Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pusing


__ADS_3

Malam itu setelah selesai makan malam, Dicky langsung mengajak Fitri ke kamarnya. Dina dan Dara masih terlihat mengerjakan tugas mereka dari sekolah.


Rasanya Fitri ingin sekali menyusun barang-barang calon bayinya yang baru saja di belinya tadi siang, tapi tubuhnya terasa lelah.


"Mas, aku belum mendesain kamar bayi kita lho, aku ingin bayi kita punya kamar yang membuat dia nyaman, dengan nuansa warna cerah!" ungkap Fitri.


"Iya sayang, sabar dulu, kita masih punya banyak waktu kan, wajahmu kelihatan pucat Fit, kau terlalu banyak beraktifitas hari ini!" ujar Dicky.


"Iya deh Mas, besok saja ya!" sahut Fitri sambil mulai merebahkan tubuhnya.


Pada saat Fitri menyibakkan rambutnya, Dicky terkejut saat melihat dahi Fitri yang memar kebiruan dan sedikit bengkak.


"Fit! Itu dahi mu sekarang tambah biru, aku kompres ya, memang kurang ajar karyawan itu!" sungut Dicky sambil beranjak dari tempat tidur dan mengambil kompresan untuk Fitri.


"Sudahlah Mas, yang penting bayi kita tidak kenapa-napa!" sahut Fitri sambil mulai memejamkan matanya.


Dicky kemudian mulai mengompres dahi Fitri yang terlihat memar itu.


Saat Dicky menyentuh tangan Fitri, Dicky sedikit terperanjat saat di rasakan nya ada hawa panas dalam tubuh Fitri.


"Fit, kau demam! Pokoknya besok pagi kau harus ke dokter, sekarang aku akan membuat minuman hangat dan sedikit obat demam, supaya suhu tubuhmu turun!" ujar Dicky.


Fitri tidak merespon ucapan Dicky, dia hanya sedikit pusing dan sangat ingin memejamkan matanya.


Tanpa menunggu, Dicky segera keluar dari kamarnya dan langsung menuju ke dapur.


Bi Sumi sedikit terkejut saat melihat Dicky yang datang tergesa-gesa itu.


"Ada apa Pak Dokter?" tanya Bi Sumi.


"Fitri demam Bi, aku ingin membuatkan Fitri minuman hangat! Setelah itu memberikannya sedikit obat demam dengan dosis kecil!" jawab Dicky.


"Mbak Fitri demam? Kenapa Pak? Apa mungkin karena kecapekan?" tanya Bi Sumi.


"Tadi kepalanya terbentur barang yang jatuh di parkiran Bi, mungkin Fitri menahan sakit, walaupun tidak mengeluarkan darah tapi aku tau benturan itu cukup keras!" jawab Dicky.


"Oalaa, ada-ada saja Mbak Fitri ini!" gumam Bi Sumi.


Setelah minuman hangatnya jadi, Dicky langsung masuk ke dalam kamarnya, lalu mulai membangunkan Fitri.

__ADS_1


"Sayang, bangun dulu sebentar, ini ada teh hangat, minumlah Fit!" ucap Dicky.


Fitri membuka matanya lalu mencoba bangun dari tidurnya.


Perlahan dia meneguk teh hangat yang di buatkan Dicky itu.


Setelah beberapa saat lamanya, tubuh Fitri mulai berkeringat, kemudian Dicky mengambil obat yang khusus di peruntukan ibu hamil, lalu di berikannya pada Fitri.


"Ini minum obatnya Fit, mudah-mudahan demamnya segera turun!" ucap Dicky.


Dengan patuh Fitri langsung meminum obatnya. Kemudian dia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Dicky menyusul di sampingnya.


"Mas Dicky, kapan kita berangkat ke Papua?" tanya Fitri.


"Tidak jadi!" sahut Dicky.


"Lho, kok tidak jadi? Kan kemarin kita sudah sepakat mau pergi bersama ke sana untuk menjenguk Ranti!" tanya Fitri.


