Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kedatangan Dimas Dan Mia


__ADS_3

Dicky kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya, kemudian menyusuri lorong rumah sakit itu, dan kembali ke dalam ruang perawatan Pak Karta.


Dari pintu kaca ruangan itu, Dicky melihat Bu Eni dan Fitri yang sedang mengobrol di dekat pembaringan Pak Karta.


Sementara Pak Karta sendiri nampak masih terbaring dengan lemah, dengan selang Oksigen yang masih menempel di wajahnya.


Dicky bingung harus mengatakan apa kepada Fitri dan Bu Eni, mengenai kesehatan Pak Karta, yang sebenarnya sangat menurun, dengan daya tahan tubuh yang semakin drop, dan tipis kemungkinan untuk sembuh total.


Bu Eni juga terlihat semakin kurus, karena mengurus dan merawat Pak Karta.


Dicky kemudian masuk ke dalam ruangan itu, lalu duduk di samping Fitri.


"Pa, sepertinya malam ini aku menemani ibu menginap di sini, kasihan Ibu Pa, sendirian tidak ada teman mengobrol, boleh ya Pa?!" ucap Fitri.


"Tentu saja boleh sayang, nanti aku akan minta suster untuk menambahkan bed di kamar ini, supaya kau lebih nyaman tidur!" sahut Dicky.


"Lalu bagaimana dengan Alex dan Alena? Aku juga terus terang mengkhawatirkan mereka, Kau pasti akan sangat kerepotan mengurus mereka sendirian!" ungkap Fitri.


"Jangan khawatir Ma, mereka adalah anak-anakku, aku akan mengurus mereka dengan baik, kau di sini saja menemani Ibu dan bapak, saat ini mereka sangat memerlukan mu, urusan anak-anak biar menjadi tanggung jawabku saja!" ucap Dicky.


"Terima kasih ya Pa, kau memang papa yang bijak, suami yang sangat pengertian, aku makin sayang padamu!" kata Fitri sambil mengelus dagu suaminya itu.


Dicky tersenyum manis padanya, seolah memberikan kesejukan dan rasa damai, pada setiap orang yang melihatnya.

__ADS_1


"Nak Dicky, maafin ibu ya nak, Ibu belum bisa berkunjung ke rumahmu dan bermain dengan cucu-cucu ibu, di sini Bapak sangat membutuhkan ibu, sekarang bapak sudah tidak bisa apa-apa, untuk buang air saja dia butuh bantuan, untuk bergerak saja dia tidak bisa!" ungkap Bu Eni.


"Tidak masalah Bu, saya malah merasa terharu melihat ibu, yang dengan tulus merawat bapak, cinta itu bukannya ada di saat senang saja, tetapi di saat seperti ini, itulah pembuktian cinta yang sebenarnya!" ucap Dicky.


Tiba-tiba Dicky teringat dengan perkataan dokter Nani, yang mengatakan bahwa kondisi Pak Karta yang sebenarnya yang terlihat tidak ada masalah, padahal sebenarnya dia dalam keadaan kritis, penyakit dalamnya sudah mulai menjalar dan terjadi komplikasi, Dicky jadi sedih membayangkan apa yang akan terjadi dengan Pak Karta selanjutnya.


Bu Eni tiba-tiba beringsut mendekati Pak Karta, dan duduk tepat di sebelahnya, menggenggam tangannya dan menatap wajahnya.


"Pak, Apa kau tidak ingin mengobrol dengan menantu kesayanganmu ini? Apa kau tidak ingin bermain dengan cucumu? kita datang jauh-jauh loh dari Jogjakarta, Memangnya kau tidak kangen dengan mereka? Ayo pak! Bicaralah dan Buka matamu, Kenapa kau hanya diam saja?!" ujar Bu Eni sambil sedikit mengguncangkan tubuh Pak Karta.


"Sudah Bu, sudah! Kasihan bapak bu, Bapak juga tidak ingin seperti ini, di saat ini harusnya kita selalu ada di sisi Bapak, kita doakan saja biar bapak cepat sembuh Bu, bisa bicara lagi seperti dulu!" sergah Fitri sambil memeluk punggung Bu Eni yang kini mulai bergetar karena menahan isak tangisnya.


