Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Jalan-Jalan Di Malam Hari


__ADS_3

Malam itu setelah makan malam, Ken sang pemandu wisata menjemput Dicky dan Fitri ke hotel tempat mereka menginap.


Malam ini mereka akan pergi ke menara Tokyo dan Taman kota yang di penuhi dengan bunga-bunga dan kerlap-kerlip nya lampu warna warni.


"Apakah Pak Dokter dan Ibu Fitri bisa beristirahat?" tanya Ken dalam perjalanan mereka.


"Kami tidur sangat nyenyak sekali, makanan di hotel tadi juga sangat enak, sangat pas di lidah kami orang Indonesia!" jawab Dicky.


"Syukurlah kalau begitu, saya senang mendengarnya!" sahut Ken.


"Ken, siapa nama pacarmu yang ada di Indonesia? Barangkali aku mengenalnya!" tanya Fitri.


"Ah, dia seorang guru TK, namanya Dinda Maharani, kebetulan kami kenal lewat media sosial, baru bertemu sekali saat aku ke Indonesia, kami melakukan hubungan jarak jauh, tapi sejauh ini tidak ada masalah!" ungkap Ken.


"Wah, aku pun seorang guru, pasti pacarmu itu sangat cantik Ken, biasanya guru TK itu sabar-sabar!" lanjut Fitri.


Mereka kemudian sampai di menara Tokyo yang terlihat tinggi menjulang.


Mereka pun mulai naik ke atas menara itu, pemandangan kota Tokyo di malam hari sangat indah di lihat dari menara itu.


"Lihatlah Fit, banyak lampu berwarna-warni dan berkelap-kelip sangat indah di lihat dari sini, semua gedung-gedung kota nampak bagai lukisan!" seru Dicky terkesiap.


Fitri tersenyum, walaupun sesungguhnya dia hanya melihat bayangan yang menyilaukan matanya, semua warna seolah menjadi abu-abu, sangat tidak jelas terlihat.


Namun Fitri menutupi semua itu, dia tertawa seolah sangat menikmati pemandangan indah itu yang ada dalam bayangannya, dia tidak ingin membuat Dicky sedih.


"Lampu-lampu kereta juga terlihat sangat indah bergerak meliuk-liuk, kau lihat kan Fit, semuanya begitu indah!" ujar Dicky.


"Iya Mas, semuanya sangat indah, indah sekali!" jawab Fitri.


Setelah mereka puas menikmati indahnya kota Tokyo dari menara Tokyo, Ken mengajak mereka untuk pergi ke taman kota, selain banyak kuliner, pemandangannya juga indah, banyak pohon dan bunga-bunga yang di hiasi oleh lampion berwarna-warni.


"Di sini ramai sekali Fit, jangan pernah lepaskan tanganmu dari tanganku!" bisik Dicky.


"Iya Mas!" sahut Fitri.


"Di sini ada kuliner sushi dengan ikan, Bu Fitri kan sedang hamil, pasti anaknya akan pintar jika banyak makan ikan, apakah kalian mau mencobanya?" tanya Ken.


"Fit, kau mau ya makan, kandungan ikannya segar lho, beda dengan yang biasa kita makan!" ujar Dicky.

__ADS_1


"Boleh Mas!" jawab Fitri.


"Aku akan menyuapimu sayang, anggap saja kita bulan madu lagi, waktu di Bali dulu kan sempat kacau!" ucap Dicky.


"Iya Mas, asal sama Mas Dicky, sudah cukup Mas!" sahut Fitri.


Mereka kemudian mampir di sebuah kedai yang khusus menjual beraneka macam sushi.


Dengan antusias Dicky memilihkan sushi dan menyuapkannya pada Fitri.


Mulanya Fitri merasa mual karena tidak terbiasa makan makanan seperti itu, tapi lama kelamaan, dia bisa menyantap makanan khas Jepang itu.


Setelah makan kenyang, mereka kemudian berjalan-jalan di arena taman kota itu, malam itu terlihat begitu ramai sekali.


Fitri mulai terlihat lelah karena membawa perut buncitnya, dengan sigap Dicky langsung menggendong Fitri.


"Turunkan aku Mas, aku bisa jalan sendiri! Memangnya kau tidak keberatan menggendongku terus??" ungkap Fitri yang merasa tidak enak.


"Tidak sayang, aku tau kau capek, tapi semua ini sangat indah untuk di lewatkan, pokoknya kau tenang saja!" bisik Dicky.


