Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Aku Tidak Pantas


__ADS_3

"Aku sayang dan cinta kamu Ri." Akhirnya kalimat itu terucap dari bibir Rama setelah sekian tahun lamanya bersembunyi di balik ikatan teman masa kecil. Ini memang waktu yang sudah Rama tunggu-tunggu. Mencari waktu yang tepat untuk mengungkap perasaan yang selama ini terpendam dengan apik.


Mata Riana mengerjap, berusaha mencerna apa yang baru saja diungkapkan oleh Rama. "Ma-maksud kamu apa Ram? Kamu jangan bercanda deh." Riana tertawa ringan, ia kemudian menepuk lengan Rama. Namun tawanya menyurut ketika melihat wajah Rama yang nampak sangat serius, hingga tatapan laki-laki itu mampu menembus ke dasar hatinya. "Ka-kamu serius Ram?" Dan Riana pada akhirnya tidak mampu berkata, ia mencoba memastikannya kembali.


Rama mengangguk, lalu meriah pergelangan tangan Riana. "Jangan bicara disini Ri, kita cari tempat duduk dulu." Setidaknya mereka membutuhkan tempat yang nyaman, agar bisa lebih terbuka lagi mengungkap perasaan masing-masing. Riana hanya mengikuti langkah Rama, sungguh ia dibuat terkejut dengan pernyataan cinta teman masa kecilnya itu.


Menemukan tempat yang lebih nyaman, Rama menuntun Riana untuk duduk di salah satu kursi besi yang berada di taman, kemudian ia sendiri mendudukkan dirinya tepat di samping wanita yang ia cintai diam-diam itu.


"Ri...." Panggilan Rama seketika membuat Riana menoleh ke arahnya.


"Dari kapan Ram?" Demi Tuhan, Riana benar-benar tidak mengira bahwa ternyata Rama mencintai dirinya.


"Mungkin udah lama Ri, dari kita SMP atau mungkin dari kita kecil." Rama terkekeh ringan, ia sendiri juga tidak mengetahui mulai kapan ia memiliki perasaan lain terhadap Riana. Namun yang pasti perasannya itu tulus dan tidak pernah main-main. Hanya saja ia terlalu pengecut untuk mengungkapnya, sehingga ia berusaha untuk menyimpannya sendiri.


Riana tercengang. Selama itulah Rama menyimpan perasaannya terhadapnya?


"Tapi Ram, selama ini kamu nggak bilang apa-apa. Aku nggak tau kalau kamu punya perasaan kayak gitu. Apalagi kamu udah berapa kali punya pacar." Riana ingat betul saat Rama begitu senang ketika memiliki seorang pacar. Bahkan saat ia berpacaran dengan laki-laki yang juga mengenal baik Rama, temannya itu selalu mendukung dan tidak menunjukkan raut wajah kecewa. Rama benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya.


Rama tersenyum, ia menatap lekat wajah Riana. "Aku cuma nggak mau hubungan kita jadi aneh Ri. Kamu bisa aja jauhin aku kalau tau aku punya perasaan sama kamu dan aku cuma nggak mau itu terjadi," ucapnya jujur kemudian memalingkan wajahnya, menundu ke bawah dengan menangkupkan kedua tangan. "Sebenenarnya aku juga nggak mau ungkapin perasaan ini sama kamu tapi dua bulan ini kita deket lagi, sering ketemu, jadi bikin perasaan aku ke kamu bertambah. Aku juga bingung Ri. Aku takut kamu jadi benci sana aku setelah tau perasaan aku sebenarnya sama kamu."


Riana dapat merasa suara Rama yang terdengar bergetar. Kedua matanya menyoroti wajah Rama yang masih tertunduk. Apa laki-laki itu benar-benar takut jika dirinya menjauh? pikirnya.


"Ram, jujur aja aku bingung harus bilang apa. Aku nggak pernah mengira aja kalau kamu-"


"Maaf Ri kalau aku udah bikin kamu nggak nyaman. Kamu nggak perlu jawab, aku cuma pengen kamu tau perasaan aku karena sebenarnya aku udah nggak kuat nahan perasaan ini." Rama kemudian menoleh, ia tersenyum penuh kelembutan. "Aku sebenarnya nggak suka lihat kamu selalu nangisin laki-laki berengsek itu. Nggak rela aja dia bisa milikin kamimu tapi malah nyakitin, sedangkan aku mau milikin kamu rasanya nggak mungkin...."

