Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Malam Yang Panas


__ADS_3

Pintu apartemen baru saja terbuka dengan kasar. Sang pemilik menghempaskan pintu itu, sehingga tertutup rapat dan terkunci dengan sendirinya. Saat di mobil tadi, Raihan tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium Riana, sehingga terjadilah lumatann pertukaran saliva dengan sensual. Raihan yang awalnya berniat pulang, justru tergoda gairah karena lagi-lagi tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh sang kekasih. Entah kenapa wajah Riana yang cantik itu mampu menggodanya hanya dengan sirat bola matanya yang bulat bening itu.


Dan akhirnya mereka memutuskan untuk singgah di apartemen milik Riana dan saling menghangatkan tubuh mereka. Karena sejujurnya tidak hanya Raihan saja yang sudah berkabut gairah, Riana pun selalu tidak bisa menahan gejolak hasratnya ketika Raihan menciumnya dengan sensual. Terlebih tangan Raihan tidak bisa diam, selalu bergerilya di titik tubuhnya tertentu, sehingga membangkitkan sesuatu di dalam tubuhnya.


Raihan menghimpit tubuh Riana pada dinding, lalu menyambar bibir ranum sang kekasih yang selalu menjadi candu untuknya. Mencium rakus hingga sapuan lidahnya tidak membiarkan Riana berhenti melumatt. Tangan besarnya tidak tinggal diam, menjelajah setiap lekukan tubuh Riana hingga mencapai apa yang ditujunya, yaitu dua bongkahan kenyal yang berukuran 36D itu. Cukup pas di tangan Raihan, dan ia menyukai bermain disana, hingga aksi Raihan itu sukses membuat Riana melenguh pelan.


Tanpa melepaskan pagutan bibir mereka, tangan Raihan sibuk melepaskan satu persatu kancing kemeja yang melekat di tubuh Riana. Pun sebaliknya tangan Riana juga tidak tinggal diam, ia membantu Raihan menanggalkan pakaiannya miliknya serta pakaian milik Raihan. Kini keduanya hanya menyisakan pakaian dalam saja, Raihan menyudahi pagutan bibir mereka, ia beralih pada leher Riana, dihisapnya leher jenjang itu lalu memberikan tanda merah disana.


"Aku kangen banget sama kamu sayang," tutur Raihan menghirup dalam aroma tubuh Riana. Suaranya menjadi lebih berat karena gairahnya sudah berada di puncak. Sudah lama sekali mereka tidak melakukan kegiatan intim seperti malam ini.


"By...." Dan Riana mendesah kala satu jari Raihan menekan bagian intinya.


"Kalau kamu mendesah kayak gini aku benar-benar nggak bisa tahan lagi sayang." Dan menarik tali penyangga buah dada Riana hingga menampakkan dua bongkahan yang indah itu.


Tidak ingin membuang waktu, Raihan menenggelamkan wajahnya disana. Lalu mengulum puncuk sensitif Riana yang sudah menegang.


"Uugghhh...." Riana hanya bisa melenguh nikmat, tangannya meremass rambut Raihan. Matanya terpejam menikmati decapan lidah buasnya yang bermain pada satu dadanya yang cukup besar itu, sementara tangan Raihan yang lain meremas dada Riana yang menganggur itu.


"Sayang, ini tambah gede dari yang aku pegang dua bulan lalu." Di tengah Raihan menyusui layaknya bayi yang kehausan ia meresapi bentuk dada Riana yang ternyata sudah lebih besar dari sebelumnya.


"Emmhh iyaaa.... " Bahkan Riana tidak dapat berkata karena kenikmatan itu sungguh membuat seluruh tubuhnya lemas dan bergetar bersamaan.


"Aku udah gak tahan lagi sayang." Benar, rasanya Raihan ingin segera menembak miliknya yang sudah menegang di bawah sana.

__ADS_1


Dengan segera Raihan menggendong Riana dan membawa kekasihnya itu ke kamar, sebelum kemudian membaringkannya di atas ranjang. Raihan kembali menerjang bibir Riana dengan rakus, hingga mereka kembali berpagutan untuk beberapa saat. Sebelum pada akhirnya Riana menggulirkan tubuh Raihan ke samping sehingga kini posisi Raihan terlentang pasrah.


Dengan nakal tangan Riana menarik kain segitiga yang menutupi senjata Raihan yang sudah menyembul itu, hingga nampak benda tumpul yang berdiri tegak.


"Eergghh....." Raihan terdengar mengeram dan sesekali matanya terpejam singkat menikmati sentuhan tangan Riana. Hingga akhirnya Raihan menyerah karena tidak bisa menahan lebih lama. Dengan hasrat yang bergejolak Raihan merobek kain segitiga yang masih membungkus sempurna bagian bawah Riana dan memposisikan senjatanya masuk ke dalam sana.


"Arrghhh By...." Dan Riana memekik kesakitan ketika pusaka milik Raihan menembus bagian bawahnya. Meskipun ini bukan kali pertama bagi mereka melakukannya, tetapi tetap saja bagian inti Riana masih sangat sempit dan rapat mengingat mereka hanya sesekali melakukannya.


