
Malam itu, Donny mengajak Anita jalan-jalan dengan mengendarai motor besarnya, mulanya Bu Eni dan Pak Karta tidak mengijinkannya, namun akhirnya mereka luluh juga karena di rumah, Donny risih jika berdekatan dengan Anita, karena ada Bu Eni dan Pak Karta yang mengawasinya, apalagi mereka sudah lama tidak bertemu.
"Pokoknya kalau pulang di atas jam sembilan, Ibu akan lapor polisi!" ancam Bu Eni.
"Ibu tenang saja, kami hanya jalan ke pasar malam kok!" kata Donny.
"Kalian hati-hati ya, ingat cuaca sedang dingin!" ujar Pak Karta mengingatkan.
"Siap Pak! Kami jalan dulu ya!" pamit Donny yang langsung menyalakan motor besarnya dan meluncur meninggalkan rumah itu.
Anita nampak bahagia, dia sama sekali tidak menyangka kalau Donny tidak pernah berubah, walaupun kini Anita tidak bisa bicara, Donny tetap mencintainya.
"Kau peluk pinggangku Ta, supaya tidak dingin!" seru Donny sambil menarik tangan Anita untuk memeluk pinggangnya.
Anita lalu memeluk pinggang Donny, ada rasa hangat dan damai yang Anita rasakan.
Begitu juga dengan Donny, selama ini dia begitu kehilangan kekasih, hingga dia bertemu Fitri, dan melihat sosok Anita dalam Fitri.
Namun kini Anita benar-benar nyata ada di hadapannya, bisa di sentuh dan di peluknya, bukan hanya sekedar bayangan semata.
Tak lama kemudian mereka tiba di pasar malam, pasar malam di desa berbeda dengan di kota, di desa ini pasar malamnya sederhana, hanya ada komedi putar dan aneka jajanan tradisional, di tambah suara alunan musik dangdut yang meramaikan suasana.
Anita terlihat sangat antusias melihat pasar malam, dulu dia dan Donny sering pergi jalan-jalan ke pasar malam atau taman ria, atau ke tepi danau, Donny selalu bisa memberikan rasa bahagia untuk Anita.
"Kau masih ingat ini Ta? Dulu kita suka makan ini!" tanya Donny sambil mengambil dua buah gulali dari penjual gulali yang ada di pasar malam itu.
Anita Menganggukan kepalanya, itu adalah makanan favorit mereka kalau jalan-jalan.
"Ta, aku ada uang tabungan sedikit, nanti kita periksa ke dokter ya, mengenai suaramu, aku sangat rindu sekali mendengar suaramu Ta, aku yakin suaramu akan kembali!" ucap Donny sambil menggenggam tangan Anita.
Anita menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu dia mulai menulis sesuatu di buku hariannya itu, yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi.
Aku juga tidak tau, kenapa suaraku tiba-tiba bisa hilang, aku tidak ingin merepotkanmu, masih bisa melihatmu saja, sudah membuat aku sangat bahagia.
Donny kemudian mulai memeluk Anita di tengah-tengah keramaian pasar malam itu.
Dengan lembut dan perlahan Donny mulai mengecup bibir Anita, rasanya rindu sekali, rasa itu masih sama, tidak ada yang berubah, Anita mulai meneteskan air matanya, Donny malah mengecup kedua mata Anita yang basah itu.
"Aku ikhlas sayang, semua yang ku miliki tidak ada nilainya di banding kehadiranmu dalam hidupku!" bisik Donny.
Anita merebahkan kepalanya di dada Donny, hanya di dada ini semua beban dan kesedihan menjadi lenyap seketika.
"Ta, kita naik komedi putar yuk!" ajak Donny tiba-tiba.
__ADS_1
Dengan semangat Anita menganggukan kepalanya.
Mereka kemudian mulai naik komedi putar, dengan manual di tarik oleh tenaga manusia, mereka mulai menikmati permainan tradisional itu.
"Ta, aku pernah baca di internet, katanya suara yang hilang bisa kembali saat kita berteriak kencang, coba sekarang kau berteriak sekencang-kencangnya!" seru Donny.
Anita mulai membuka mulutnya, dia berusaha untuk berteriak tapi tidak ada suaranya yang keluar.
