Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mulai Tumbuh Bunga Cinta


__ADS_3

Sekitar jam 10 pagi, Dicky sudah rapi dan bersiap akan berangkat ke rumah sakit.


Dia keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Di meja makan sudah tersedia makanan yang tersaji, sehingga menggugah selera Dicky untuk menyantapnya.


"Bi Sumi!" panggil Dicky.


Bi Sumi terhopoh-hopoh keluar dari dapur.


"Siapa yang memasak ini semua?" tanya Dicky.


"Tadi pagi-pagi Mbak Fitri yang memasak itu semua Pak, untuk Bapak makan!" jawab Bi Sumi.


Dicky tersenyum senang, entah mengapa hatinya begitu hangat untuk menikmati makanan sajian istrinya itu.


"Pak Dokter kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Bi Sumi bingung.


"Ehm, tidak Bi, tolong bungkuskan makanan ini di tempat makan Bi, aku ingin membawanya untuk makan siang di rumah sakit nanti!" jawab Dicky.


"Tumben bawa makanan dari rumah Pak, biasanya selalu makan di kantin!" gumam Bu Sumi.


"Tidak apa-apa kan makan masakan istri!" sahut Dicky sambil menyantap habis makanannya.


Setelah Bi Sumi menyiapkan bekal untuk Dicky, dia langsung bergegas berangkat ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Dicky tak henti-hentinya bersiul senang, menandakan hatinya sedang gembira.


"Wah, cerah sekali wajah Dokter hari ini!" kata Suster Wina, asisten Dicky, saat Dicky tiba di ruangannya.


"Boleh dong sekali-kali berwajah cerah, Oya, bagaimana pasien hari ini? Yang di rawat inap, aku akan mengadakan kunjungan ke mereka!" ujar Dicky.


"Baik Dokter! Silahkan jika ingin berkunjung!" sahut Suster.


Hari ini Dicky dengan penuh semangat mengunjungi pasiennya satu persatu.


Menjelang siang, saat tidak ada pasien yang berkonsultasi, Dicky mulai membuka bekal makanannya.


Ceklek!


Pintu ruangannya terbuka, Dokter Dimas masuk dan langsung duduk di hadapan Dicky.

__ADS_1


"Hai Dicky, makan siang di kantin yuk!" ajak Dimas.


"Sorry Dim, aku sudah bawa bekal!" sahut Dicky.


Spontan Dimas tertawa terbahak-bahak, membuat Dicky terlihat kesal.


"Aduh Bro! Kau persis anak TK yang bawa bekal dari rumah, sejak kapan kau jadi suka makanan rumah Bro?" goda Dimas sambil terus tertawa geli.


"Ah, sial kau! Mengganggu selera makanku saja! Ini masakan Fitri tau, Fitri memasak untukku sejak pagi-pagi, padahal dia harus mengajar di sekolahnya yang baru, luar biasa kan!" kata Dicky bangga.


"Wow! Sepertinya sudah mulai tumbuh benih-benih cinta diantara kalian, lalu, bagaimana kau dengan Ranti? Tidak jadi balikan?" tanya Dimas.


"Jangan kau sebut-sebut lagi Ranti di hadapanku Dim! Aku sudah melupakannya!" sahut Dicky sambil terus menyantap makanannya.


"Hebat kau! Dulu kau kelihatan depresi saat kehilangan Ranti, secepat itukah kau melupakannya?" tanya Dimas.


"Ranti sekarang berbeda dengan Ranti yang dulu, Ranti sekarang penuh dengan ambisi dan aku makin hilang perasaan sama dia, ternyata cinta itu ada saat kita merasa nyaman!" jawab Dicky.


"Hmm, sejak kapan kau jadi puitis begini Bro, terakhir dia menghubungiku untuk meminta bantuanku, katanya mantan suaminya terus meneror dia, sekarang dia malah tinggal di apartemen yang di sewanya!" tutur Dimas.


"Aku sudah tidak mau tau lagi urusannya Dim, aku mau menikmati hidupku saja bersama Fitri, dia adalah dunia baruku yang membuat hatiku hangat dan nyaman, dan aku merasa bahagia!" ucap Dicky.


****


Sementara itu di sekolah, bel pulang sekolah sudah berbunyi, sesuai janji Fitri bersama Tito berjalan kaki menuju rumah Dara, ternyata jarak dari rumah dan sekolah sangat dekat, hanya menempuh waktu 10 menit berjalan kaki.


"Tiap hari kau selalu berangkat dan pulang sekolah jalan kaki?" tanya Fitri.


"Iya Bu, rumahku dan Dara berdekatan, orangtuaku memulung setiap hari, dari pagi sampai sore!" jawab Tito.


Dalam hati Fitri miris juga, di daerah sini banyak anak-anak yang kurang beruntung.


Tak lama mereka sudah sampai di rumah Dara.


"Dara!" panggil Tito.


Tak lama Dara muncul dari dalam rumah kecilnya, dia terkejut melihat kehadiran Fitri.


"Bu Fitri!" pekik Dara.

__ADS_1


"Dara, ibumu mana?" tanya Fitri lembut.


Dara segera masuk ke dalam dan memanggil ibunya. Tak lama Dara keluar lagi bersama dengan ibunya.


"Selamat siang Bu, saya Fitri gurunya Dara!" ucap Fitri sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Romlah!" sahut Ibunya Dara.


"Hari ini Dara tidak masuk sekolah, apakah ada masalah Bu?" tanya Fitri.


"Dari kemarin dia merengek minta sepatu baru, karena sepatu lamanya sudah rusak parah, saya mana ada uang untuk beli sepatu, buat makan sehari-hari saja pas-pasan!" jawab Bu Romlah.


"Oh, kalau masalah itu mungkin sedikit saya bisa membantu, paling tidak untuk membeli sepatu untuk Dara!" Fitri mulai mengeluarkan uang dari dalam tasnya, kemudian diberikan nya pada Bu Romlah.


"Saya harap besok Dara sudah bisa masuk sekolah lagi!" ucap Fitri.


"Terimakasih Bu Fitri!" sahut Bu Romlah.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit ya Bu, Dara, sampai jumpa besok di sekolah!" ucap Fitri yang kemudian segera pergi meninggalkan tempat itu.


Tak lama kemudian Fitri sudah kembali di sekolah, dia duduk di lobby yang terlihat mulai sepi itu, dia mulai membuka ponselnya, ada banyak panggilan tak terjawab dari Dicky suaminya.


"Bu Fitri belum pulang?" tanya Pak Donny yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya.


"Eh, belum Pak, ini baru mau pesan ojek online!" jawab Fitri.


"Saya antar saja Bu, tugas saya sudah selesai!" ajak Pak Donny.


"Tidak usah Pak, terimakasih!" tolak Fitri halus.


"Jangan sungkan Bu, kita kan searah, anggap saja saya tukang ojek, tapi tidak usah di bayar!" kata Pak Donny meyakinkan.


"Tapi Pak ..."


"Sudahlah Bu, dosa lho menolak tawaran orang!" Pak Donny langsung berdiri dan melangkah menuju parkiran.


Mau tidak mau Fitri berjalan mengikutinya, karena dia tidak ingin Pak Donny tersinggung karena Fitri menolak ajakannya.


****

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya dong Guys ...


__ADS_2