
Empat hari berlalu sejak pertemuan terakhir Riana dengan Raihan. Wanita itu benar-benar tidak memiliki semangat, seolah sebagian jiwanya telah pergi bersama dengan kepergian Raihan. Perasaannya semakin berkecamuk ketika dua hari yang lalu Mama Nina menghubungi dirinya, menanyakan keadaannya yang tidak kunjung datang ke rumah selama berminggu-minggu. Yang menandakan jika Raihan belum memberitahu Mama Nina dan Papa Rizaldy mengenai hubungan mereka yang harus kandas di tengah jalan. Bukan keinginannya memang, akan tetapi Raihan bersikukuh pada keputusannya. Meski berat, tentu Riana harus menerimanya. Namun hatinya berkata lain, ia berharap Raihan akan kembali padanya.
"Ri, kenapa sih dari tadi diam aja?" Dinara menepuk bahu Riana. Wanita itu sejak tadi memperhatikan Riana yang tidak menyentuh makanannya.
"Jangan bilang kamu masih mikirin Raihan, Ri?" Funny menimpali dengan menebak apa yang membuat Riana hanya diam saja. Padahal sejak tadi ia serta Diana sudah berceloteh agar Riana melupakan masalahnya. "Kita ke mall 'kan buat seneng-seneng, tapi kamu masih aja mikirin laki-laki berengsek itu." Ya, mereka bertiga berada di salah satu tempat makan di mall terbesar daerah Jakarta.
"Funny bener, Ri. Lupain Raihan, dia aja nggak mikirin kamu dan lebih milih perempuan lain," sambung Dinara mengangguk setuju.
Riana menatap kedua sahabatnya bergantian. "Kalian nggak ngerti gimana perasaan aku. Bertahun-tahun jalanin hubungan sama Rai, udah pasti nggak semudah itu ngelupain kenangan kita. Nggak cuma satu atau dua tahun tapi tujuh tahun kita bareng-bareng, aku udah biasa ketemu Rai, ngechat Rai dan berangkat kerja bareng Rai, pulang juga selalu bareng, tapi semua itu tiba-tiba hilang gitu aja. Nggak semudah itu ngelupain semuanya. Kalian bisa ngomong gitu karena nggak ada di posisi aku." Kembali Riana menjatuhkan air mata yang sejak tadi tertahan. Hatinya begitu perih mengingat ia harus memaksakan diri untuk berusaha terlihat baik-baik saja. Ia berharap jika kali ini kedua sahabatnya itu dapat mengerti dirinya, tetapi ia justru merasa tertekan mendengar tekanan kalimat yang seolah mengatakan jika dirinya terlalu bodoh, karena masih memikirkan laki-laki yang sudah begitu menyakiti. Selama ini ia dan Raihan sudah melewati hari-hari bersama yang meninggalkan begitu banyak kenangan, sehingga tidak dengan mudah melupakan semuanya dalam waktu beberapa hari untuk menghapus kenangan selama tujuh tahun.
Dinara dan Funny saling bertukar pandang, mereka nampak bersalah karena tidak dapat mengerti perasaan temannya itu. Riana benar, semuanya memang tidak semudah membalikan telapak tangan. Apa yang sudah menjadi kebiasaan jika menghilang begitu saja, harus mulai beradaptasi seperti semula.
"Ri, maaf ya. Aku nggak bermaksud gitu." Dinara kemudian menggeser kursinya, merapat lebih dekat dengan posisi Riana. Sebelum kemudian memeluk sahabatnya itu.
Funny pun turut merapatkan posisi duduk, hingga kini Riana diapit oleh kedua sahabatnya itu. "Aku juga minta maaf ya, Ri. Emang semuanya nggak mudah dan butuh waktu. Kita cuma pengen kamu senyum dan ketawa lagi, tapi aku sama Dina malah nyinggung kamu." Tangan Funny mengusap punggung Riana dengan lembut.
Dinara dan Funny membiarkan Riana terisak, menumpahkan rasa sesak yang begitu menyakitkan. Bahkan mereka tidak pedulikan pengunjung sekitar yang memperhatikan mereka dengan penuh tanda tanya. Sebagian dari mereka nampak berbisik-bisik dan sebagian yang lainnya nampak acuh dan melakukan aktivitas mereka.
Usai menenangkan Riana dan wanita itu sudah nampak lebih tenang, bahkan sudah berhenti menangis. Ketiganya memutuskan untuk pergi dari tempat makan tersebut, sebab sudah terlalu lama mereka disana. Dinara dan Funny menggandeng tangan Riana yang berada di tengah antara mereka. Riana sudah nampak lebih ceria, terlebih ketika Dinara dan Funny melontarkan lelucon yang mampu membuat Riana terkekeh, kemudian perlahan-lahan membuat wanita itu tergelak geli.
