
Bu Anjani turun dari dalam mobil di ikuti oleh Fitri, Keyla, kemudian Ken yang menyetir mobil itu.
Mereka kemudian masuk melalui lobby, semua orang yang bertemu dengan Bu Anjani langsung menunduk hormat, karena mereka semua tau bahwa Bu Anjani adalah Owner rumah sakit ini.
Ken dan Keyla juga terlihat sangat akrab, pembicaraan mereka adalah pembicaraan kalangan atas yang sama sekali tidak di pahami oleh Fitri.
Hal itu membuat perasaan Fitri menjadi malu dan mulai rendah diri, tidak percaya diri, apalagi Fitri sadar bahwa latar belakang keluarganya sangat berbeda dengan latar belakang keluarga Dicky.
Dua orang security menunduk hormat pada Bu Anjani yang terlebih dahulu masuk ke ruang perawatan Dicky, kemudian di susul oleh yang lainnya.
Di dalam ruangan itu, Bu Eni nampak batu selesai menyuapi Dicky makanan, Dicky terlihat heran melihat orang-orang yang datang menjenguknya selain Bu Anjani.
"Eh, ada besan sultan! Ayo sini masuk, duduk deh, kok tidak bilang sih mau datang, kan kalau tau begitu Ibu bisa beli makanan yang banyak!" seru Bu Eni yang nampak senang itu.
"Oh, ternyata Ibu yang menunggui putraku di sini? Terimakasih ya!" ucap Bu Anjani.
"Eh, iya Bu Sultan, Nak Dicky makannya mulai banyak sekarang, pasti sebentar lagi dia juga cepat sembuh! Siapa dulu yang jagain!" sahut Bu Eni bangga.
"Ibu dari mana saja?" tanya Dicky yang langsung menoleh ke arah Bu Anjani.
"Ibu mulai mengurus pengalihan hak rumah sakit ini atas namamu Dicky, juga menjemput Ken, Ibu meminta Ken untuk tinggal beberapa lama di Indonesia, karena Papanya Ken kan pengacara Ibu!" jelas Bu Anjani.
"Wah, kalau begitu aku harus memanggil Dokter Dokter ini Abang Dong, kan kakak sepupuku!" celetuk Ken.
"Wah, tidak di sangka, keluarga Nak Dicky sultan semua, Fit! Kau beruntung Fit! Suamimu akan mewarisi rumah sakit besar dan keren ini, orang-orang kampung pasti geger ini!" sambung Bu Eni.
Bu Anjani dan yang lainnya hanya tersenyum menanggapi celotehan Bu Eni. Sementara Fitri hanya diam saja sambil menunduk malu.
"Oya Dicky, ini ada Keyla, dia itu anak dari sahabat ayahmu dulu, kalian tidak saling kenal, karena dulu kan Dicky tidak bersama Ibu!" kata Bu Anjani memperkenalkan Keyla.
Keyla langsung maju mendekati Dicky dan menjabat tangannya.
"Wah, ternyata yang aslinya jauh lebih tampan, aku hanya mengikutinya di akun sosial media selama ini!" kata Keyla.
Dicky hanya tersenyum.
"Eh, jangan lama-lama salamannya! Nanti ada setan lewat!" cetus Bu Eni yang langsung menarik tangan keduanya.
__ADS_1
"Ibu!" sergah Fitri yang merasa tidak enak atas sikap ibunya.
"Fit! Kamu tuh istrinya, harusnya duduk di sini nih, di samping suami kamu!" ujar Bu Eni sambil menepuk tempat di sisi Dicky.
"Dicky, Ibu rencana akan membuat pesta syukuran untukmu, nanti Ibu akan mengundang anak-anak panti asuhan dan seluruh karyawan di rumah sakit ini juga Ibu undang!" kata Bu Anjani.
"Benarkah Bu? Kalau begitu aku juga ingin mengundang semua anak-anak panti asuhan Bu Nuri, aku kangen mereka Bu!" ujar Dicky.
"Tentu saja sayang, siapapun kau boleh mengundangnya, Ibu bahagia akhirnya bisa kembali berkumpul dengan putra Ibu, yang selama ini hanya bisa melihat dari jauh!" ungkap Bu Anjani. Dia mulai menggenggam tangan Dicky.
Momen Antara ibu dan anak itu begitu hangat, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terharu.
"Dalam hidupku aku merasa paling beruntung, karena aku punya tiga orang ibu, Ibu Nuri, Ibu Anjani, juga Ibu Eni mertuaku!" ucap Dicky.