Dicky yang tidak tahan melihat suasana haru di dalam ruangan itu, kemudian langsung pamit dan bergegas pergi keluar dari ruangan itu, dia berjalan menyusuri koridor rumah sakitnya yang besar itu, dengan langkah gontai dia berjalan menuju parkiran mobil.


Sepanjang jalan menuju ke rumahnya, Dicky termenung, dia memiliki rumah sakit itu dengan segala fasilitas lengkapnya, Dokter dari ahli penyakit dalam, ahli bedah, ahli kandungan, semua dokter ahli ada di rumah sakitnya itu.


Saat Dicky sudah tiba di rumahnya, sebuah mobil terparkir di halaman depan rumahnya itu.


Dicky segera turun dan langsung masuk kedalam, di ruang tamu itu sudah ada Dimas dan Mia beserta bayi mereka, sedang duduk di ruang tamu itu.


Mbok Jum terlihat sedang membawa satu nampan berisi minuman dan makanan ringan, lalu meletakkannya di atas meja di ruang tamu itu, Dicky langsung berjalan menghampiri mereka.


"Hai Dim, Mia, Ada angin apa kalian main ke rumahku? Ku pikir kalian sudah berpisah!" tanya Dicky.

__ADS_1


"Kau benar bro, aku hampir berpisah dengan Mia, di atas diri kami masih tersimpan ego masing-masing, tapi dari situ kami belajar, bagaimana saling menerima satu dengan yang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangan kami masing-masing!" sahut Dimas.


"Ya memang seharusnya seperti itu pasangan, harus bisa saling menerima dan memberi, syukurlah kalau kalian tidak jadi bercerai, aku senang mendengarnya!" ucap Dicky.


"Oh ya, aku dengar si Ken sepupumu batal menikah? Aku turut prihatin, dan sama sekali tidak menyangka, kalau pernikahan yang sudah disiapkan sedemikian rupa, bisa batal begitu saja!" kata Mia.


"Aku jadi malu, karena ulah si Ken sepupuku itu, kalian jadi menanyakan itu padaku, sudahlah, aku sudah memberi dia pelajaran, si Ken memang brengsek! Belum tahu dia kena batunya!" sungut Dicky.


"Mungkin si Ken itu memang laki-laki bebas, kelihatannya dia memang tidak suka terikat dengan satu ikatan pernikahan, aku bisa melihat dari gaya hidupnya selama ini, walaupun aku tidak terlalu mengenalnya!" timpal Dimas.


"Sudah lupakan saja si Ken! untuk apa kita mengurusinya! Ngomong-ngomong, Ada kabar apa nih kalian mampir ke sini?" tanya Dicky.


"Begini bro, aku kan buka praktek dirumah, tapi belakangan ini aku sepi pengunjung, entah mengapa mungkin banyak orang yang menjaga kesehatan gigi mereka, sehingga jarang orang yang memeriksakan giginya padaku, bolehkah aku bekerja lagi di rumah sakit milikmu Bro?" tanya Dimas.


"Kau ini Dim, Kalau kau mau, kau langsung saja pilih ruangan di rumah sakit, di mana kau mau praktek, begitu saja kok repot! kau jangan sungkan padaku lah, bukankah dari dulu kita berteman!" sahut Dicky.


"Jadi boleh nih, aku praktek lagi di rumah sakit mu? Ya walau bagaimana, aku harus izin padamu lah, kau kan pemilik Rumah Sakit itu sekarang!" ujar Dimas senang.


"Sudah jangan basa-basi, besok langsung saja datang dan buka praktek, paling tidak kau bisa meramaikan Rumah Sakit Ku, biarkan untuk sementara Mia jadi ibu rumah tangga dulu, kasihan bayi kalian masih kecil kalau harus ditinggal bekerja!" ucap Dicky.


"Terima kasih Dic!" Dimas langsung berdiri dan memeluk Dicky dengan erat.


"Jangan peluk-pekuk! Bau keringat ini!" cetus Dicky sambil melepaskan pelukan Dimas.

__ADS_1


Bersambung...


****


__ADS_2