__ADS_1
Ketiganya memasuki sebuah toko pakaian bermerek. Awalnya Riana enggan, tetapi kedua sahabatnya itu menarik paksa dirinya. Sehingga mau tidak mau Riana menyeret langkahnya ke dalam toko dengan segala produk-produk yang tidak murah itu.
"Ri, kamu pilih aja. Hari ini biar aku yang traktir kamu belanja," ucap Dinara merangkul bahu Riana. Ia serius dengan perkataannya, namun membuat Riana mematung sesaat.
"Serius Din? Disini mahal loh, kamu nanti nyesel beliin aku ini itu," sahut Riana memastikan. Sebab di antara mereka, memang Dinara selalu lebih royal, sebab wanita itu termasuk putri dari keluarga berada.
"Iya aku serius. Emang kapan sih aku pernah bercanda kalau soal traktir." Dinara nampak menyakinkan Riana. Sedari dulu ia tidak pernah berbohong jika ingin memberikan sedikit kepada kedua sahabatnya itu.
"Asik, kalau gitu aku nggak sungkan loh, Din." Namun yang begitu semangat adalah Funny. Sudah lama ia tidak berbelanja pakaian dan seperti mendapatkan angin segar karena Dinara akan mentraktir mereka.
"Aku nggak bilang mau traktir kamu juga loh Fun," seru Dinara kepada Funny. Ia menahan senyumnya ketika melihat perubahan wajah Funny yang semula nampak semangat berubah menjadi masam.
"Hahahaha iya... iyaa... Kamu sama Riana boleh pilih apa aja, hari ini aku bayarin kalian." Mendengar ucapan Dinara, Funny kembali bersemangat, pun dengan Riana yang turut tersenyum.
"Makasih loh Din. Padahal aku tadi nggak maksa juga, tapi kalau dibeliin aku juga nggak nolak," seru Funny sumringah.
"Itu alibi kamu aja Fun, pura-pura nggak maksa tapi sebenernya muka kamu itu melas banget, minta di hajar." Tentu Dinara tahu betul sifat salah satu sahabat itu, memasang wajah melas dan pada akhirnya membuatnya menjadi tidak tega.
Funny terkekeh. "Yaudah, aku mau pilih-pilih dulu. Takut kamu berubah pikiran, 'kan aku yang rugi. Yuk Ri." Tanpa menunggu jawaban dari Dinara, Funny menarik pergelangan tangan Riana menuju salah satu pakaian yang sedang kekinian. Melihat mereka berdua, Dinara menggeleng-gelengkan kepala, sebelum kemudian ia pun memilih pakaian untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Satu jam lebih mereka berada di dalam toko pakaian tersebut. Setelah Dinara membayar belanjaan mereka yang nyaris menghabiskan uang dua juta, ketiganya segera berlalu dari sana. Terlihat tawa Riana yang semula menggelegar, perlahan menyurut dengan tatapan lurus ke depan disertai mimik wajahnya seketika berubah sendu.
Kenapa dari sekian banyak Mall, dirinya harus bertemu dengan Raihan yang sedang bersama kekasihnya yang baru? Ya, Raihan nampak lebih bahagia bersama perempuan lain, membuat dada Riana yang baru saja merasakan udara segar, mendadak sesak kembali.
"Kamu jahat Rai." Pandangannya tidak dialihkan, tetap pada satu titik, dimana Raihan begitu mesra menggandeng tangan perempuan itu.
Dinara dan Funny kompak mengikuti arah pandang Riana. Keduanya tidak kalah terkejut melihat keberadaan Raihan bersama perempuan selingkuhannya. Kenapa takdir begitu kejam mempermainkan Riana, pikir keduanya.
"Sabar Ri." Funny mengusap punggung Riana, menyalurkan semangat dan ketenangan untuk salah satu sahabatnya itu.
"Yaudah yuk, kita pergi dari sini. Mataku mendadak gatel lama-lama ada disini." Dinara menarik tangan Riana dan Funny agar mereka pergi dari sana. Funny mengikuti dengan penuh semangat, berbeda dengan Riana yang melangkah gontai sembari menyelinap memperhatikan Raihan dengan perempuan itu.
Kamu tau Rai apa yang aku rasain? Sakit tapi nggak berdarah.
Bersambung
...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...