"Ehm, Pak Dokter dan Bu Fitri kelihatan romantis sekali, aku jadi iri, kelak aku juga akan mengajak pacarku jalan-jalan ke sini!" ucap Ken.


"Ajaklah Ken, semoga kalian berjodoh ya, meskipun jarak jauh, yang penting selalu dekat di hati!" sahut Dicky.


"Kau jangan khawatir, makanya kau cepat lamar dia, keburu di gebet orang, seperti aku yang selalu cepat mengambil tindakan hehehe!" Dicky terkekeh.


Tiba-tiba dia teringat akan tindakannya untuk langsung menikahi Fitri, saat Fitri akan bunuh diri melompat dari gedung rumah sakit, tindakan yang bodoh namun karena tindakan nya itu dia jadi tau apa itu cinta sejati.


"Oya Pak, Bu Anjani berpesan, Pak dokter dan Bu Fitri jangan sungkan untuk membeli sesuatu, karena semuanya itu beliau yang akan menanggungnya!" ujar Ken.


"Benarkah? Tapi kami juga sudah di beri uang saku, baik sekali Bu Anjani, tidak sia-sia aku mencurahkan tenagaku di rumah sakit itu!" sahut Dicky.


****


Setelah selesai jalan-jalan malam itu, mereka kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat, karena besok mereka akan menempuh perjalanan yang sedikit panjang untuk melihat salju seperti yang Fitri impikan.


Dicky menggendong Fitri dari sejak turun dari mobil Ken sampai menuju ke kamarnya, kemudian dia mulai membaringkan Fitri di tempat tidur besar itu.


"Kau capek Fit??" tanya Dicky.

__ADS_1


"Sama sekali tidak Mas, aku malah senang!" sahut Fitri.


"Aku senang melihat istriku senang, sekarang kau beristirahatlah sayang, besok kita akan melihat salju, kau pasti senang kan?" tanya Dicky.


"Iya Mas, tapi ngomong-ngomong, Ibu Anjani itu baik sekali ya, apakah Mas Dicky sering bertemu dengannya?" tanya Fitri.


"Dia jarang datang ke rumah sakit Fit, paling kalau ada momen tertentu saja, Bu Anjani itu seorang janda tanpa anak, dengar-dengar suaminya Dokter juga, tapi beliau sudah lama meninggal, dan kebetulan nama belakang suaminya itu sama dengan nama belakang aku!" ungkap Dicky.


"Oya? Kebetulan sekali! Siapa nama almarhum suaminya Bu Anjani?" tanya Fitri.


"Namanya yang aku dengar sih, Pak Rahmat Pradita, dia sudah meninggal lama sekali, katanya sih sudah puluhan tahun!" jelas Dicky.


"Oya? Berarti Bu Anjani menjanda sejak dia masih muda dong, apakah mereka tidak punya anak??" tanya Fitri lagi.


"Kalau itu aku tidak tau, tapi sudahlah, untuk apa juga membahas soal mereka, lebih baik kita tidur cepat, supaya besok pagi kita bisa melihat matahari terbit dan melihat gunung Fujiyama!" ujar Dicky sambil menarik selimutnya.


"Mas ..."


"Ada apa sayang?" tanya Dicky sambil memejamkan matanya dan mengelus rambut Fitri.


"Aku kangen Dina dan Dara, aku boleh telepon ya?" tanya Fitri balik.


"Silahkan sayang, telepon pakai telepon yang di hotel saja!" ujar Dicky.


Fitri kemudian bangkit dan mulai memencet nomor telepon rumahnya.


"Halo ... " terdengar suara Bu Sumi dari sebrang telepon.


"Halo Bi Sumi, ini Fitri, Dina dan Dara sudah tidur??" tanya Fitri.


"Oh Mbak Fitri, mereka baru saja tidur, apa mau Bibi panggilkan?"


"Tidak usah Bi, besok lagi aku telepon, apakah hari ini mereka belajar? Tadi Pak Hardi datang kan?" tanya Fitri.


"Hari ini Pak Hardi tidak datang Mbak, tidak ada kabar juga, padahal Dina dan Dara sudah menunggunya, ada PR katanya!" jawab Bi Sumi.


"Oh, kok tidak datang ya ... " gumam Fitri.


"Iya Mbak, tumben, biasanya kan Pak Hardi rajin sekali datangnya!" kata Bi Sumi.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2