
Dicky masih tidur memejamkan matanya di ruangan tempat dia di rawat. Tidak ada siapapun di ruangan itu, hanya Bu Eni yang menunggu dan menjaganya.
Tiba-tiba Dicky merasa sangat haus dan ingin minum, namun dia tidak dapat menggetarkan tubuhnya sendiri, sementara Bu Eni terlihat tidur nyenyak di sofa yang ada di sudut ruangan itu.
"Bu! Ibu!" panggil Dicky, namun Bu Eni tetap tak bergeming, dia malah merubah posisinya supaya lebih nyaman.
"Ibu! Aku haus Bu!" panggil Dicky sekali lagi.
Bu Eni mulai mengerjapkan matanya, dan dia langsung melompat dari sofa tempat dia berbaring.
"Eh kodok! Aduh latah lagi! Tadi seperti ada yang memanggilku!" gumam Bu Eni.
"Saya Bu, mantu Ibu!" jawab Dicky. Bu Eni menoleh.
"Oh, mantuku, ada apa Nak, kau butuh apa? Ayo bilang sama Ibu!" tanya Bu Eni sambil melangkah mendekati Dicky.
"Mau minum Bu, haus!" jawab Dicky.
"Oh mau minum, tunggu sebentar ya!" Bu Eni langsung mengambil segelas air putih dan membantu Dicky untuk meneguknya.
Setelah selesai Bu Eni menaruh lagi gelas itu di atas meja.
"Kau mau apalagi Nak, mau makan? Tadi Ibu banyak bawa semur jengkol dari rumah, buat bekel di jalan sekalian buat kamu dan Fitri!" kata Bu Eni sambil mengeluarkan kotak makan besar dari dalam tasnya.
"Jangan Bu! Aku tidak lapar!" sergah Dicky.
"Walaupun tidak lapar kau harus tetap makan, supaya cepat sembuh, jangan khawatir, ibu akan menyuapi mu!" ujar Bu Eni.
"Jangan Bu, nanti aku juga akan dapat jatah makan kok dari rumah sakit, sudah Ibu simpan saja makanannya!" tukas Dicky.
"Hmm, ya sudah kalau kau tidak mau, Ibu makan saja dulu deh sendiri, lapar, sejak tadi belum makan!" ujar Bu Eni yang langsung mengambil tempat makan yang lebih kecil lalu mulai menyantap makanannya.
Aroma semur jengkol mulai memenuhi ruangan itu. Dicky menutup wajahnya dengan selimutnya.
Setelah selesai makan, Bu Eni kembali memasukan tempat makanannya itu ke dalam tas besarnya.
"Wah, kenyang sudah, Nak Dicky, kamu kenapa menutupi wajahmu dengan selimut? Malu ya mau ngobrol sama Ibu, yuk kita ngobrol sekalian ibu pijitin kakinya pakai minyak tawon biar hangat!" tawar Bu Eni.
Dia langsung mengambil sebotol minyak tawon dan langsung memijiti kaki Dicky.
"Jangan Bu, tidak usah, yang sakit dadaku bukan kakiku Bu!" sergah Dicky.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Ibu ikhlas kok Nak, kamu kan menantu kesayangan Ibu, yang paling ganteng sejagat raya!" sahut Bu Eni yang terus memijiti kaki Dicky.
Dicky pasrah terhadap apa yang di lakukan ibu mertuanya itu padanya, walaupun Bu Eni memiliki tabiat seperti itu, namun Dicky tau Bu Eni sangat baik dan menyayanginya.
Sedikitpun Dicky tidak ingin mengecewakan mertuanya itu, walaupun kini kaki Dicky terasa panas di pijit dengan minyak tawon.
"Nah gimana kakinya, pasti pegal-pegalnya sudah langsung hilang!" ujar Bu Eni senang.
"Iya Bu!" sahut Dicky bermaksud menyenangkan hati Bu Eni.
"Kalau begitu bagaimana tangannya juga Ibu pijat? Biar enak sekalian!" tawar Bu Eni.
"Eh, jangan Bu! Tidak usah! Nanti Ibu capek lagi!" tolak Dicky.
"Ah siapa bilang Ibu capek, kalau buat menantu kesayangan mah ini tidak seberapa!" sahut Bu Eni.
