Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menunggu Istri Tercinta


__ADS_3

Fitri berjalan menyusuri koridor sekolah. Dia akan pergi ke ruangan kepala sekolah terkait dengan murid-murid yang banyak belum mempunyai buku pelajaran sekolah.


Tok ... Tok ... Tok


Fitri mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk!" terdengar suara dari dalam ruangan, perlahan Fitri membuka pintunya lalu masuk.


"Selamat siang Pak Jamal!" sapa Fitri.


"Selamat siang Bu Fitri, silahkan duduk!" Kemudian Fitri duduk di hadapan Pak Jamal.


"Pak Jamal, beberapa murid saya ada yang terkendala buku paket, kira-kira bagaimana solusinya ya Pak? Kasihan mereka tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik!" ungkap Fitri.


"Untuk masalah itu sudah kami diskusikan sebelumnya pada Pak Kevin pemilik sekolah ini, jadi Bu Fitri tenang saja, murid yang keberatan membeli buku akan di bantu dengan fotocopy, dan itu gratis untuk mereka tanpa biaya sepeserpun!" jelas Pak Jamal.


"Oh begitu Pak, syukurlah, kalau begitu saya pamit kembali ke ruang guru!" kata Fitri.


"Jangan lupa nanti di jam 12 ada rapat di Aula, kalau ada kendala seputar pendidikan mohon di catat ya Bu!" ujar Pak Jamal mengingatkan.


"Baik Pak, permisi, selamat siang!" ucap Fitri sebelum meninggalkan ruangan itu.


Sementara itu, Dicky yang berniat akan menjemput Fitri nampak sudah berada di parkiran sekolah, entah mengapa istirahat makan siang dia pakai untuk menjemput Fitri, rasanya dia selalu ingin bersama Fitri, padahal dulu tidak demikian.


Sejak Dicky membuka hatinya pada Fitri, benih-benih cinta itu mulai tumbuh perlahan, laki-laki itu sudah mulai melupakan masa lalunya yang pahit.


Kini rasa pahit yang dahulu dia rasakan berubah menjadi manis saat dia berpaling pada Fitri, memberikan kesempatan Fitri untuk mencintainya.


Perhatian dan kelembutan Fitri akhirnya bisa meluluhkan pertahanan hati Dicky.


Dicky berjalan menuju ke lobby sekolah, dia duduk dan menunggu Fitri di sana, dia sudah tau kalau Fitri akan pulang jam satu siang, namun Dicky tetap menunggunya.


Seorang wanita berseragam guru datang mendekati Dicky yang masih duduk sambil memainkan ponselnya.


"Selamat siang Pak, apakah mau menjemput anak sekolah? Kebetulan untuk kelas satu sudah pulang Pak, kecuali kelas dua ke atas!" sapa wanita itu ramah.


"Ehm, maaf saya belum punya anak yang bisa di jemput!" sahut Dicky agak cuek.


"Oh maaf Pak, jadi Bapak mau jemput siapa? Oya, saya Sita, guru kelas satu SD!" wanita itu memperkenalkan diri.


"Guru kelas satu? Kebetulan istri saya juga guru kelas satu, saya ingin menjemputnya!" kata Dicky.

__ADS_1


"Guru kelas satu ada tiga Pak, siapa istri Bapak?" tanya Bu Sita.


"Fitri, dia Istriku!" sahut Dicky singkat.


Bu Sita langsung terdiam seketika.


"Maaf Pak, di atas sedang ada rapat guru, baru selesai jam satu siang, apa Bapak tidak terlalu lama menunggu di sini?" tanya Bu Sita yang kelihatannya agak tertarik dengan Dicky.


"Aku sudah tau, tapi aku akan tetap menunggu istriku!" sahut Dicky.


"Baiklah Pak, kalau begitu saya tinggal dulu, saya mau ke atas, menyusul rapat!" kata Bu Sita sambil melangkah pergi.


Dicky tetap fokus pada ponselnya, sementara Bu Sita terlihat memperhatikan Dicky, entah mengapa pertama kali melihat Dicky, dia kelihatan sangat tertarik.


"Kau dari mana saja Bu Sita? Tadi Pak Jamal mencarimu!" bisik Bu Erna yang ada di sebelah Bu Sita.


