
Fitri masih duduk di sofa itu, menunggu Pak Bram dan Lina berangkat keluar dari rumah.
Sementara Mbok Narti masih bermain bersama Alex.
Beberapa pelayan nampak sedang membereskan ruang makan. Fitri melambaikan tangannya memanggil salah satu dari pelayan itu.
Seorang pelayan datang menghampiri Fitri.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya sang pelayan itu.
"Sudah beberapa hari belakangan ini aku tidak melihat Mbok Jum, apakah kau tau di mana Mbok Jum berada? tanya Fitri.
"Oh, Mbok Jum sedang pulang ke Jogja Nyonya, ada saudaranya yang sakit keras, paling besok juga dia sudah kembali!" jawab si pelayan itu.
"Baiklah, selama Mbok Jum tidak ada, siapa yang melayani Nyonya Anjani?" tanya Fitri.
"Isah Nyonya!" sahut sang pelayan.
"Apa?? Isah? Wajahnya selalu jutek dan cemberut, kenapa harus dia yang melayani Nyonya Anjani?" tanya Fitri lagi.
"Mungkin karena Isah paling gesit dan cekatan, makanya di pilih Nyonya!" jawab Pelayan itu.
"Ya sudah, kau boleh kembali lanjutkan pekerjaanmu!" ujar Fitri.
Sang pelayan menunduk hormat lalu segera membalikan tubuhnya kembali ke belakang.
Di saat yang sama, Bram dan Lina turun dari arah tangga menuju ke depan, mereka melewati meja makan dan ruang keluarga itu, dimana Fitri masih duduk.
Tiba-tiba Fitri teringat kejadian semalam, dia langsung bergidik saat melihat Pak Bram dan Lina, ternyata di dalam rumah ini ada musuh dalam selimut.
"Selamat Pagi ibu Fitri!" sapa Lina sambil tersenyum.
"Pagi Mbak!" sahut Fitri tanpa berani menatap wajah mereka.
"Mbak Fitri kok sendirian saja, tidak ikut Pak Dokter Dicky ke rumah sakit?" tanya Pak Bram.
"Tidak!" sahut Fitri singkat.
'Dasar munafik! Pengkhianat!' umpat Fitri dalam hati.
__ADS_1
Mereka kemudian berlalu dari hadapan Fitri.
Fitri lalu berdiri dan membuka tirai jendela, untuk memastikan mereka telah keluar dari rumah ini.
Setelah mereka benar-benar pergi, Fitri kemudian memanggil Bi Sumi yang masih menggendong Kia.
"Bi, waktuku tidak banyak, aku akan diam-diam masuk ke kamar Pak Bram, penasaran ada rahasia apa di kamar itu!" ujar Fitri.
"Tapi, bagaimana caranya Mbak Fitri masuk ke sana? Kalau di kunci bagai mana?" tanya Bi Sumi.
"Iya juga sih, coba saja Mbok Jum ada di sini, ada banyak hal yang mau aku tanyakan padanya!" gumam Fitri.
Fitri terdiam memikirkan bagaimana cara dia masuk ke dalam kamar Pak Bram.
"Mbak Fitri, Bibi pernah lihat di kamar Pak Bram itu kan ada jendela balkon ke arah luar, mungkin bisa masuk dari balkon itu!" kata Bi Sumi.
"Benar juga, ayo Bi, kita ke sana, pokoknya Bibi berjaga-jaga saja, kalau ada pelayan yang melihat atau hal yang penting langsung panggil aku saja!" ujar Fitri.
"Bagaimana memanggilnya?"
"Panggil saja namaku!" sahut Fitri.
Mereka kemudian naik ke lantai atas, benar yang di katakan Bi Sumi, ada balkon dari kamar Pak Bram, Fitri mencoba masuk melalui balkon kamarnya sendiri, sambil merembet di tembok yang menghubungkan dengan balkon kamar Pak Bram.
Jendela dari kamar Pak Bram terbuka, ini memudahkan Fitri untuk masuk kedalam kamar itu.