"Tapi Bu ..."
Ceklek!
Seorang Dokter dan perawat datang ke ruangan itu dengan mengerutkan keningnya.
"Sejak kapan di rumah sakit ada bau seperti ini?" tanya Dokter itu.
"Eh, ada Dokter sama Suster, ini saya lagi pijitin mantu saya pakai minyak tawon, saya juga punya banyak semur jengkol, nanti di bagi-bagi ya, sayang Ibu bikin banyak tadi pagi!" seloroh Bu Eni.
Sang Dokter dan suster hanya saling berpandangan satu sama lain.
****
Sementara itu, di kamarnya, Fitri sudah banyak memompa ASI nya.
Malam ini dia rencana akan menemani Dicky di rumah sakit. Sudah beberapa botol yang Fitri hasilkan dari memerah ASI.
Sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Alex, tapi dia juga mencemaskan Dicky, apalagi Fitri tau, Bu Eni bisa berbuat ulah apa saja, membuat Fitri menjadi cemas.
Setelah selesai memompa Asi, Fitri kemudian menggendong Alex dan membawa beberapa botol susu itu ke bawah, Bi Sumi nampak sedang menyiapkan makan malam.
Di sini sudah tidak ada pelayan lagi, Mbok Jum masih pulang besok, itu juga kalau tidak ada kendala atau halangan.
"Bi, Ibu mertuaku belum pulang?" tanya Fitri.
__ADS_1
"Belum Mbak, tumben ya, biasanya Bu Anjani selalu di rumah dari sore, padahal kan dia cuma ke bandara saja!" jawab Bi Sumi.
"Mungkin macet Bi, malam ini aku titip Alex ya Bi, juga Dina dan Dara, aku mau menemani Mas Dicky di rumah sakit!" ujar Fitri.
"Iya Mbak, sini Alex biar di gendong sama Bibi!" Bi Sumi langsung mengambil Alex dalam gendongan Fitri.
Ada beberapa orang di bantu security sedang membongkar kamar Pak Bram dan mengeluarkan isi kamar itu.
"Kenapa kamar itu di bongkar dan di geledah begitu bi?" tanya Fitri.
"Tidak tau Mbak, kata security sih, semua barang-barang di kamar itu mau di bagikan ke semua security dan semua pegawai Bu Anjani, dan kamar itu akan di pugar dan di rombak untuk di jadikan perpustakaan!" jelas Bi Sumi.
"Aku tidak menyangka dan masih tak percaya, di kamar itu ada kamar lain yang selama bertahun-tahun tidak di ketahui!" gumam Fitri.
"Iya, serem ya Mbak, untung semuanya sekarang sudah terungkap, jadi kita tidak perlu cemas lagi!" sahut Bi Sumi.
Fitri lalu memasukan botol-botol ASI nya ke dalam freezer.
"Ini lumayan banyak ya Bi, bisa sampai besok pagi, aku akan minta Mang Salim mengantar aku ke rumah sakit!" ujar Fitri.
"Iya Mbak, soal Alex jangan cemas, Bibi akan menjaga dia, asalkan ada susunya dia pasti tenang!" jawab Bi Sumi.
"Terimakasih Bi, kalau begitu aku berangkat ya!" pamit Fitri.
"Lho, Mbak Fitri tidak makan dulu?" tanya Bi Sumi.
"Tidak usah Bi, nanti aku makan bareng Mas Dicky saja, aku mau mampir beli makanan kesukaannya!" tukas Fitri.
"Kalau begitu hati-hati Mbak!" ucap Ni Sumi.
"Bi, kalau Ibu mertuaku pulang, katakan saja aku masih di rumah sakit menemani Mas Dicky!" tambah Fitri.
Kemudian Fitri kembali melangkah menuju ke pintu depan, Mang Salim masih nampak mengobrol dengan beberapa tukang dan security yang masih sibuk membereskan barang-barang milik Pak Bram.
"Mang Salim, tolong antarkan aku ke rumah sakit sekarang!" titah Fitri.
"Baik Mbak Fitri, silahkan naik ke mobil!" jawab Mang Salim yang langsung membuka pintu mobil yang ada di situ.
Bersambung ...
****
__ADS_1