"Ah Nak Dicky, buat Ibu terharu aja!" cetus Bu Eni sambil mengusap matanya yang mulai basah.
"Dicky, kalau kau sudah sembuh nanti, mainlah ke rumahku, Papaku pasti akan senang melihatmu!" kata Keyla tiba-tiba.
"Ya, nantinaku akan ajak Ibuku untuk datang ke rumahmu!" jawab Dicky.
"Nih lihat Dicky, sudah sejak lama aku mengikuti akun media sosialmu, followers Dokter Dicky banyak sekali, tapi kau hanya mengikuti sedikit orang!" ujar Keyla sambil menyodorkan ponselnya ke arah Dicky.
"Aku mau Dicky follow aku Tante!" jawab Keyla dengan gaya bicara sedikit manja.
"Baiklah, Dicky, apa susahnya kau follow Keyla, apalagi dia kan designer terkenal lho, siapa tau kau mau memesan jasa desainnya suatu saat nanti!" ujar Bu Anjani.
"Iya Bu!" sahut Dicky patuh. Dia kemudian mulai memfollow Keyla. Keyla tersenyum senang.
"Eh Neng, tapi ingat ya, kau jangan dekat-dekat dengan Nak Dicky, dia itu suami orang!" cetus Bu Eni.
"Ibu tenang saja! Mantu Ibu aman-aman saja kok!" sahut Keyla sambil tersenyum.
Setelah mereka mengobrol sekian lama, Bu Anjani dan Keyla juga Ken hendak pamit pulang, karena tak terasa hari sudah menjelang sore.
"Kapan kau di perbolehkan pulang Dicky?" tanya Bu Anjani.
"Tidak tau Bu, aku sih mintanya besok, karena lukaku tidak terlalu parah lagi!" jawab Dicky.
__ADS_1
"Ibu harus pulang Nak, Ibu ada janji dengan Pak Dirja, Papanya Keyla, soal surat rumah sakit ini!" ujar Bu Anjani.
"Bu, aku butuh Fitri Bu, jangan ajak Fitri pulang!" pinta Dicky.
"Kau ini bagaimana sih? Fitri kan harus mengurus bayinya, kau ini sudah besar kok manja!" sahut Bu Anjani.
"Saya tidak keberatan kok Bu Sultan kalau harus menjaga mantu saya lagi, enak bisa nginep di sini, lebih bagus dari pada kamar saya di kampung!" tawar Bu Eni semangat.
"Tapi saya yang tidak enak lho Bu, ini kan putra saya, masa Bu Eni terus yang menjaga putra saya, kalau saya bisa, saya ingin sekali menungguinya, tapi saya punya banyak urusan penting ini!" kata Bu Anjani.
"Sudah jangan ribut! Kalau hanya menunggu Dicky, aku juga bisa, bagaimana Ken? Bagaimana kalau kita yang menunggu Dicky untuk malam ini?" celetuk Keyla tiba-tiba sambil mencolek Ken yangs sejak tadi hanya diam saja.
"Aku sih oke-oke saja!" sahut Ken singkat.
"Bagaimana Tante?" tanya Keyla yang kini menoleh ke arah Bu Anjani.
"Wah, kenapa malah jadi merepotkan begini? Kan Tante jadi tidak enak, masa kau menunggui anak tanye sih?" tukas Bu Anjani.
"Tidak apa kok Tante, supaya keluarga Tante jadi semakin akrab, lagi pula di sini kan ada Ken, pokoknya aman deh, Ibunya Fitri ikut pulang saja bersama Fitri, kasihan pasti capek di rumah sakit terus!" kata Keyla.
"Bagaimana Dicky?" tanya Bu Anjani.
"Tidak Bu, aku hanya mau Fitri saja!" jawab Dicky.
"Tidak bisa! Kau lupa kalau Fitri harus mengurus bayinya? Ini kan saudara-suadaramu juga Dicky, Ibu senang kalua kalian bersatu dan kompak!" kata Bu Anjani.
"Kalau begitu, mereka boleh menungguiku, tapi ijinkan Bu Eni juga di sini menemaniku!" ucap Dicky.
Semua yang ada di ruangan itu saling berpandangan, Bu Eni tersenyum senang penuh kemenangan.
Bersambung ...
****
Hai guys ...
Mohon maaf kalau banyak typo ya..
__ADS_1
Ini author menulis cerita bukan hanya di sini, bisa tiga cerita up bersamaan, jadi harap maklum guys ...
Otaknya author juga limited soalnya 🙏😉😘