
Aneka hidangan sudah tersedia di meja makan besar itu, lengkap dengan buah-buahan.
Dara ikut membantu menyusun piring saji yang makanannya menggugah selera, ada ikan balado pesanan Dicky, sayur capcay seafood, ayam goreng, dan juga telur dadar ala Padang.
Semuanya sudah siap di santap, Fitri sendiri yang memasak semuanya di bantu oleh Bi Sumi dan Dara.
Pak Karta sudah pulang kembali ke Sukabumi, karena dia harus mengurus sawahnya.
Fitri menunggu di teras depan bersama Dara.
"Papa kemana ya Dara, sudah gelap kok belum sampai rumah!" gumam Fitri.
"Macet kali Ma, telepon saja!" jawab Dara.
"Sudah, tapi kok teleponnya tidak aktif ya!" kata Fitri.
Tiba-tiba Bu Eni muncul di teras itu.
"Masuk Fit! Pamali orang lagi hamil berdiri di depan rumah malam-malam!" ujar Bu Eni.
"Lagi tunggu Mas Dicky Bu!" sahut Fitri.
"Menunggu kan bisa di dalam, kamu juga anak kecil! sana masuk!" cetus Bu Eni.
Dara segera masuk ke dalam rumah, dia langsung di temani bermain oleh Bi Sumi.
"Dara main sama Bi Sumi saja ya!" ajak Bi Sumi yang langsung menuntun tangan Dara ke ruang keluarga.
Fitri kemudian juga masuk menuruti perkataan Ibunya.
Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, namun Dicky tak kunjung datang. Fitri mulai gelisah.
"Fit, memangnya biasanya suamimu pulang jam berapa sih?" tanya Bu Eni.
"Tidak tentu Bu, tapi kalau Mas Dicky sudah janji biasanya dia selalu tepat waktu!" sahut Fitri.
"Sudah kau hubungi belum?"
"Sudah Bu, Ponselnya tidak aktif, kalau ibu sudah lapar, makan saja duluan Bu, sama Dara juga Bi Sumi, biar aku yang tunggu Mas Dicky!" kata Fitri.
"Tidak apa-apa Fit ibu makan duluan? Sudah lapar soalnya Fit!" tanya Bu Eni jujur. Fitri menganggukan kepalanya.
****
Kring ... Kring ... Kring ...
Telepon rumah berdering, buru-buru Fitri ke meja telepon dan mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Halo ..."
"Halo, ini dengan Ibu Fitri ya, istrinya Dokter Dicky?"
"Iya, saya Fitri!" sahut Fitri.
"Bu Fitri, saya suster Wina, asistennya Dokter Dicky, saat ini Dokter Dicky sedang ada di UGD, dia baru mengalami kecelakaan lalu lintas di jam 6 sore tadi, kondisinya masih kritis dan belum sadar!" jelas suster Wina.
"A-apa ... Mas Dicky ..." leher Fitri terasa tercekik hingga dia tidak mampu untuk melanjutkan ucapannya.
Namun dadanya bergemuruh dan air matanya mulai mengalir mewakili perasaannya.
"Halo ... Bu Fitri ..." terdengar suara suster Wina dari sebrang telepon.
Namun Fitri sudah tak mampu lagi untuk menjawabnya, tubuhnya lemah, dia lalu bersandar di tembok dekat meja itu.
Bu Eni yang cepat-cepat menyelesaikan makannya langsung menghampiri Fitri.
"Ada apa Fit?" tanya Bu Eni.
"Mas Dicky ... Mas Dicky Bu ..." ucap Fitri tertahan. Kemudian Fitri langsung memeluk ibunya.
"Ada apa dengan suamimu Fit? Katakan pada Ibu!" ucap Bu Eni sambil mengelus punggung Fitri.
"Mas Dicky kecelakaan Bu! Dia ada di UGD sekarang, aku mau ke sana Bu, Mas Dicky membutuhkan aku!" isak Fitri.
"Ya Tuhan, ujian apa lagi yang Kau berikan pada mantu kesayanganku! Sabar Fit, Ibu akan antar kamu ke rumah sakit ya, kita naik taksi saja!" kata Bu Eni.
"Mbak Fitri makan dulu sedikit ya, kan dari tadi belum makan!" tawar Bi Sumi. Fitri menggelengkan kepalanya.
"Mana bisa aku makan Bi, Mas Dicky ku juga belum makan!" sahut Fitri sambil mengusap wajahnya yang basah.
Tak lama kemudian Bu Eni sudah keluar dari kamarnya.
