
Hari ini hari Senin, seperti biasa di rutinitas hari Senin selalu di hebohkan dengan suara-suara terburu-buru.
Dina dan Dara terburu-buru memakai seragam dan sepatu, Fitri juga nampak mempersiapkan diri untuk mengajar di sekolah.
Dengan santai Dicky menuruni tangga dari lantai atas kamarnya sambil menggendong Alex.
Sejak Dicky buka praktek di rumahnya sendiri, dia jadi lebih santai dan tidak di kejar waktu seperti dulu saat dia masih bekerja di rumah sakit.
"Berisik sekali di bawah, seperti di kejar setan saja!" ujar Dicky yang langsung duduk di ruang makan itu.
Dina dan Dara nampak makan dnegan terburu-buru.
"Takut terlambat Pa, tadi kami bangun kesiangan!" kata Dara.
"Makanya, jangan tidur terlalu larut, efek dari hari libur ya begini ini, pasti hari Senin adalah hari yang paling merepotkan!" sungut Dicky.
Mang Salim nampak sudah menunggu di mobil yang sudah terparkir di depan gerbang depan.
"Mas aku berangkat ya!" pamit Fitri sambil mencium tangan suaminya itu.
"Aku yang antar kalian ya!" tawar Dicky sambil mengecup kening Fitri.
"Jangan Mas! Mas kan juga harus mempersiapkan untuk buka praktek nanti, kita profesional masing-masing saja Mas, Toh aku mengajar juga tidak akan lama!" tukas Fitri.
"Iya deh, tapi jangan lupa selalu telepon aku tiap dua jam sekali!" sahut Dicky.
"Iya, siap Boss manja!" jawab Fitri yang langsung berjalan ke arah mobil yang akan di tumpanginya, sementara Dina dan Dara sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil.
Mobil itu pun segera bergerak perlahan meninggalkan rumah itu.
"Dah Mama! Sekarang Alex mandi sama Papa ya, biarin Papa mandi lagi sama Alex, kita berendam air hangat!" ucap Dicky sambil mencium dan menggendong Alex kembali ke kamarnya.
Sementara itu, setelah mengantar Dina dan Dara, Fitri tidak langsung turun dari mobilnya.
"Mama kok tidak turun?" tanya Dara yang sudah duluan turun dari mobil.
"Dara langsung masuk kelas deh, Mama ada urusan sebentar!" kata Fitri.
Dara menganggukan kepalanya dan langsung berlari masuk ke dalam gerbang sekolah.
"Kita mau ke mana Mbak Fitri?" tanya Mang Salim.
"Masih ada waktu 30 menit Mang, antarkan saya ke gedung perkantoran di jalan pusat, di ujung kan ada toko bunga, saya mau ke sana!" jawab Fitri.
Tiba-tiba Fitri teringat ucapan Agus mengenai wanita yang mirip dengannya yang ada di toko bunga, bisa jadi itu adalah wanita yang sama yang bertemu dengan Fitri di toilet hotel kemarin itu.
__ADS_1
"Toko Bunga? Toko bunga yang mana? Di daerah itu kan banyak Toko Bunga berjejer!" tanya Mang Salim.
"Pokoknya antarkan saya ke daerah itu deh Mang, nanti biar saya cari tau sendiri, ayo Mang waktu kita tidak banyak!" sahut Fitri.
Mang Salim kembali menancap gasnya menuju ke daerah yang di maksud Fitri tadi.
Tak lama mereka sudah sampai di daerah itu, di pusat kota jalan raya besar dengan gedung pencakar langit yang tinggi menjulang dan berjejer di sepanjang jalan raya itu.
Di sudut gedung itu, tepatnya di perempatan jalan raya, banyak toko bunga yang berjejer di sana, kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari sekolah.
"Mang Salim tunggu sebentar di sini ya, saya tidak akan lama!" kata Fitri setelah mang Salim memarkirkan mobilnya
"Baik Mbak!" sahut mang Salim.
Dengan cepat Fitri turun dari mobilnya dan bergegas ke toko bunga itu.
Harum semerbak bunga mulai tercium di Indra penciuman Fitri.
Tiba-tiba tangan Fitri di tarik oleh seseorang.