Dengan hati berdebar Fitri mulai mengintai kamar itu dari balik jendela, sekilas nampak seperti kamar biasa, namun di tembok lain di dekat sebuah lemari besar ada sebuah pintu, tapi itu bukan pintu kamar atau pintu toilet, pintu itu tersambung ke arah gudang, atau lebih tepatnya, kamar yang tidak terpakai.
Fitri menahan nafasnya saat mencoba masuk ke dalam kamar itu, ada sebuah lemari besi di sudut kamar persis seperti lemari yang ada di kamar Bu Anjani.
Fitri perlahan mencoba membuka lemari itu, namun lemari itu di kunci, tapi Fitri yakin, banyak harta terpendam dalam lemari itu.
Mata Fitri tertuju pada sebuah botol yang ada di meja dekat dengan tempat tidur, Fitri mendekat dan mengamati botol itu, ternyata itu adalah botol yang berisi cairan, ada tulisan dalam kertas yang menempel di botol itu, Fitri terkejut saat membacanya, itu adalah cairan sianida.
Seluruh bulu kuduk Fitri merinding seketika.
Pikirannya mulai berkecamuk, ternyata zat sianida dalam minuman Dicky bisa jadi berasal dari kamar ini, sungguh mengerikan. Fitri bergidik ngeri.
Fitri lalu beralih ke pintu lain, bukan pintu kamar atau toilet, tepatnya pintu yang tersembunyi di samping lemari besi itu.
__ADS_1
Perlahan Fitri mendorong pintu itu, matanya terbuka lebar saat melihat ada sebuah kamar besar, di kamar itu ada sebuah tempat tidur besar, namun tidak ada jendela dalam kamar itu.
Karena penasaran Fitri masuk ke dalam kamar rahasia itu.
Suasana yang sunyi dan sepi menambah ke tegangan suasana di tempat ini.
Fitri tersadar, dia sudah cukup lama berada dalam kamar ini, dia harus segera kembali.
Fitri langsung membalikan tubuhnya hendak kembali ke jendela balkon tadi, tempat dia masuk pertama kali.
Namun saat Fitri hendak melangkah, tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekal bahunya.
Fitri terperanjat kaget, hatinya mulai di liputi rasa ketakutan. Perlahan Fitri menoleh ke belakang.
Nafasnya seolah terhenti saat dia melihat wanita itu, wanita misterius yang pernah di lihatnya semalam memakai tudung hitam dan kain panjang, wanita itu tersenyum menyeringai pada Fitri.
"Ternyata ... selama bertahun-tahun, ada juga orang yang berani masuk ke sini!!" kata wanita itu dengan suara datar dan dingin, juga sedikit parau.
"Ini rumah Ibu mertuaku! Kau siapa berani bersembunyi di rumah ini!" sahut Fitri dengan mengumpulkan segenap keberaniannya.
"Ini rumahku!" cetusnya datar.
"Kau bohong! Sekarang lepaskan aku! Aku mau keluar dari sini!!" seru Fitri.
"Suruh siapa kau berani masuk ke sini! Itu sama saja kau cari mati! Ikut campur urusanku!!" sengit wanita itu.
"Kalian jahat! Kau dan Pak Bram juga istrinya jahat!! Aku tau kalian mengambil harta Bu Anjani sedikit-sedikit, kau merampok rumah ini!! Kau musuh dalam selimut!! Aku akan laporkan kalian ke polisi!!" sengit Fitri.
Wanita itu tertawa sambil menepuk bahu Fitri.
"Enak saja kau sudah masuk mau keluar begitu saja!" tukas wanita itu.
Fitri berusaha berlari ke arah jendela namun wanita itu terus mencekal Fitri.
"Tolong!!" teriak Fitri.
Bughh!!
Sebuah balok besar mendarat di tengkuk Fitri, sehingga Fitri jatuh pingsan.
__ADS_1
Bersambung ...
****