"Kau lebih penting dari pada itu Fit, setelah aku pikir-pikir, aku tidak jadi menjenguk Ranti, walaupun dia minta untuk yang terakhir kalinya, yang penting di antara kami sudah beres dan tidak ada masalah apapun!" jawab Dicky.


"Tapi Mas, nanti dia akan menunggumu!" sahut Fitri. Dicky tertawa.


"Menungguku? Kau pikir aku ini siapanya dia? Sudah ada Dio di sana, juga Chika, itu sudah cukup!" sahut Dicky.


"Untuk apa aku menyesal, tadinya aku berpikir ingin menjenguknya karena Dio yang memintanya, tapi ... sudahlah Fit, kita fokus saja pada kesehatanmu dan calon bayi kita!" ucap Dicky sambil mulai memeluk Fitri. Kemudian berusaha untuk memejamkan matanya.


****


Pagi itu, Fitri terbangun dari tidurnya, suhu tubuhnya sudah turun, dia mengerjapkan matanya, menguceknya perlahan.


Pandangannya agak kabur, mungkin karena baru bangun tidur. Kepalanya sedikit pusing.


Dicky yang sudah terbangun dari tidurnya lebih dulu, langsung beringsut mendekati Fitri dan membelai rambutnya.


"Selamat pagi sayang, aku senang demam mu akhirnya turun juga!" ucap Dicky.


"Iya Mas, kau sudah siap berangkat? Aku di rumah saja ya, kan demamnya sudah turun, jadi tidak jadi ke rumah sakit kan?!" kata Fitri.


"Baiklah sayang, kau memang sudah tidak panas lagi, istirahat di rumah ya, kalau ada keluhan apapun langsung hubungi aku!" ujar Dicky.

__ADS_1


"Iya Mas!" sahut Fitri.


Dicky kemudian menuntun Fitri keluar dari kamarnya, mereka lalu duduk di ruang makan, Dina dan Dara sudah menunggunya.


"Selamat pagi Mama, Papa!" sapa Dina dan Dara.


"Pagi sayang, ayo langsung sarapan, nanti kalian terlambat sekolah!" ujar Fitri.


Mereka lalu mulai menikmati sarapan mereka.


"Kepalamu masih pusing Fit?" tanya Dicky


"Sedikit Mas, paling nanti juga hilang!" sahut Fitri.


"Baiklah kalau begitu, Mas berangkat dulu ya, pokoknya kau harus cepat telepon Mas kalau kepalamu pusing lagi, Mas tidak mau kau menyembunyikannya!" ujar Dicky.


"Iya Mas Dicky, kau ini khawatir sekali sih!" sahut Fitri sambil mencubit dagu Dicky.


Setelah sarapan, Dina dan Dara langsung menghambur naik ke mobil yang di kemudikan oleh Mang Salim.


Sementara Dicky masih berjalan menuntun Fitri.


"Mas Dicky sudah sembuh total keliatannya, kakinya sudah tidak pincang lagi!" ujar Fitri.


"Iya Fit, aku mau cepat-cepat pulih total, supaya aku kembali bisa menggendong mu!" sahut Dicky.


Setelah Fitri mencium tangan Dicky, Dicky lalu segera naik ke dalam mobil yang telah menunggunya.


Fitri melambaikan tangannya sampai mobil itu hilang di balik tembok gerbang.


Pada saat Fitri kembali berjalan masuk ke dalam, tiba-tiba pandangannya kembali kabur seperti saat dia bangun tidur tadi.


"Bi Sumi! Bi!" panggil Fitri sambil mencoba duduk di bangku yang ada di ruangan itu.


BI Sumi datang menghampirinya.


"Ada apa Mbak Fitri?" tanya Bi Sumi.


"Tolong antar aku ke kamar Bi, kok mataku jadi agak burem ya?!" jawab Fitri.

__ADS_1


Bu Sumi mengerutkan keningnya lalu segera menggandeng Fitri masuk ke dalam kamarnya.


****


__ADS_2