__ADS_1


"Kenapa nggak mungkin Ram?" Dari sekian panjangnya perkataan Rama, hanya kalimat tidak mungkin yang laki-laki itu tekankan.


Rama kembali tersenyum. "Kamu 'kan nggak ada rasa sama aku Ri."


Mendengar ucapan Rama, bibir Riana seketika terkatup rapat. "Bu-bukan gitu Ram, aku...."


Rama menarik satu sudut bibirnya, sejujurnya perasaan perih kini menghinggapi, akan tetapi ia berusaha menerima dan tidak memaksa teman masa kecilnya itu untuk menyambut perasannya. Salah satu tangan Rama kemudian terulur membelai rambut Riana.


"Yaudah, aku pulang dulu ya Ri. Kamu nggak usah mikirin apa yang baru aja aku ungkapin ke kamu." Rama menguatkan hati, ia tetap menyematkan senyum di depan Riana. Tidak ingin membuat wanita itu merasa terbebani.


"Tunggu Ram." Riana menahan lengan Rama ketika laki-laki itu baru saja beranjak.


"Kenapa Ri?" tanyanya.


"Iya Ri, aku ngerti. Aku nggak minta kamu buat nerima aku." Mencoba memahami perasaan Riana, meskipun sebenarnya ia ingin berada di samping wanita itu dengan status lebih dari teman semasa kecil.


"Aku bukan perempuan baik-baik Ram. Kalau kamu tau aku gimana, kamu pasti bakalan kecewa."


"Maksud kamu Ri?"


Riana tidak berani menatap Rama, ia menundukkan pandangannya. "Aku perempuan bodoh yang gampang terbuai Ram. Aku.... aku..." Tiba-tiba Riana meneteskan air matanya, ia sungguh tidak bisa memendamnya dan selalu menganggap dirinya wanita baik-baik.


"Kamu kenapa Ri?" Rama menjadi panik ketika melihat Riana yang tiba-tiba saja menangis, ia menyentuh kedua bahu Riana. "Aku minta maaf kalau udah bikin kamu nggak nyaman. Aku.


"Bukan.... bukan itu Ram. Bukan!" Kepala Riana menggeleng kencang. Bukan seperti yang dituduhkan Rama, ia hanya merasa tidak pantas untuk mendapatkan laki-laki sebaik dan setulus Rama. "Kamu pasti bakalan jijik sama aku Ram. Aku nggak pantes buat kamu, kamu bisa dapetin yang lebih dari aku. Aku nggak sebaik yang kamu pikir." Tubuh Riana mendadak meringsut ke bawah. Tangisnya semakin pecah ketika ingatan akan Raihan dengan dirinya melakukan hubungan suami istri menari-nari di dalam otaknya.

__ADS_1


"Ri, jangan nangis lagi. Cerita sama aku, kamu kenapa?" Rama mencoba menenangkan Riana, mencari tau apa penyebab wanita itu menangis seperti itu.


"Aku nggak pantas buat kamu Ram. Bukan cuma kamu aja, aku juga ngerasa nggak pantas buat semua laki-laki!" Suara Riana yang membentak itu membuat Rama tersentak kaget, sebab ini adalah pertama kalinya Riana bicara dengan nada yang tinggi.


Rama duduk kembali, ia menuntut penjelasan dari temannya itu. "Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu Ri? Kamu jangan pernah nilai rendah diri kamu sendiri."


"Tapi kenyataannya kayak gitu Rai, aku dan Raihan udah pernah ngelakuin hubungan suami istri!" Pada akhirnya Riana membeberkan aib dirinya sendiri. Sehingga membuat tubuh Rama membeku.


"Ri, kamu serius sama apa yang kamu bilang?" Rama mencoba memastikan.


Riana mengangguk lemah. "Aku malu sama kamu Ram. Aku udah nyerahin kesucian aku sama Raihan. Aku....." Riana kembali terisak. Dirinya sendiri saja begitu jijik, terlebih orang lain yang mendengarnya.


"Ri...." Raihan tidak tega, ia menggenggam kedua tangan Riana.


"Kamu pasti jijik sama aku 'kan Ram? Kamu pasti kecewa sama kayak aku yang kecewa sama diri aku sendiri. Aku...." Tubuh Riana bergetar, ia meracau dengan pikiran buruknya.


"Nggak Ri, aku nggak berpikir kayak gitu." Rama mencoba untuk menenangkan Riana.


Bersambung


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...

__ADS_1


__ADS_2