"Ayo coba lagi! Kau pasti bisa sayang!" ujar Donny.
"Aaa ..." Suara Anita mulai terdengar, namun hanya pendek-pendek.
"Ayo sayang, sekuat tenaga kau coba teriak lagi, aku yakin kau pasti bisa!!" seru Donny bersemangat.
"Aaaaaargghhh!!!"
Terdengar suara Anita yang berteriak lepas. Wajah Donny berbinar senang.
"Aaaaaargghhh!!! Donny I Love You!!" akhirnya terdengar kembali suara yang selama ini hilang dari Anita.
Spontan Donny langsung memeluk Anita.
"Ya Tuhan, kau bisa bicara lagi, suaramu telah kembali sayang!" ucap Donny sambil menangis.
"Donny, suaraku benar-benar kembali! Aku bisa bicara Donny!" seru Anita.
Kembali Donny memeluk kekasihnya itu dengan erat.
****
Sementara itu, di kamar ini, Dicky masih sibuk berselancar di dunia Maya, mencari banyak informasi mengenai pengembangan ilmu kedokteran.
Fitri juga langsung berbaring di sebelah Dicky sehabis menyusui Alex yang kini telah tertidur.
"Mas, tadi Ibu menelepon, katanya Pak Donny sudah sampai di Sukabumi!" kata Fitri.
"Oh, syukur deh!" sahut Dicky yang matanya tetap fokus di layar ponselnya.
"Lho kok cuma begitu responnya!" ujar Fitri cemberut.
"Lalu aku harus bagaimana? Harus bilang Wow gitu??" tanya Dicky yang langsung menoleh ke arah Fitri.
"Yah bilang apa kek, kata Ibu, Pak Donny mau melamar Anita!" sahut Fitri.
__ADS_1
"Apa? Melamar Anita?? Lah, aku jadi saudaraan dong sama dia!" cetus Dicky.
"Memangnya kalau jadi saudaraan kenapa Mas?!" tanya Fitri.
"Ih, geli aku saudaraan sama kampret!" sahut Dicky.
"Mas! Bisa tidak sih kau melupakan kejadian masa lalu?? Lagian Pak Donny bukan sengaja mau mengejar aku, dia hanya melihat Anita dalam wajahku! Kau paham tidak sih!" sungut Fitri.
"Ya, tapi tetap saja, sekali kampret tetap kampret!" sahut Dicky.
"Sekali lagi kau bilang begitu di depanku! Jangan harap aku memberikan kepuasan untukmu!!" cetus Fitri.
Dicky mulai terdiam dan meletakan ponselnya di sampingnya, kemudian dia menatap Fitri.
"Jangan gitu dong Fit, masa cuma gara-gara kampret aku yang kena imbasnya!" keluh Dicky.
"Ya siapa suruh panggil orang sembarangan, dia kan punya nama Mas, memangnya Mas Dicky mau aku panggil buaya??" seru Fitri.
"Yah jangan buaya lah, aku ini kan bukan buaya, masa laki-laki jantan dan ganteng di panggil buaya sih, kau ini keterlaluan juga!" sungut Dicky.
"Nah, berarti kau juga keterlaluan dong sama Pak Donny, masa ganteng-ganteng di panggil kampret!" balas Fitri.
"Stop Fit! Jangan bilang dia ganteng! Cuma aku yang boleh kau bilang ganteng! Ingat itu!" cetus Dicky dengan wajah serius.
"Hmm, dasar Dokter! Maunya menang saja!" sungut Fitri.
Drrt .... Drrt ... Drrrt
Suara ponsel Fitri bergetar, Fitri lalu mengambil ponselnya yang ada di samping bantalnya, lalu mulai mengusap layar ponselnya itu.
"Halo!"
"Halo Fitri! Tebak siapa aku?" tanya suara di seberang.
"Siapa ya? Aku tidak tau, nomornya juga aku baru lihat!" jawab Fitri.
Sementara Dicky menempelkan telinganya di ponsel Fitri, kepo siapa orang yang menelepon Fitri malam-malam begini.
"Aku Anita Fit, Anita saudara kembar mu!"
Fitri membuka mulutnya lebar saat mendengar suara Anita yang sangat jelas terdengar olehnya.
Bersambung ...
__ADS_1
*****