Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Tangisan Sang Buah Hati


__ADS_3

Dicky setengah berlari menyusuri sepanjang koridor rumah sakit menuju ke ruang perawatan anak.


Kemudian dia langsung membuka pintu ruangan itu.


Suster Wina nampak duduk menunggu anak Chika yang terlihat menangis dan rewel.


"Suster, bagaimana kondisi Chika?" tanya Dicky cemas.


"Dia kelihatan lemah Dok, sejak semalam dia selalu memuntahkan makanannya!" sahut Suster Wina.


Dicky kemudian mulai mengangkat Chika dalam gendongannya, kemudian dia mulai memeluk anak itu.


"Chika sayang, kau jangan menangis ya, kau pasti sembuh, Chika anak sehat, Chika anak kuat!" bisik Dicky di telinga Chika.


Tak lama kemudian, tangisan Chika mulai mereda, anak itu kemudian tertidur dalam dekapan Dicky.


"Anak ini sebenarnya tidak sakit parah, dia hanya membutuhkan kasih sayang orang tuanya!" gumam Dicky.


"Orang tuanya mang keterlaluan Dokter, berkali-kali saya hubungi, tapi tidak ada satu pun yang datang!" keluh Suster Wina.


Ceklek!


Terdengar suara pintu di buka dari luar, Ranti datang dengan tergopoh-gopoh.


"Dicky! Bagaimana anakku? Aku dengar dia sakit cukup parah, Dio memang keterlaluan!! Dia lebih mementingkan pekerjaannya dari pada anaknya!!" sungut Ranti.


"Kau jangan menyalahkan orang lain Ranti! Kau pikir kau cukup baik menjadi seorang ibu? Anakmu membutuhkanmu, kau malah meninggalkannya!" seru Dicky sambil meletakan perlahan Chika yang tertidur di ranjangnya.


"Aku harus mencari kerja Dicky, kau tau aku baru saja di pecat oleh Dokter Rizky??!" kilah Ranti.


"Wajar saja kau di pecat, karma oleh perbuatanmu sendiri!" cetus Dicky.


"Dicky, andaikan kau yang jadi Ayahnya Chika, semua pasti akan baik-baik saja!" ucap Ranti.


"Hentikan khayalanmu Ranti, lebih baik sekarang kau jaga anakmu, dia hanya butuh kasih sayang orang tuanya, secara psikologis, anak sakit itu bukan hanya karena penyakit, tapi ada luka dalam batinnya!" kata Dicky sambil berjalan keluar dari ruangan itu.


Beberapa orang pasien sudah duduk menunggu antrian di depan Ruangan Dicky.


Dicky tersenyum ke arah para pasien yang sudah mengantri itu, kemudian dia langsung masuk ke dalam ruangannya.


Salah seorang suster kemudian memanggil pasien satu persatu.


"Anak Dinda!" panggil sang suster.


Seorang ibu sambil menggandeng anaknya kemudian masuk ke dalam ruangan Dicky.


"Halo anak manis, ada keluhan apa nih?" tanya Dicky ramah.

__ADS_1


"Ini Dokter, sejak semalam Dinda demam, lalu batuk-batuk, sampai sekarang belum turun demamnya!" jelas sang Ibu.


"Oke Oke, sekarang Dinda berbaring dulu ya, biar Dokter periksa Dinda sebentar!" ujar Dicky.


Anak itu kemudian berbaring, Dicky lalu mulai memeriksanya.


"Hmm, Dinda sering makan es ya, makanya jadi batuk deh, jajannya di kurangi dulu ya, minum banyak air hangat, nanti Dokter kasih Dinda obat dan vitamin biar sehat! Ini Dinda ada radang tenggorokan, makanya jadi demam!" ucap Dicky.


"Terimakasih ya Dokter!" kata ibunya Dinda.


"Iya Bu, Dinda kelas berapa? Sekolah di mana?" tanya Dicky sambil menulis resep obat.


"Sekolah di SD Bina Bangsa, kelas satu Om Dokter!" jawab Dinda.


"Kelas satu? Berarti kenal dong sama Bu Fitri?" tanya Dicky lagi.


"Iya Om Dokter, Bu Fitri itu wali kelasku!" jawab Dinda.


"Om Dokter ini suaminya Bu Fitri!" kata Dicky bangga.


"Ooh, jadi Dokter suaminya Bu Fitri??" tanya Ibunya Dinda nyaris tak percaya.


"Iya Bu!" singkat Dicky.


"Wah, ternyata suaminya Bu Fitri seorang Dokter, hebat ya!" ujar ibunya Dinda.