"Aku baru bertemu pria tampan, tapi sayang dia sudah punya istri!" sahut Bu Sita juga setengah berbisik.


"Kau jangan macam-macam Bu Sita, ingat, kita adalah guru, pendidik!" ucap Bu Erna mengingatkan.


"Memangnya guru tidak boleh jatuh hati? Dia begitu tampan dan manis, aku terpesona pada pandangan pertama!" gumam Bu Sita.


****


Setelah rapat selesai, Fitri bergegas turun ke lobby, karena dia tau Dicky sudah menunggunya.


Dicky nampak menyandarkan kepalanya di bangku yang ada di lobby, wajahnya terlihat lelah karena lama menunggu.


"Mas Dicky!" panggil Fitri sambil mengelus dagu Dicky, Dicky mulai membuka matanya.


"Fitri? Kau sudah selesai sayang?" tanya Dicky.


"Sudah Mas, lama ya menunggu, kan aku sudah bilang, aku akan lama pulang, tapi kau keras kepala!" sahut Fitri.


"Tidak apa-apa, jalan yuk!" ajak Dicky sambil merangkul Fitri beranjak dari tempat itu.


"Jangan nempel-nempel begini Mas, malu di lihat guru yang lain!" Sergah Fitri sambil mengurai rangkulan Dicky.


"Malu kenapa? Aku kan suamimu, harusnya kau tunjukan pada semua orang kalau aku ini suamimu, apa kau tidak bangga padaku?" tanya Dicky.


"Bukan begitu Mas, tapi ini kan tempat umum, jangan mengumbar kemesraan, kau harus ingat kalau aku ini seorang guru!" jawab Fitri.

__ADS_1


"Oke oke, aku menyerah Bu Guru!" ujar Dicky sambil mencubit pipi Fitri.


"Mas Dicky ih!" Fitri semakin cemberut.


Mereka kemudian langsung berjalan menuju ke rumah. Tiba-tiba Dicky menghentikan laju mobilnya.


"Ada apa Mas? Kok berhenti?" tanya Fitri.


"Perutku lapar Fit, makan dulu yuk!" ajak Dicky.


"Oala Mas, harusnya tadi kau makan saja dulu, tapi apa kau tidak terlambat ke rumah sakit?" tanya Fitri.


"Sore ini aku free, karena tadi Dokter Tika sudah datang, aku kirim pesan ke dia datang cepat ke rumah sakit, karena aku akan menjemput istriku!" jawab Dicky.


"Kau ini apa-apaan sih Mas? Masa aku yang di jadikan alasan untuk kau tidak ke rumah sakit? Nanti mereka akan berpikir kalau aku istri yang manja!" cetus Fitri.


"Aku yang akan memanjakan mu sayang!" ucap Dicky, matanya menatap dalam ke arah istrinya itu.


Fitri yang tidak tahan jika di tatap Dicky langsung menundukan wajahnya, malu.


"Kau mau makan di mana Mas?" tanya Fitri mengalihkan suasana.


"Tiba-tiba aku ingin makan masakan Padang, tuh restorannya ada di depan kita!" Dicky menunjuk sebuah restoran Padang yang cukup besar di pinggir jalan itu.


Setelah memarkir mobilnya, mereka lalu masuk dan duduk di restoran itu, aneka makanan tersaji di meja itu, Dicky makan dengan begitu lahapnya, rupanya dia sudah menahan lapar dari tadi, dia buru-buru menjemput Fitri sampai melewatkan jam makan siangnya.


"Kasihan Mas Dicky, pasti kau sudah sangat lapar dari tadi, maafkan aku ya Mas!" ucap Fitri.


"Tidak Fit, kalau hatiku bahagia, aku lupa kalau aku lapar!" kata Dicky sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya.


"Ah, kau bisa saja Mas!" gumam Fitri tersipu.


"Bagaimana dengan teman-temanmu sesama guru di sekolah?" tanya Dicky.


"Mereka semua baik, aku punya dua partner guru kelas satu, Bu Erna dan Bu Sita, Bu Erna itu baik dan orangnya juga ramah, kalau Bu Sita agak tertutup dan cenderung menarik diri dari yang lain, aku bahkan kurang akrab dengannya, tapi walau bagaimana hubungan kita tetap baik!" jawab Fitri.


Dicky hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2