"Kau kemana saja hah?! masih ada lagi pesanan bunga yang harus kau antar!! Kerjamu lelet sekali, aku akan potong gajimu nanti!" sengit seorang Bapak tua yang sepertinya pemilik toko bunga itu.
"Lepaskan!" sentak Fitri yang langsung menarik kasar tangannya.
"Kau?? Sejak kapan kau dapat bicara??" tanyanya heran dengan mengerutkan keningnya.
"Sepertinya Bapak salah orang, saya Fitri, saya adalah seorang guru SD!" jelas Fitri.
"Salah orang?? Berarti Kau bukan si Tata??" tanya Bapak tua itu.
"Ya jelas bukan lah!" sahut Fitri.
"Lah kok bisa mirip??" Bapak tua itu semakin bingung.
"Pak, berarti ada orang yang mirip saya di sini ya? Pak tolong saya Pak, saya mau bertemu sama orang itu!" kata Fitri.
"Iya, dia sudah setahunan kerja sama saya di sini, namanya Tata, dia bisu tapi tidak tuli, dia tinggal sama ibunya yang sudah tua, Mak Acih nama Ibunya!" jelas Bapak tua pemilik toko bunga itu.
"Jadi, bagaimana saya bisa ketemu sama dia?" tanya Fitri.
"Harusnya sekarang dia sudah sampai, karena dia mengantar bunga sejak subuh tadi, mentang-mentang bisu kerjanya lelet banget!" sungut Pak tua itu.
Mang Salim nampak berjalan menghampiri Fitri.
"Mbak Fitri, sudah hampir jam tujuh, Mbak Fitri pasti nanti akan terlambat jika tidak jalan sekarang!" kata Mang Salim.
__ADS_1
Fitri melirik sekilas ke jam tangannya, dia memang sudah hampir terlambat.
"Kalau begitu saya permisi Pak, terimakasih informasinya!" ucap Fitri yang langsung berjalan dan naik ke dalam mobil.
Dengan cepat Mang Salim kembali melajukan mobil itu menuju ke sekolah.
"Mbak Fitri sedang mencari siapa sebenarnya?" tanya Mang Salim.
"Itu Mang, wanita yang sangat mirip dengan saya, saya hanya ingin tau saja, apakah saya ada hubungannya dengan dia atau tidak di masa lalu!" jawab Fitri.
"Kata orang, di belahan Dunia ini memang selalu ada orang yang mirip, seperti Pak Dokter Dicky, dia sangat mirip dengan Dokter Dave yang sudah meninggal, tapi toh mereka tidak ada hubungan apa-apa!" jelas Mang Salim.
"Iya Mang, saya hanya penasaran saja, entah kenapa saya jadi kepo ingin tau lebih banyak tentangnya!" ujar Fitri.
Ciiiiit!
Tiba-tiba Mang Salim mengerem mendadak, Fitri kaget dan kepalanya sedikit membentur jok di depannya.
"Ah! Hampir saja ketabrak! Menyebrang tidak tengok kanan kiri sih!!" gerutu Mang Salim.
Seorang wanita nampak menutup wajahnya dengan tangan di depan mobil yang di kendarai Mang Salim.
Saat wanita itu melepaskan tangannya Fitri melotot, Orang yang di carinya ada di depan mobilnya.
Dengan cepat Fitri turun dan menghampiri wanita itu.
"Hei! Kau tidak apa-apa??" tanya Fitri.
Wanita itu nampak terkejut melihat Fitri, dia menggelengkan kepalanya, setelah itu dia berlari meninggalkan Fitri menuju ke arah seberang jalan raya.
"Heii!! Kau mau kemana?! Tunggu! Aku mau bicara padamu!!" teriak Fitri.
Namun wanita itu tidak menoleh lagi, dia terus berlari hingga tubuhnya hilang di antara lalu lalang nya kendaraan yang mulai memadati jalan raya itu.
Bersambung ...
****
Hai Readers ...
Author mau promo nih, bagi yang punya aplikasi ungu boleh dong mampir di karya author yang berjudul "Cahaya Cinta Alina"
Selalu di tunggu dukungannya ya guys ...
Trimaksih atas segala kesetiaan para Readers sampai dengan saat ini, akan ada hadiah give away bagi komentar terbaik dan dukungan paling banyak 🙏😁😉😘
__ADS_1