"Uughh sayang, ini nikmat banget." Raihan semakin gencar bergerak di atas tubuh Riana. Hentakannya membuat dua buah dada Riana bergoyang kesana kemari dan itu membuat Raihan gemas, sehingga tangannya meremas dua bongkahan itu dengan kuat.


Dan pada hitungan menit berikutnya, Raihan menumpahkan cairannya diluar. Untuk sesaat mereka saling meraup oksigen usai percintaan panas mereka. Meskipun yang mereka lakukan ini salah, tetapi mereka dengan suka rela saling menyerahkan. Terlebih mereka akan menikah dan yang sudah mengambil keperawanan Raina adalah Raihan sendiri sejak hubungan mereka berjalan 6 tahun. Ya, satu tahun yang lalu mereka memberanikan diri untuk saling menyerahkan tubuh satu sama lain.


"Makasih sayang. Aku cinta banget sama kamu." Raihan mengecup kening Riana cukup lama dan dalam. Sebelum kemudian pria itu ambruk di samping Riana lalu memeluk kekasihnya itu dari belakang. "Aku istirahat sebentar sayang, nanti abis mandi aku pulang," imbuhnya dengan napas naik turun. Bibirnya mengecup bahu Riana yang polos.


Riana mengangguk sembari mengatur napasnya yang juga tidak beraturan. Riana tidak munafik, ia menikmati permainan panas mereka. Akan tetapi jauh di lubuk hatinya ia cemas sekaligus takut jika pada akhirnya ia tidak berakhir ke jenjang pernikahan dengan Raihan. Dengan segera Riana menepis pikiran buruknya itu, ia tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Karena semuanya murni atas keinginan dirinya, ia yang memperbolehkan Raihan menyentuh bahkan melakukan lebih. Namun Riana berharap hubungan mereka baik-baik saja untuk kedepannya.


***


Raihan memberikan kecupan bertubi-bertubi di setiap inci wajah Riana. Malam ini ia harus pulang untuk menyiapkan bahan meeting keesokan harinya. Meskipun Riana tinggal sendiri di apartemen, tidak pernah sekalipun Raihan menginap.


"Kamu hati-hati ya," kata Riana bergelayut manja di lengan Raihan.


"Iya, nanti aku kabarin kamu kalau aku udah sampe rumah," jawabnya memberi usapan lembut di pipi Riana. "Oh iya, aku lupa kasih tau kalau mama ngundang kamu buat makan siang besok, kayaknya mau ada yang di bicarain sama kamu. Lagian kamu juga besok pulang siang 'kan?" imbuhnya kemudian. Raihan tau benar jika setiap hari sabtu Riana bekerja hanya sampai siang hari.

__ADS_1


Mendengar apa yang disampaikan oleh Raihan, kedua alis Riana membentuk kerutan. "Emang apa yang mau mama bicarain sama aku, By?" tanyanya penasaran. "Lagian kenapa kamu baru bilang sekarang sama aku sih? Untung aja aku belum nerima ajakan teman-teman kantor buat nonton bareng," protesnya mencebikkan bibir.


Melihat respon kesal sang kekasih, Raihan terkekeh, lalu tangannya menjulur untuk mencubit kedua pipi Riana. "Maaf sayang. 'Kan aku udah bilang kalau aku lupa. Seharian tuh aku sibuk banget dan telepon mama juga nggak sempat aku jawab, jadi mama cuma kirim pesan."


Kepala Riana nampak mengangguk-angguk saat mendengar penjelasan Raihan. "Yaudah, besok aku naik taksi ke rumah kamu. Kamu pasti nggak ikut pulang 'kan?"


Dan respon Raihan hanya tersenyum kuda. "Maaf sayang, aku ada kerjaan sampai sore. Tapi abis itu aku janji langsung pulang. Jadi kamu bisa tunggu di rumah sama mama," ujarnya memberi pengertian. Berharap sang kekasih tidak marah ataupun kecewa padanya.


"Iya nggak apa-apa. Aku juga kangen banget sama mama kamu. Kalau ada kamu pasti gak biarin aku dekat-dekat sama mama," cebik Riana bersedekap.


"Pintar banget sih." Dengan gemas Raihan menangkup kedua pipi Riana, hingga bibir Riana mengerucut ke depan. "Yaudah aku pulang ya. Kalau lama-lama disini, aku takut makan kamu lagi."


Dan wajah Riana sukses berubah warna menjadi rona merah. "Ish, kamu mesum banget."


"Mesum juga cuma sama kamu aja," ucap Raihan. "Yaudah, bye sayang." Raihan segera keluar dari apartemen milik Riana.


Dan wanita itu menatap pintu yang tertutup rapat, suasana seketika hening setelah kepergian Raihan. "Hooamm, ngantuk banget. Mending aku tidur aja deh." Riana berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang tertatih, karena bagian bawahnya masih menyisakan rasa perih akibat malam panas mereka.


Bersambung


Nikmati alurnya ya bestiie 🤗🌷


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...

__ADS_1


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2