"Ayo Fit, Ibu sudah siap, kau sudah pesan taksi belum?" tanya Bu Eni. Fitri menganggukan kepalanya.
"Bi Sumi, titip Dara ya!" ucap Fitri lirih.
"Iya Mbak, jangan khawatir!" jawab Bi Sumi.
"Hei anak kecil! Kamu di sini ya sama Bi Sumi, mungkin yang terjadi sama mantuku ada hubungannya denganmu!" kata Bu Eni sambil menatap tajam wajah Dara. Dara hanya menunduk takut sambil memegangi tangan Bi Sumi.
Tak lama taksi yang mereka pesan sudah menunggu di depan gerbang, tanpa menunggu lama Fitri dan Ibunya segera naik ke dalam taksi tersebut.
****
Setengah berlari Fitri segera menuju ke ruang UGD. Tanpa bertanya lagi dia langsung masuk.
__ADS_1
"Bu Fitri! Dokter Dicky sedang di tangani oleh Dokter Yudi!" kata Suster Wina yang kebetulan ada di situ.
"Mana Mas Dicky! Aku ... aku mau melihatnya!" seru Fitri.
"Tenang Bu, sabar dulu, sebentar lagi Dokter Yudi keluar, Dokter Dicky masih hidup kok Bu!" ujar Suster Wina berusaha menenangkan Fitri.
Tak lama Dokter Yudi muncul dari pintu ruangan khusus itu. Fitri langsung mendekatinya.
"Bagaimana kondisi suami saya Dokter?" tanya Fitri.
"Saat ini Dokter Dicky masih belum sadar, tulang kakinya patah, lengannya juga geser, ada sedikit pendarahan di kepalanya, juga luka robek di dahinya!" jelas Dokter Yudi.
Fitri menangis mendengar penjelasan Dokter Yudi, dia langsung masuk ke dalam ruangan.
Dicky nampak berbaring lemah dengan banyak alat-alat medis di tubuhnya.
"Jangan di sentuh Bu, saat ini kondisi tubuhnya sedang rawan karena banyaknya tulang yang patah dan retak!" seru Dokter Yudi memperingatkan.
Fitri menangis di sisi ranjang suaminya itu sambil menatap wajahnya.
"Mas Dicky, katanya mau makan ikan balado, sudah siap Mas, aku sudah memasaknya untukmu, bangunlah Mas, bangun ..." tangis Fitri pecah saat itu juga.
Bu Eni mengelus bahu Fitri. Dia juga ikut meneteskan air matanya.
"Kami turut prihatin atas apa yang menimpa Dokter Dicky, padahal dia baru saja menjabat sebagai kepala rumah sakit, siapa sangka, musibah datang menimpanya!" ucap Dokter Yudi yang kini berdiri di ruangan itu.
"Dokter! Kapan suami saya akan sadar?? Kapan Dokter? Saya sangat ingin bicara padanya!" tanya Fitri.
"Kami tidak tau kapan Dokter Dicky akan sadar, saat ini dia masih kritis, kami akan melakukan dengan perlahan, operasi-operasi untuk tulang-tulangnya, kami berharap Dokter Dicky akan segera sadar dan bisa pulih seperti sedia kala!" jawab Dokter Yudi.
Tiba-tiba seorang perawat masuk ke dalam ruangan itu.
"Dokter Yudi, ruangan khusus untuk Dokter Dicky sudah siap!" kata Suster itu.
"Baik suster, Bu Fitri, kami akan memindahkan Dokter Dicky ke ruangan khusus, ruangan yang lebih nyaman, ruangan yang terbaik di rumah sakit ini, kami akan segera melakukan proses pemindahannya!" jelas Dokter Yudi.
Beberapa orang perawat masuk dan mulai melakukan upaya pemindahan Dicky ke ruangan khusus perawatan.
Fitri terus menangis sambil mengikuti ranjang suaminya itu yang di bawa ke sebuah ruangan besar.
"Fitri, kau harus makan, ingat bayi yang ada dalam kandunganmu, Dicky pasti sedih kalau tau kau tidak mengurus bayinya dengan baik!" ucap Bu Eni.
"Tapi Mas Dicky juga belum makan Bu!" kilah Fitri.
"Mana mungkin dia makan, orang kondisinya seperti itu, minimal kau pikirkanlah anakmu!" ujar Bu Eni sambil menyodorkan sebuah Roti.
Perlahan Fitri mulai makan roti pemberian ibunya.
__ADS_1
"Mas, bangun Mas, aku dan Dedek baru makan, kau juga harus makan, perutmu kosong Mas, bangun ..." isak Fitri sambil terus memakan rotinya.
****