di sini lagi kan Fit??" tanya Bu Eni.
"Ya Tuhan Bu, anak mana yang tidak senang orang tua tinggal bersamanya, tapi kan anak ibu bukan cuma aku, Anita juga butuh Ibu dan Bapak!" jawab Fitri.
"Baiklah Nak, besok Ibu dan Bapak akan pergi ke rumah Anita, jadi Ibu tidak usah pulang kampung dulu!" ujar Pak Karta.
"Ah, syukurlah, Anita pasti senang ini kalau begini, besok Bapak mau berangkat sendiri atau di antar mang Salim?" tanya Fitri.
"Berangkat sendiri saja Fit, kan Bapak ada mobil sendiri!" sahut Pak Karta.
"Baiklah, jadi deal ya, besok Ibu dan Bapak gantian menemani Fitri, kalau begitu aku ke kamar dulu ya Pak, Bu, sudah malam!" ucap Fitri yang langsung keluar dari kamar itu.
Saat melewati ruang makan, Bi Sumi nampak sedang mengerjakan sesuatu.
"Lagi ngerjain apa Bi malam-malam begini?" tanya Fitri.
"Ini lho Mbak, besok Bu Eni minta di bawakan kue-kue kering, buat oleh-oleh di kampung katanya!" jawab Bi Sumi.
"Oh, tapi besok sepertinya Ibu tidak jadi pulang kampung, tapi tidak apa-apa Bi, kue-kue ini di bawa saja ke rumah Anita, karena Ibu dan Bapak besok mau nginep di rumah Anita!" jelas Fitri.
"Oya? Syukur deh kalau begitu, sebenarnya Bu Eni memang tidak ingin pulang kampung Mbak, dia bilang dia mana bisa sendirian di kampung, apalagi suaminya di sini!" ujar Bi Sumi.
Fitri tersenyum kemudian lanjut naik ke atas menuju ke kamarnya.
Saat membuka pintu kamar, Dicky sudah tidur nyenyak dengan suara dengkuran halusnya, tapi dalam keadaan polos tanpa mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya.
Fitri geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu yang ingin menyalurkan hasrat tapi sudah keburu ngantuk.
Bersambung ...
****
__ADS_1