"Ini resep obat dan vitaminnya ya Bu, jangan lupa rutin di minum!" kata Dicky sambil menyodorkan secarik kertas pada ibunya Dinda.


****


Siang itu sepulang sekolah, Fitri duduk menunggu di kursi koridor lantai dua. Sesuai janjinya pada Dicky, dia tidak akan turun ke bawah, sampai Dicky menjemputnya ke atas.


"Belum turun Bu Fitri?" tanya Pak Donny yang kebetulan lewat dan hendak turun ke bawah.


"Belum Pak, masih menunggu suami saya di sini!" jawab Fitri.


"Oh, suaminya menjemput ya Bu, tapi kalau dia berhalangan menjemput, jangan sungkan minta bantuan dayanya Bu, dengan senang hati saya akan membantu dan mengantar Bu Fitri!" tawar Pak Donny.


"Terimakasih Pak, tapi sepertinya suami saya akan terus menjemput saya, jadi Pak Donny pulang duluan saja!" sahut Fitri.


"Baiklah Bu, saya duluan ya ..." Pak Donny kemudian melangkah meninggalkan Fitri menuruni tangga.


Bu Erna dan Bu Sita nampak berjalan menyusuri koridor sekolah, mereka juga akan pulang ke rumah masing-masing.


"Bu Fitri tidak turun?" tanya Bu Erna.


"Tidak Bu, lagi nunggu suami di sini!" sahut Fitri.

__ADS_1


"Tumben Bu, biasanya nunggu di lobby!" lanjut Bu Erna.


"Iya Bu, Mas Dicky bilang aku tunggu di sini saja, jangan turun katanya!" jawab Fitri.


"Ya begitu deh, namanya juga istri manja! Punya suami baik di manfaatkan, di budakin suruh naik turun tangga!" cetus Bu Sita.


"Jangan ngomong sembarangan Bu Sita! Bu Fitri kan di suruh Pak Dokter disini, bukannya budakin Pak Dokter, iya kan Bu Fitri? Kalau pak Jamal dengar kau bisa di pecat Bu Sita!" bela Bu Erna.


"Iya Bu, sejak saya hamil, Mas Dicky memang melarang saya untuk naik turun tangga!" ujar Fitri


"Ooh, jadi Bu Fitri beneran hamil? Pantesan waktu itu sempat pingsan waktu upacara, lagi ngidam to, selamat ya Bu!" ucap Bu Erna.


"Hmm, mentang-mentang hamil, cari sensasi saja! Norak!" cetus Bu Sita.


"Bu Sita kok begitu? Sesama rekan kerja kan seharusnya kita saling mendukung, bukan malah menjatuhkan!" kata Bu Erna.


"Lho, bu Fitri itu kan memang suka cari sensasi, pura-pura pingsan, sok polos, padahal cuma cari perhatian doang, dasar muka dua!" sengit Bu Sita.


"Siapa yang muka dua Bu?" tanya Dicky yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka.


Wajah Bu Sita berubah pias.


"Eh, pak Dokter sudah datang, selamat ya Pak Dokter, sebentar lagi mau punya baby!" ucap Bu Erna.


"Terimakasih Bu!" ucap Dicky yang langsung menghampiri Fitri dan menggandengnya.


"Ayo sayang, kita pulang ke rumah, suasana seperti ini tidak baik untuk perkembangan calon bayi kita!" ucap Dicky sambil menggandeng Fitri perlahan menuruni tangga.


Bu Erna dan Bu Sita juga ikut turun dari tangga.


"Bu Fitri Tunggu!!" panggil Bu Sita, dia lalu mengejar Dicky dan Fitri yang berjalan di depannya.


"Ada apa lagi Bu Sita?" tanya Fitri.


"Kita kan searah, boleh dong sesama rekan kerja numpang sampai di depan!" sahut Bu Sita.


Fitri menoleh ke arah Dicky.


"Maaf Bu Sita, saat ini aku hanya ingin pulang berdua dengan istriku, harap jangan mengganggu waktu kami!" ujar Dicky sambil kembali menggandeng Fitri berjalan keluar dari gedung sekolah.


"Dasar orang kaya sombong!!!!" umpat Bu Sita.


Bu Erna yang berjalan di belakang Bu Sita hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


****


Halo guys. ..

__ADS_1


Jangan lupa baca juga novel terbaru author yang berjudul "Perjaka Tampan & Wanita Malam"


Terimakasih atas dukungannya 🙏😘


__ADS_2